<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<link>http://sukurpalembang.opensuse-id.org</link>
	<description>Belajar Menuju Ke Jalannya</description>
	<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 14:49:02 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>IJTIMA SERPONG 09</title>
		<link>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/08/09/ijtima-serpong-09/</link>
		<comments>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/08/09/ijtima-serpong-09/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Aug 2009 07:25:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palembangopensuse</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Usaha Dawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/08/09/ijtima-serpong-09/</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum warahmatullah..
Bismillahirohmanirohim..
Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa yang Selalu Ingat Akan Sejarahnya &#38; Agama yang Besar Adalah Agama yang Senantiasa Ingat Pada Perilaku &#38; Perbuatan (Sunnah-Sunnah) Pembawanya . Insya Allah…
Kagum, takjub dan masih banyak lagi perasaan yang berkecamuk di hati setiap orang yang menghadiri ijtima serpong pada tanggal 18 – 20 juli 09. Ratusan ribu manusia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><p>Assalamualaikum warahmatullah..</p>
<p>Bismillahirohmanirohim..</p>
<p align="center"><strong>Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa yang Selalu Ingat Akan Sejarahnya &amp; Agama yang Besar Adalah Agama yang Senantiasa Ingat Pada Perilaku &amp; Perbuatan (Sunnah-Sunnah) Pembawanya . Insya Allah…</strong></p>
<p><img src="http://harapandiri.files.wordpress.com/2009/07/dsc_0004.jpg?w=300&amp;h=200" alt="DSC_0004" width="300" height="200" />Kagum, takjub dan masih banyak lagi perasaan yang berkecamuk di hati setiap orang yang menghadiri ijtima serpong pada tanggal 18 – 20 juli 09. Ratusan ribu manusia berkumpul menjadi satu, datang dari seluruh pelosok daerah bahkan tidak sedikit yang datang dari mancanegara. Jelas sekali tampak kehebatan usaha dawah ini. Tanpa gembar-gembor media , tanpa harus memasang spanduk besar di setiap perempatan jalan, tanpa bayaran dan penggalangan dana serta tanpa pengkultusan terhadap individu. Mereka semua datang dengan iklas semata-mata karena Allah , rindu dan haus akan agama. Ratusan kilometer mereka tempuh baik dari darat udara dan laut tanpa rasa lelah, tak terhitung biaya yang mereka keluarkan agar dapat sampai di medan ijtima.</p>
<p><img src="http://harapandiri.files.wordpress.com/2009/07/dsc_00031.jpg?w=300&amp;h=200" alt="DSC_0003" width="300" height="200" />Tidur hanya beralaskan seadanya, ditempat terbuka bahkan terpaan hujan dimalam hari tak juga menyurutkan langkah mereka untuk tetap berada di medan ijtima selama tiga hari. Jutaan air mata dan doa tertumpah dalam ijtima, memikirkan keadaan umat yang telah jauh dari agama ,berharap agar setiap diri mau kembali kepada agama , mau kembali mengambil tanggung jawab atas kerja dakwah sebagaimana dahulu Rasulullah saw dan sahabatnya lakukan. Disini tidak membicarakan perihal dukung mendukung capres , disini pun tidak memikirkan trik-trik agar masuk dalam jajaran pemerintahan karena salah satu tujuan usaha dakwah adalah menghilangkan sikap saling menjauhkan, saling berprasangka buruk , kemunafikan, dan tidak adanya kasih sayang di kalangan umat.</p>
<p><img src="http://harapandiri.files.wordpress.com/2009/07/dsc_0032.jpg?w=300&amp;h=200" alt="DSC_0032" width="300" height="200" />Dalam usaha dawah dan tabligh ada hal-hal yang sangat di tekankan melebihi hal-hal lainnya. Yakni ilmu dan dzikir, agar usaha dakwah ini tidak kembali menjadi jasad tanpa ruh atau sekedar tulisan tanpa penjelasan, atau sekedar kumpulan kaidah dan cara-cara kosong sebagaimana gerakan-gerakan lain yang tumbuh kemudian menghilang. Kerja dakwah dan tabligh sangat berkaitan erat dengan hati, sebagaimana ia juga berkaitan dengan anggota badan.</p>
<p><img src="http://harapandiri.files.wordpress.com/2009/07/dsc_0027.jpg?w=300&amp;h=200" alt="DSC_0027" width="300" height="200" />Sesungguhnya mengorbankan perasaan, diri dan jiwa di jalan Allah adalah pengorbanan yang tidak mahal, tetapi sangat penting dalam gerakan ini. Bahkan itu adalah tujuan yang hendak di capai. <em>Rahmat Allah swt akan turun sesuai dengan kepedihan hati menanggung kesabaran , kesulitan, dan musibah serta menahan perasaan, dan cucuran air mata dalam mengembalikan kesadaran umat Islam tentang tanggung jawab mereka terhadap penyebaran agama.</em></p>
<p><img src="http://harapandiri.files.wordpress.com/2009/07/dsc_0039.jpg?w=300&amp;h=201" alt="DSC_0039" width="300" height="201" />Setiap orang yang berusaha tidak akan berhasil, kecuali usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Keberhasilan itu tergantung pada kesungguhan dalam meraihnya dan <em>Allah swt tidak akan memberikan kebahagian, kedekatan , dan kebaikan di akhirat selama kita belum menempatkan usaha agama di atas usaha dunia</em>.</p>
<p><img src="http://harapandiri.files.wordpress.com/2009/07/dsc_0015.jpg?w=300&amp;h=157" alt="DSC_0015" width="300" height="157" />Setiap muslim sudah seharusnya mengorbankan diri dan harta mereka dalam usaha dakwah tanpa keraguan  karena sesungguhnya <strong>s<em>etiap diri akan merasakan surga dengan segala kenikmatannya sejak didunia ini jika kita menjadikan usaha dakwah ini sebagai maksud hidup dan yakin bahwa sesungguhnya Allah swt tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan</em></strong><em> .</em> <strong><em>Sesungguhnya dibalik kematian di jalan ini ada kehidupan yang hakiki. </em></strong></p>
<p><img src="http://harapandiri.files.wordpress.com/2009/07/dsc_00032.jpg?w=300&amp;h=200" alt="DSC_0003" width="300" height="200" />Rasanya jutaan tulisan tak akan bisa menjelaskan tentang usaha ini tanpa kita sendiri ikut terjun langsung di dalamnya dan menjadikan dakwah sebagai maksud hidup kita.</p>
<p><strong><em><img src="http://harapandiri.files.wordpress.com/2009/07/dsc_0045.jpg?w=300&amp;h=200" alt="DSC_0045" width="300" height="200" />Sesungguhnya semua hubungan itu mati selama tidak berada di bawah kaki Rasulullah saw,  yakni hubungan yang di jalanin bukan untuk panji-panji Islam, maka hubungan itu kosong dari ruh tidak mengandung kebaikan dan keberkahan.</em></strong></p>
<p><img src="http://harapandiri.files.wordpress.com/2009/07/dsc_0006.jpg?w=300&amp;h=200" alt="DSC_0006" width="300" height="200" />Semoga Allah memberi kepahaman tentang masalah ini kepada kita semua sehingga Allah gunakan diri, harta, waktu dan fikir kita untuk agama-Nya, sehingga setiap apa-apa yang ada didalam diri kita menjadi asbab hidayah untuk seluruh alam.</p>
<p><em><img src="http://harapandiri.files.wordpress.com/2009/07/dsc_0011.jpg?w=300&amp;h=200" alt="DSC_0011" width="300" height="200" />Ya Allah !!! Jangan Engkau uji kami dengan ujian sebagaimana para sahabat nabi-Mu</em><em> </em></p>
<p><em>Ya Allah !!! Hantarkan kami ke seluruh alam dengan asbab atau tanpa asbab pada kami.</em></p>
<p><em>Ya Allah!!! Pilihlah kami dalam kerja dakwah sehingga Engkau jadikan dakwah maksud hidup, hidup untuk dakwah, dakwah sampai mati dan mati dalam dakwah.</em></p>
<p><em><br />
</em><em>Ya Allah !!! Hancurkan lah orang yang menjadikan kerja dakwah ini untuk kepentingan dunianya.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Subhanallahi wabihamdika ashaduala ilaha ila anta astagfiruka waatubuhu ilaik’</em><em><br />
Wabilahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakathan lil alamin…</em></p>
<p>NB : Selama ijtima berlangsung dilarang keras mengambil gambar baik gambar mubayin maupun suasana ijtima, berhubung iman saya lemah dan masih belum bisa tertib saya mengambil beberapa gambar, semoga Allah swt memaafkan saya dan memberi kekuatan kepada saya untuk selalu berada di atas tertib , amien.  ( untuk Mas Kunto dan Rio potonya ambil aja di FB gw <img src="http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=")" />  bis gak bisa kirim email gak ngerti )</p>
<p>All Teks From Blog Mas Landy Akbar : http://harapandiri.wordpress.com/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/08/09/ijtima-serpong-09/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>AKBP Drs. Waris Agono, Msi dan Usaha Dakwah</title>
		<link>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/akbp-drs-waris-agono-msi-dan-usaha-dakwah/</link>
		<comments>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/akbp-drs-waris-agono-msi-dan-usaha-dakwah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 13:38:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palembangopensuse</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Usaha Dawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/akbp-drs-waris-agono-msi-dan-usaha-dakwah/</guid>
		<description><![CDATA[NAMA Kepala Satuan Brimobda Lampung AKBP Drs Waris Agono Msi mungkin agak terkesan unik…
Jarang orang bernama Waris, kebanyak adalah Aris. Demikian dengan Agono, kebanyakan Wagono. Namun, rupanya dalam nama ini terkandung arti tersendiri. “Kata orangtua saya artinya anak sederhana,” ungkap lelaki kelahiran Boyolali 28 April 1968 ini.
Selain nama yang unik, Kasat Brimob Lampung ini termasuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>NAMA Kepala Satuan Brimobda Lampung AKBP Drs Waris Agono Msi mungkin agak terkesan unik…</p>
<p>Jarang orang bernama Waris, kebanyak adalah Aris. Demikian dengan Agono, kebanyakan Wagono. Namun, rupanya dalam nama ini terkandung arti tersendiri. “Kata orangtua saya artinya anak sederhana,” ungkap lelaki kelahiran Boyolali 28 April 1968 ini.<br />
Selain nama yang unik, Kasat Brimob Lampung ini termasuk sedikit dari pejabat di kalangan Polri yang fasih berbicara masalah agama. Bahkan bila kita berbincang dengannya terasa ada nuansa agamis yang membuka cakrawala kita bahwa urusan manusia bukanlah masalah dunia, pangkat dan jabatan belaka.</p>
<p>Dan, nuansa agamis pula yang dikembangkannya dalam membina kesatuan, terutama anggota Brimob. “Tak kalah pentingnya adalah kita memberikan makanan ruhani kepada anggota, karena kalau makanan jasmani saja maka akan timbul ketidakstabilan,” ujar Waris.</p>
<p>Disadari akar dari tindakan penyimpangan negatif manusia adalah timbul karena per-soalan moral dan ethika. Makanya, pendidikan moral dan ethika menjadi sangat urgen sekarang ini.</p>
<p>Waris menjadi polisi sudah meru-pakan keinginan sejak masih duduk dibangku SD. Terpikat melihat penampilan pamannya yang gagah dengan uniform Akabri, tertanam dalam diri Waris ingin pula menjadi polisi. Makanya ketika orangtuanya menyuruh dirinya masuk SPG atau SMEA, dirinya bersikukuh masuk SMA. “Lulusan SPG dan SMEA kan nggak bisa masuk Akpol,” bathinnya.</p>
<p>Setamat SMA dia masuk Akpol dan langsung lulus. “Saya memang telah menyiapkan diri.Pagi-pagi disuruh lari sama bapak kos saya itu. Dibangunkan diajak lari-lari, saya pun ikut lari terus kemudian diajari kalau tes jasmani, seperti ini, pisikologi begini-begini diajari sama beliau. Terus kemudian saya mengikuti tes pada saat tes itu saya yakin sajalah.”</p>
<p>Dan Waris benar-benar lulus tanpa didampingi sama sekali. Dia mengaku orangtuanya orang kampung, waktu disodori surat pernyataan kesanggupan mengembalikan biaya apabila meninggalkan pendidikan, ayahnya tak mau tanda tangan. Karena takut dari mana harus mencarikan uangnya nanti. Akhirnya waris mengadu ke ibunya dan akhrinya ibunya yang tanda tangan setelah diubah di formulir.</p>
<p>Sejak lulus Akpol 1990 sampai sekarang Waris melulu tugas di kesatuan Brimob. Mula-mula Danton di Satbrimob Pus sampai menjadi Komandan Kompi di sana, walau sempat diselang-selingi pendidikan PTIK dan KIK UI. Setamat KIK UI, Waris menjadi Dan Yon Sat Brimobda Polda Jawa timur berkedudukan di Malang. Tahun 2005 mengikuti Sespim, setamat Sespim menjadi Kaden A Brimob Polri dan sejak 2007 menjadi Kasat Brimobda Lampung. Sebagaimana galhibnya Brimob, Waris pun kerap mengikuti penugasan operasi. Mula-mula Tahun 1994 Dalam Operasi Pulau Galang pemulangan pengungsi Vietnam di Riau, Tahun1998 Komandan Kontingen ABRI Masuk Desa antar Pulau di Aceh Barat, Tahun 1999 Operasi PPRM di Aceh, 1009 juga Operasi Sadar Renjong Aceh, 2003 Operasi Tegak Rencong, Tahun 2003 Operasi Darmil, 2006 Operasi Mutiara di Maluku, lalu Operasi Perdamaian Poso. Berikut wawancara dengan Waris. Petikannya:</p>
<p>Ada pengalaman yang menarik sewaktu mengikuti operasi?</p>
<p>Banyak. Setiap penugasan punya kesan sendiri-sendiri. Namun yang berkesan sekali sewaktu Operasi Mutiara tahun 2006 di Maluku. Di situ saya bertemu dengan ustad-ustad, kepada saya disampaikan bahwa setiap manusia mempunyai kewajiban untuk berdakwah. Karena itu dulu para nabi diutus berdakwah untuk mengagungkan asma Allah namun karena nabi sudah tidak ada lagi siapa yang akan meneruskan usaha dakwah,yah umat manusia akhir jaman ini.Dakwah dapat dilakukan dengan bermacam-macam.Ustad menawarkan untuk ikut dalam usaha dakwah tersebut.</p>
<p>Apabila usaha dakwah berjalan maka tugas polisi enak, karena tugas ini diemban oleh setiap orang. Bukan ulama saja. Jika setiap orang tidak akan lagi mengenal agama, azab terjadi dimana-mana, bila ada kerusakan maka ini bukan salah siapa-siapa karena manusia tidak punya iman lagi.</p>
<p>Karena ini ada hubungan dengan tugas kepolisian lalu saya bertanya bagaimana tehnik dakwahnya, dijelaskan sama seperti Rasul SAW. Rasul berdakwah tidak minta bayaran tapi mendatangi umat, seperti polisi. Polisi yang mendatangi masyarakat bukan masyarakat didatangi polisi.</p>
<p>Mulaiilah saya tertarik. Apalagi di dakwah ada batasan-batasan yang sama dengan batasan di kepolisian, misalnya tidak bicara politik, tidak bicara aib masyarkat, tidak boleh bicara khilafiyah, lalu mendekati ulama, ahli tasauf dsb.</p>
<p>Berapa lama proses sampai Anda mengikutinya ?</p>
<p>Dua bulan. Sebenarnya saat di Kelapa Dua (Mako Pus Brimob, red) saya melihat jamaah selesai salat membaca hadis tentang keutamaan salat, dakwah baca Al Quran. Menurut saya itu bagus, kemudian di Ternate mulailah saya berjaulah dengan ustad. Saya ikut berpakaian sunnah (gamis, red), orang tidak tahu bahwa saya adalah Kaden Satbrimob. Ternyata bermanfaat untuk tugas kepolisian. Dari sini saya tahu bagaimana citra polisi di lapangan. Informasi yang saya dapat ini saya sampaikan ke bapak Kapolda</p>
<p>Adakah perubahan prilaku dan kebijakan dalam diri Anda kemudian?</p>
<p>Ya. Kita kan belajar, bahwa dalam hadis disebutkan bahwa orang yang kuat adalah orang mampu mengendalikan amarahnya. Saya sempat terkejut dengan bunyi hadis ini. Sebab selama ini kalau lihat anggota yang bersalah langsung saya hantam saja. Nah dengan dakwah ini saya dapat memberikan peringatan dengan lemah lembut. Kalau dulu saya keras kini saya sering ajak anggota salat berjamaah. Yang tidak salat saya tanya masak kita dipanggil komandan cepat, apalagi Allah yang memanggil. Nah dengan cara ini ternyata anggota mendidiknya lebih mudah.</p>
<p>Dan keuntungan lain?</p>
<p>Ada perubahan yang besar dalam diri saya menyangkut keimanan. Saat operasi di Aceh kalau tidak ada keyakinan kepada Allah yang menolong mungkin saya sudah meninggal, karena kita disana sering disanggong, dan saya tidak pakai pakaian anti peluru.</p>
<p>Apakah dakwah ini sejalan dengan tugas ?</p>
<p>Justru ini saya sangat tertarik dengan dakwah ini. Saat saya di Malang mendirikan Polmas kami sendiri yang mendatangi warga dari rumah ke rumah untuk melatih anjing milik warga dengan anjing pelacak herder. Nah tehnik mendatangi warga dari rumah ke rumah adalah tehnik dakwah yang saya ikuti artinya sejalan.</p>
<p>Memimpin Brimobda Lampung ini, apa saja yang Anda lakukan?</p>
<p>Sebenarnya saat saya ditugaskan Mabes di sini, saya bertanya dengan diri saya apakah saya mampu untuk melaksanakannya. Saya salat dan percaya bahwa Allah menolong saya. Saya lalu melakukan audit kesehatan organisasi, terutama kondisi seputar manusianya bagaimana, kemampuannya, disiplinnya, kondisi fisik terutama rohaninya. Saya melihat dalam masalah pembinaan rohani telah berjalan namun hanya membaca yasin kemudian mendengarkan ceramah. Ini lalu kita tingkatkan setiap Jumat anggota kita sebarkan untuk salat berjamaah dengan masyarakat, sehingga tidak ada lagi kesan ekslusif.</p>
<p>Jika satuan itu eksklusif atau tidak mengenal masyarakat ia akan cenderung arogan, merasa paling hebat. Tapi dengan mengenal masyarakat polisi mempunyai akan menjalankan sifat pelindung dan pengayoman. Ternyata tanggapan masyarakat terhadap program ini positif. Dan sebelum di Lampung, program ini sudah dijalankan di Ternate dan juga di Kelapa Dua tanggapan masyarakat pun baik. Jadi yang kita jalankan di sini meneruskannya saja.</p>
<p>Ada umpan balik setelah mereka berbaur dengan masyarakat, misalnya laporan atau sebagainya?</p>
<p>Sebenarnya mereka diberi satu kewajiban untuk mengenal satu orang saat mereka berbaur dengan masyarakat. Dan untuk diingat kegiatan pendekatan diri ke masyarakat juga berlaku juga bagi non muslim, sebagai contoh umat Kristen setelah saat mereka ke Gereja pun harus kenal dengan satu orang itu. Nah, kalau satu tahun berapa banyak dia kenal orang. Sudah mengenal 365 teman. Itu satu detasmen. Jadi tiada hari tanpa kawan baru, itu untuk bidang rohani.</p>
<p>Untuk peningkatan fisik?</p>
<p>Untuk pembinaan fisik dengan bela diri. Saya buktikan di Malang dan Kelapa Dua. Sebab bila setiap anggota memiliki kemampuan bela diri rata-rata sama maka dia mampu untuk ditugaskan kemana saja. Kalau di sini kita memilih olah raga bela diri Tarung Derajat karena ternyata sebelumnya di sini sudah ada, namun belum maksimal pembinaannya. Hanya beberapa personal saja. Maka kita masalkan. Seluruh anggota Brimob ikut. Dan olah raga Tarung Derajat ternyata filosofinya sangat tinggi. Misalnya di sana ditanamkan menghormati orang, walau kita mempunyai kemampuan tapi kita harus bersikap ramah. Aku ramah bukan berarti takut, aku tunduk bukan berarti takhluk.</p>
<p>Bagaimana dengan hasil program selama ini, apa bisa dilihat dari penurunan angka pelanggaran disiplin misalnya?</p>
<p>Saya lihat tingkat kedisiplinan meningkatlah. Fisik juga demikian, dulu waktu saya pertama kali datang bertugas di daerah ini mereka diajak lari, lima belas menit mereka sudah teriak-teriak. Sekarang nggak lagi. Tapi pelanggaran tergantung kita melihatnya. Begini tahun 2006 lalu, banyak yang melanggar namun hukuman belum diberikan sehingga tahun ini kita berikan sanksi, jadi pelanggaran tahun ini terkesan banyak padahal pelanggaran tahun lalu. Kalau ini tidak kita berikan hukuman maka kasihan dengan anggota yang lain. Kita juga memberikan penindakan untuk memperbaiki anggota itu sendiri hukuman ini bukanlah balas dendam, tapi demi kebaikan anggota itu sendiri.</p>
<p>Pelaksanaan Polmas di Brimob bagaimana?</p>
<p>Polmasnya sama sebagaimana kami terapkan di Ternate dulu, Polmas untuk Brimob sudah ada pedoman pelaksanaan Polmas sudah diterbitkan Kakor Brimob dan itu memang berbeda dengan Polmas dengan satuan kepolisian wilayah. Brimob Polmasnya Brimob ikatan regu atau kelompok, Polmasnya wilayah kan sendirian. Makanya dengan digabungnya dengan kegiatan agama itu dia ada posko ditempat-tempat ibadah itu. Kalau poskonya di warga masyarakat kita nggak bisa ngontrol. Dengan kegiatan agama maka dia belajar silaturahmi dari ke rumah-rumah, mengenalkan diri nama. Misalnya nama saya Haris saya dari Masjid Mujahidin Brimob Rawa Laut, saya menawarkan bapak ke mesjid untuk salat berjamaah. Lalau setelah salat diajak ngobrol. Ngobrolnya agama memang awalnya cerita tentang dunia kamtibmas dan bicara agama</p>
<p>Anda sekarang masih menjalani kegiatan dakwah ini ?</p>
<p>Insyaallah masih.</p>
<p>Banyak nggak anggota yang tertarik?</p>
<p>Banyak. Tiap akhir minggu, sebanyak 14 sampai dengan 20 orang kita keluarkan jemaah untuk ikut kegiatan agama bersama santri, anggota masyarakat luar. Jadi tidak untuk anggota kita saja. Dengan demikian masyarakat kenal dengan warga. Kalau kita tanya setelah mereka iktikaf tiga hari itu anggota sudah bisa mengaji salat, pulang lebih santun dan jaringan lebih luas. Nah, bicara jaringan, empat bulan saya di sini jaringan saya sudah banyak, sebab jaringan ini diperoleh dari pendakwah-pendakwah itu, jadi informasi kita lebih banyak Dan untuk diketahui ikut dakwah ini bukan untuk ketenaran dunia. Saya ikut untuk memperbaiki diri saya dan bersilaturahmi dengan warga. Karena janji Allah bagi orang yang bersilaturahmi maka akan dipanjangkan umurnya, diampuni dosa-dosanya, diluaskan rezekinya. Bagaimana tidak panjang umurnya kalau saya saja bertemu dengan Anda bawaannya guyon-guyon, tertawa melulu, nah dengan demikian lupa dengan berbagai masalah-masalah,sebab kita berbicara iman dan amal saleh, tidak bicara kejelekan orang, bicara iman maka iman kita meningkat. Diluaskan rezekinya mana tahu kalau saya bersilaturahmi ke rumah bapak, bapak ada jeruk, apel. Kita tidak berharap demikian namun kita hanya berharap kepada Allah. Lalu diampuni dosa-dosanya, dan ini adalah janji Allah.</p>
<p>Lalu dari visi, misi ini Brimob mendukung?</p>
<p>Ya. Sebab menurut saya pembinaan rohani penting. Bukan hanya pembinaan fisik, administrasi, operasional, jasmani. Rohani paling penting karena kalau orang hanya mementingkan jasmani saja dan tidak memikirkan rohani maka orang tersebut akan bersipat hedonisme lalu materialistis. Tapi kalau kebutuhan rohani telah diberi makan maka tersebut akan pandai bersyukur, Alhamdulillah ada rezeki. Hidupnya akan lebih makmur dan bahagia. Karena bahagia bukan karena jabatan dan harta, kebahagian itu bila seseorang menjalankan agama dengan cara sempurna. Kalau Allah letakkan kebahagian hidup dalam harta maka hanya orang berharta saja yang bahagia. Kalau Allah meletakkan kebahagian dalam pangkat maka hanya orang memiliki pangkat saja yang bahagia yang tidak mempunyai pangkat maka tidak akan bahagia. Kalau rohani polisi tidak kuat maka dia akan mencari tambahan dengan cara melenceng, tapi bila rohaninya kuat maka dia akan cari tambahan dengan cara yang halal. Apalagi polisi ini banyak yang jadi ‘kontraktor’, rumah mengontrak lalu kredit motor. Brimob ditata rohaninya agar menjadi baik. Karena Brimob juga banyak yang ‘kontraktor’,rumah kontrak kredit motor. Hanya 20 persen yang memiliki rumah sementara 80 persen kontrak. Yang menjadi persoalannya, biasanya godaan, karena ada imej masak polisi miskin? Itulah dengan ilmu agama tadi anggota dapat menjelaskan kepada warga bahwa tidak setiap polisi miskin, ada yang kaya mungkin pintar berbisnis, polisi banyak temannya mungkin juga dia dapat warisan dari orang tuanya, atau disokong oleh keluarganya.Kalau ada imej bahwa polisi itu kaya dengan cara yang kurang baik maka itu harus dibuktikan dan kita suuzon lagi.</p>
<p>Dalam beberapa bulan ini, setelah Anda bertugas di sini apakah ada anggota yang berubah prilaku?</p>
<p>Insyaallah ada. Kemarin saya mengajak anggota ikut kegiatan pesantren kilat tiga hari, ada yang berubah prilakunya.Yang merubah sifat ini bukan kita tapi Allah, kita hanya berdoa ya Allah rubahlah sifat si A ini.</p>
<p>Ada yang menolak kegiatan?</p>
<p>Ada. Kita telah memperintahkan tapi dia nolak-nolak begitu. Alasannya istri sakit, padahal istrinya tidak sakit. Tapi begitu dia keluar rumah katanya kepada isterinya dia ikut program agama. Nggak tahunya dia bergaul diluar, timbul masalah, dia dugem.Uang habis nggak mau bayar akhirnya ribut. Diajak ibadah nggak mau tapi maksiat mau akhirnya ketangkap juga. Itulah hukuman yang ditunjukkan Allah, dia mendapat tarbiyah (pendidikan) sendiri.</p>
<p>Anda sendiri mempunyai motto dalam hidup?</p>
<p>Banyak. Saya menerapkan prinsip, tiada hari tanpa kawan baru. Lalu, jiwa ragaku demi kemanusiaan. Dan dalam berbuat saya punya motto, orang lain baru berfikir kami sudah berbuat. Dan, kami juga berprinsip, “Kami bukan yang terbaik, tapi kami akan lakukan yang terbaik.”(*)</p>
<p>Kargozari (Laporan) Karkun Mas Lilik :</p>
<p>http://liliekprasetyowidiyono.wordpress.com/2009/02/19/akbp-drs-waris-agono-msi-dan-usaha-dakwah/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/akbp-drs-waris-agono-msi-dan-usaha-dakwah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah yang memiliki Nur</title>
		<link>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/rumah-yang-memiliki-nur/</link>
		<comments>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/rumah-yang-memiliki-nur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 13:11:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palembangopensuse</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/rumah-yang-memiliki-nur/</guid>
		<description><![CDATA[Ini Muzakaroh dan Nasehat Mas Landy Untuk Saya, Ma kasih Mas  :
Pada musyawarah mingguan Jakarta ( 23/02/09 ) pak Cecep Firdaus kembali menyampaikan pentingnya perkara ijtima dan harapan para masyeikh dengan diadakannya ijtima tersebut. Ijtima adalah pertemuan 2 kerja, yaitu kerja sebelum ijtima dan kerja sesudah ijtima. Harapan / target diadakannya ijtima tersebut diantaranya : [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini Muzakaroh dan Nasehat Mas Landy Untuk Saya, Ma kasih Mas  :</p>
<p>Pada musyawarah mingguan Jakarta ( 23/02/09 ) pak Cecep Firdaus kembali menyampaikan pentingnya perkara ijtima dan harapan para masyeikh dengan diadakannya ijtima tersebut. Ijtima adalah pertemuan 2 kerja, yaitu kerja sebelum ijtima dan kerja sesudah ijtima. Harapan / target diadakannya ijtima tersebut diantaranya : </p>
<p>1.                    Bagaimana setiap masjid hidup amalan agama ( dakwah illallah , taklim wa taklum, dzikir ibadah , khitmad ) </p>
<p>2.                    Bagaimana setiap rumah-rumah umat islam hidup suasana agama.</p>
<p>3.                    Bagaimana setiap individu-individu umat islam mengamalkan agama secara sempurna</p>
<p align="left">Selengkapnya di Muzakaroh Mas Landy Akbar (Karkun Jakarta) : http://harapandiri.wordpress.com/2009/02/24/rumah-yang-memiliki-nur/</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/rumah-yang-memiliki-nur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Kapolda</title>
		<link>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/dakwah-kapolda/</link>
		<comments>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/dakwah-kapolda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 12:46:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palembangopensuse</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Usaha Dawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/dakwah-kapolda/</guid>
		<description><![CDATA[Surabaya - Kapolda Jatim baru ternyata mempunyai instruksi unik untuk anak buahnya. Mantan Kapolda Kalimantan Selatan yang memang dikenal agamis tersebut, menginstruksikan sholat berjamaah bagi seluruh anggota polisi yang berada di wilayah Polda Jawa Timur.Dalam pidato usai pelantikan atas dirinya, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam mengatakan bahwa untuk menciptakan suasana sejuk dan damai di Jawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Surabaya </strong>- Kapolda Jatim baru ternyata mempunyai instruksi unik untuk anak buahnya. Mantan Kapolda Kalimantan Selatan yang memang dikenal agamis tersebut, menginstruksikan sholat berjamaah bagi seluruh anggota polisi yang berada di wilayah Polda Jawa Timur.Dalam pidato usai pelantikan atas dirinya, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam mengatakan bahwa untuk menciptakan suasana sejuk dan damai di Jawa Timur, maka masyarakatnya harus taat beribadah, dan itu dimulai dalam tubuh kepolisian.</p>
<p>“Agar Jawa Timur sejuk, ibadah harus ditegakkan, bagi yang muslim, harus sholat berjamaah,” ujar Anton dalam pidatonya kepada anggota Mapolda Jatim beberapa waktu lalu.</p>
<p>Rupanya instruksi sholat berjamaah tersebut ditindak lanjuti secara serius oleh Anton, hal ini dibuktikan dengan ajakan sholat berjamaah melalui pengeras suara setiap kali waktu sholat di lingkungan Mapolda Jatim. Bunyi ajakan sholat tersebut kurang lebih sebagai berikut.</p>
<p>“Kepada setiap anggota Polda Jatim, sesuai atensi Kapolda, bagi yang beragama Islam, diharap sholat berjamaah di Masjid Nurul Huda (kompleks Polda Jatim) dan tinggalkan segala bentuk aktivitas, tertanda karo ops Mapolda Jatim”.</p>
<p>Ajakan tersebut ternyata sangat berpengaruh, Masjid Nurul Huda kompleks Mapolda Jatim yang biasanya sepi, dari pantauan beritajatim.com tadi siang sewaktu sholat Dzuhur, Selasa (24/02/2009), terlihat penuh hingga ke halaman depan masjid.</p>
<p> 			.gallery { 				margin: auto; 			} 			.gallery-item { 				float: left; 				margin-top: 10px; 				text-align: center; 				width: 33%;			} 			.gallery img { 				border: 2px solid #cfcfcf; 			} 			.gallery-caption { 				margin-left: 0; 			} 		 		<!-- see gallery_shortcode() in wp-includes/media.php --></p>
<p>
<dl>
<dt> 				<a href="http://fajarhargunaep.wordpress.com/2009/03/16/dakwah-kapolda/aluh-aluh11/" title="aluh-aluh11"><img src="http://fajarhargunaep.files.wordpress.com/2009/03/aluh-aluh11.jpg?w=128&amp;h=84" width="128" height="84" /></a> 			</dt>
</dl>
<dl>
<dt> 				<a href="http://fajarhargunaep.wordpress.com/2009/03/16/dakwah-kapolda/kapolda-anton-dalam2/" title="kapolda-anton-dalam2"><img src="http://fajarhargunaep.files.wordpress.com/2009/03/kapolda-anton-dalam2.jpg?w=72&amp;h=96" width="72" height="96" /></a> 			</dt>
</dl>
<dl>
<dt> 				<a href="http://fajarhargunaep.wordpress.com/2009/03/16/dakwah-kapolda/galeri-031/" title="galeri-031"><img src="http://fajarhargunaep.files.wordpress.com/2009/03/galeri-031.jpg?w=128&amp;h=93" width="128" height="93" /></a> 			</dt>
</dl>
<p>
<dl>
<dt> 				<a href="http://fajarhargunaep.wordpress.com/2009/03/16/dakwah-kapolda/kapolda-tausyiah-web21/" title="kapolda-tausyiah-web21"><img src="http://fajarhargunaep.files.wordpress.com/2009/03/kapolda-tausyiah-web21.jpg?w=126&amp;h=96" width="126" height="96" /></a> 			</dt>
</dl>
<p></p>
<p>Tak hanya menginstruksikan sholat saja, Anton juga memerintahkan seluruh anggotanya, baik yang beragama Islam maupun beragama lain untuk meninggalkan aktivitas pekerjaannya sepuluh menit sebelum waktu sholat untuk berbondong-bondong ke Masjid. Sedangkan bagi yang beragama lain, diharapkan untuk berkumpul di suatu tempat dan melakukan doa atau ibadah menurut ajarannya.</p>
<p>Selain perintah sholat, Anton juga memerintahkan seluruh anak buahnya baik yang ada di Mapolda Jatim maupun jajaran untuk melakukan baca Al Quran sebanyak 30 juz (khatam) setiap harinya sehabis sholat subuh.</p>
<p>Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Puji Astuti, Puji membenarkan bahwa instruksi kapolda mengenai sholat dan baca Al Quran tersebut memang sedang giat dilakukan oleh anggota polisi di seluruh jajaran Polda Jatim.</p>
<p>“Ya, kita memang sedang giat menjalankan kegiatan keagamaan,” ujar Puji saat ditemui di Mapolda Jatim jalan A Yani Surabaya, Selasa (24/2/2009).</p>
<p>Instruksi Anton untuk segera meninggalkan aktivitas ketika memasuki waktu sholat tersebut tidak hanya kepada anak buahnya saja, Anton sendiri juga melakukan hal yang sama, ini bisa dibuktikan ketika acara serah terima jabatan sebagai kapolda beberapa waktu lalu, Anton bersama Kapolda lama Irjen Pol Herman S Sumawireja meninggalkan acara sejenak, ketika sudah tiba waktu sholat Ashar dan melaksanakan sholat berjamaah di Masjid Nurul Huda kompleks Mapolda Jatim.<strong>[rif/kun] </strong>Reporter : Arif Fajar A</p>
<p>Kargozari from karkun : Mas Fajar</p>
<p>http://fajarhargunaep.wordpress.com/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/dakwah-kapolda/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Markaz Da’wah Tabligh Seluruh Dunia</title>
		<link>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/markaz-da%e2%80%99wah-tabligh-seluruh-dunia/</link>
		<comments>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/markaz-da%e2%80%99wah-tabligh-seluruh-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Mar 2009 12:42:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palembangopensuse</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Usaha Dawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/markaz-da%e2%80%99wah-tabligh-seluruh-dunia/</guid>
		<description><![CDATA[ABU DHABI
Kaleem Razal, Al-Musaffah, Abu Dhabi. 971-2-721-..
AFGHANISTAN
Haji Md Meer, Sarai Nelam Farrush, Shahbazar, Kabul. 155-23798
AFRICA SOUTH
Markaz, Bait-un-Nur, 17, 11th Avenue Mayfair, Johannesburg. 011-8392633
Kirk St Masjid, 12 Kirk St, 2001 Johannesburg. (G. M. Padia) 27-31-923-841, faks 27-11-852-4011
ALBANIA
Dr Abdul Latif Saleh, Tirana. +355-42-25440/25438
Seshi Avni Rustemi, Tirana. +355-42-23038
Dr Skender Durresi, Tirana. +355-42-32710
ALGERIA
Masjid An-Najah, Al-Mohammedia, Algeria. (Belqasim Merad 213-2-750)
AMERICA
Dearborn [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ABU DHABI<br />
Kaleem Razal, Al-Musaffah, Abu Dhabi. 971-2-721-..</p>
<p>AFGHANISTAN<br />
Haji Md Meer, Sarai Nelam Farrush, Shahbazar, Kabul. 155-23798</p>
<p>AFRICA SOUTH<br />
Markaz, Bait-un-Nur, 17, 11th Avenue Mayfair, Johannesburg. 011-8392633<br />
Kirk St Masjid, 12 Kirk St, 2001 Johannesburg. (G. M. Padia) 27-31-923-841, faks 27-11-852-4011</p>
<p>ALBANIA<br />
Dr Abdul Latif Saleh, Tirana. +355-42-25440/25438<br />
Seshi Avni Rustemi, Tirana. +355-42-23038<br />
Dr Skender Durresi, Tirana. +355-42-32710</p>
<p>ALGERIA<br />
Masjid An-Najah, Al-Mohammedia, Algeria. (Belqasim Merad 213-2-750)</p>
<p>AMERICA<br />
Dearborn Mosque, 9945 West Vernor Highway, Dearborn, Detroit. +1-313-8429000<br />
Markaz New York, 425, Montauk Avenue, Apt. 1, Brooklyn, New York.Markaz, Masjid Falah, 42-12, National St., Corona, New York. (Loqman Abdul Aleem) +1-718-4767968<br />
Abdur Raqeeb, 130, 69th St., Guttenberg, NJ 07093. +1-201-86.. , +1-718-8587168 (faks - Faqir)<br />
Markaz, 820 Java Street, Los Angeles. (dekat Arbor Vitae St.) +1-310-4199177 (Dr Abd Rauf)Farouq Toorawa, Los Angeles. +1-310-6755456<br />
Masjid Al-Noor (Markaz), 1751 Mission Street, San Francisco. +1-415-5528831Vallejo Mosque, 727 Sonoma Boulevard, Vallejo, California. +1-707-6452024<br />
Naser Sayedi, 1777 East West Road, P.O.B. 1703, Honolulu. +1-808-735..L/Cpl Chaudary, Hawaii. +1-808-2575721Islamic Centre, 1935, North Eo Place, Manoa, Honolulu.</p>
<p>ANGOLA<br />
Comunidade Islamica em Angola, Caika Posta 2630, Luano.</p>
<p>ARAB SAUDIA<br />
Abdul Ghaffar Noor Wali, Jeddah. 966-2-6371607<br />
Ghassan 6823041<br />
Dr Ahmad Ali, P.O. Box 22310, Riyadh 11495. 966-1-6023679</p>
<p>ARGENTINA<br />
Ahmad Abboud, Centro Islamico, Av. San Juan 3049/53, Buenos Aires. 54-1-973577</p>
<p>AUSTRALIA<br />
Markaz, 90 Cramer Street, Preston 3074, Melbourne.Sheikh Mo’taz El-Leissy, Melbourne. 61-3-94784515<br />
Markaz, 765 Wangee Road, Lakemba, Sydney. 61-2-97593898<br />
S. Hamid Latif, Lakemba Mosque, 63/65 Wangee Road, Lakemba 2195, Sydney. 61-2-759-3899, 61-3-470-2424<br />
Markaz, 427 William Street, Perth.Abdul Wahab, Perth. 61-9-4596826</p>
<p>AUSTRIA<br />
A. Khaleque Qureshi, Masjid Belal, Diefenbachgasse 12/12, 1150 Wien. 43-1-9387615, 43-1-7366125</p>
<p>AZERBAIZAN<br />
EW S. Uzair M. Ali, Orzhenigidzebskoy, Noboy Gumarbel M3/2F (?)</p>
<p>BAHAMAS<br />
Jamaat ul Islam, P.O. Box 10711, Nassau.</p>
<p>BAHRAIN<br />
A Aziz Baluch, P.O. Box 335, Manama. 953-256-707</p>
<p>BANGLADESH<br />
Maulana A Aziz, Kakrail Masjid, P.O. Ramna, Dhaka. 88-02-239-457</p>
<p>BARBADOS<br />
Maulana Yusuf Piprawala, Kensington New Road, Bridgetown. 1-809-426-8767</p>
<p>NETHARLAND<br />
Moskee Arrahman (Markaz), Van Ostade str. 393-395, 1074 Amsterdam. (Tram no. 4 dari stesen keretapi) (Al-Kabiri) 31-20-764073</p>
<p>BELGIUM<br />
Masjid Noor, Rue Massaux 6, Gemeente Schaarbeek, 1030 Brussels. (Mostafa Nooni) 32-2-219-7847<br />
Masjid Van Slambrouck, Fortuin St. 6, B8400 Oostende.</p>
<p>BELIZE<br />
Md Riaz, 3132 Kraal Road, Belize City.</p>
<p>BERMUDA<br />
Md Mosque, Basset Bldg Court, St. Ram, Hamilton.</p>
<p>BIERA<br />
Omar Osman, P.O. Box 382 (?), Biera. 23260</p>
<p>BOLIVIA<br />
Biab Khalil, P.O. Box 216, La Paz. BX 5418 (teleks)</p>
<p>BRAZIL<br />
A Aziz Alinani, Imam, Centro Islamica, Ax W-5 Norte, Brazil. 55-11-278-6789</p>
<p>BRITAIN<br />
Markazi Mosque, South Street, Saville Town, Dewsbury. (Hafez M Patel) 44-924-460760, 44-924-46685? (faks)<br />
East London Markazi Masjid, 9-11 Christian St, Off Commercial Road, London E1. (Zulfiqar) 44-71-4811294</p>
<p>BRUNEI<br />
Hj Jamili Hj Abbas, 647 Kg Lumapas. 673-8-810480, 673-2-337488. jamil@brunet.bn<br />
Hj Mahadi, Bandar Sri Begawan. 332148</p>
<p>BULGARIA<br />
Mufti Basri Osman, Plovdiv. 359-2-233-109</p>
<p>CHAD<br />
Masjid-e-Noor, Share Namer, N O’Jamina. (Adam Yusuf Amin)</p>
<p>CHECHEN<br />
Dudaeb Shakmarze, Ul. Khakalskaya 90/2/42, Grozni.</p>
<p>CHILIE<br />
Taufiq Rumie, Edwardo Castillo Valesco 1160, Nunoa, Santiago. 56-2-496-081, 56-2-294-182</p>
<p>CHINA<br />
Hilal D. C. Guangyun, V. C., Stand Comm, East Dist. Peoples Congress, ..</p>
<p>DAGASTAN<br />
Habibullah, Sk Mohuddin, village Gubdan, Lewanshowski.</p>
<p>DENMARK<br />
Shehzad Ahmad, Makki Masjid, Brikegade 4 KLD, N Kobenhavn (Copenhagen). 45-43-(35)-361-513<br />
Centre Mosque, Morbaerhaven Block 18 c/4, 2060 Albertslund. 02-454368</p>
<p>DUBAI<br />
Shaikh Hamdan, Masjid al Kasis, Al Kasis No. 3, dekat Umm Kulsum Che..</p>
<p>IRELAND<br />
Masjid, 7 Harringto Street, Dublin.<br />
Dublin Islamic Centre, 163, South Circular Road, Dublin 8.<br />
Md Shigara, 21, Wolseley Street, Dublin 3. 353-1-540-027</p>
<p>ETHIOPIA<br />
M. M. Kechia, Abu Bakr Masjid, Kwas Maida, Addis Ababa. 251-1-130-208, 135-823 (Ibrahim Sufra)</p>
<p>FERRINGI<br />
Abu Bakar Sulil, Masjid Odiveas, Rua Thomas de Anunciacao 30 R/C Esq, Odiveas 2675, Lisboa.</p>
<p>FIJI<br />
Noor Ali, Raki Raki Jama Masjid, P.O Box 15, Raki Raki, Fiji. 679-24440, 679-94002</p>
<p>PHILIPPINES<br />
Masjid Abu Bakar, Marawi City, Lanao del Sur, Mindanao.</p>
<p>FINLAND<br />
Omar Nizamuddin, Puutarhankatu 18A, Helsinki. 358-21-513-572<br />
Masjid, Fredrinkatu 33B, 00120 Helsinki 12. 358-0-643-579, 358-0-149-6395<br />
Masjid, Abrahaminkatu</p>
<p>GAMBIA<br />
Abdul Wadood, Arabic Madrassa, Serekunda.</p>
<p>GHANA<br />
T. Osang, P.O. Box 170A, Rock of Islam Mosque, Labadi, Accra. 233-21-663-443, 665-060</p>
<p>GUINEA<br />
Md Boye, P.O. Box 12294, Barry, Conakary.</p>
<p>GUINEA BISSAU<br />
Abayu Bayo, Jamia Kabir, Bissau.</p>
<p>GUYANA<br />
Azim Khan, 35, Kraig Village, East Bank, Demerara. 592-(02)-62269 (Georgetown)</p>
<p>HONGKONG<br />
Masjid Ammar, 40-01 Kwon Road, Wanch.. 5-892-0720 (Md Qadeem, Zafar 852-3-5-239-975)</p>
<p>HUNGARY<br />
A. Hafez, Flat 9, 84 Linen Kurt, Budapest. 36-1-833-905, 36-1-276-0482 (Babikir)<br />
Dr Izzedin, Estergomiut 56/VII/26, 1138 Budapest.<br />
Ibrahim, Fortuna (hotel murah), Szolgaltaro GMk, 1073 BP, Akacf..</p>
<p>INDIA<br />
Banglawali Masjid, 168 W. Nizamuddin, Basti Nizamuddin, New Delhi. 91-11-494-7137 (faks: Farooq), 617-142 (..)</p>
<p>INDONESIA<br />
Masjid Jamek, 83 Jalan Hayam Waruk, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. (Ahmad Zulfikar) 62-21-821-236, 639-5585, 682-378<br />
Masjid Istiqlal, Jalan Yos Sudarso, Dumai, Sumatra Barat.</p>
<p>IRAN<br />
Al Amir A Roaf, Masjid e Tauhidi, Zahedan.</p>
<p>IRAQ<br />
Sk Kazim, Montaga Buhimania Al Karich, Share Mar’uf, Baghdad.</p>
<p>ITALY<br />
El Amrani, 3231 Via Vanzetti No. 3, Cita di Sudi (Cascino Rosa), Milano. 39-10-952-20?, 39-6-802-258<br />
Masjid, Via Bertoloni 22/24, Roma<br />
Masjid,Via Berthollet 24, Torino<br />
Masjid, Via de Groce 3 (Tingkat 4), Trieste</p>
<p>GIBRALTAR<br />
Masjid Cesemate Sq., Main Street, Gibraltar. 350-73058</p>
<p>JAMAICA<br />
Naeem A. Muta’ali, Muslim Community, 54 Wildman Street, Kingston. 1-809-9283516 (Akbar), 9286789 (Naeem)<br />
Islamic Center of Jamaica, 134 1/2 King Street, Kingston.</p>
<p>JAPAN<br />
Markaz Islaho Tarbiyat (Ichnowari), 1-1-6 Bingonishi, Kasukabe-Shi, Saitama-Ken, Tokyo 334.Ibrahim Ken Okubo, Room 105, Bingo Higashi 1-22-20, Kasukabe Shi, Saitama Ken, Tokyo 344. 0487-36-2767 (tel) 04-8738-0699 (faks)Syed Sohel 04-8736-2767<br />
Masjid Darus Salam, 772, Oaza Sakai, Sakai Machi, Sawa-gun, Gunma Ken.Hafiz Afzal 030-146-1419<br />
Masjid Shin Anjo (Nagoya), Bangunan Kamimoto, Tingkat Satu, 1-11-15, Imaike-cho, Anji-Shi, Aichi Ken. Najimuddin 030-56-32101Nufail 030-56-50432, 056-698-9408<br />
Masjid Takwa (Chiba), Sanbu-Machi, Sanbu-Gun, Ametsubo 65-12, Chiba Ken (dekat stesen JR Hyuga).Lokman 043-444-5464, 030-067-9223Shamin 010-404-4748<br />
Makki Mosque (Narimasu, Tokyo), stesen Narimasu (Tobu line).Asraf 010-609-2479<br />
Markaz Hon-Atsugi (Kanagawa). 0462-27-5936<br />
Islamic Center, 1-16-11 Ohara Setagayu ku, Tokyo 156. 03-7870916, 4606169<br />
Islamic Center, C Hoko Mansion 4-33-10 Kitazawa, Setagaya ku, Tokyo 156.<br />
Nerima K. K. Mati, 1-30-17 Kopsaki 205, Tokyo. 81-3-450-6820, 81-3-553-7665 (Ismail), faks 81-3-458-3967<br />
A. Aziz Mecavale, 175 Kumitashi Cho, Tokyo. (d/a Akarim Seth)</p>
<p>GERMANY<br />
Md. Nawaz, Masjid, Muenchener str. 21, Frankfurt. (06175)1673, (0221)550..<br />
Md. Nawaz, Berliner str. 31, 6374 Steinbach. (06171) 75360<br />
Barbaros Gamii (masjid), Kyffhavser str. 26 (dekat Barbarossa Platz), 5 Koeln 1 (Cologne). (Husseinbeg Firat 467477, Zia) 0211-213870<br />
Masjid, Lindower str. 18-19, 1000 Berlin 65. (030) 4617026<br />
Masjid, Landwehr str. 25, Muenchen (Munich). (dekat stesen keretapi)<br />
Masjid, Steindamm, Hamburg. (dekat stesen keretapi)<br />
Masjid, Haupsletter str. 715, Stuttgart. 0711-6406775</p>
<p>JIBOUTI<br />
Salem Ahmad, Deeday Masjid, P.O. Box 730, Djibouti. 253-762-189, 5818 FIANEA (teleks)</p>
<p>JORDAN<br />
Md Mustafa Al Wafai, Masjid Madeenat al Hujjaj, Mukhayam Het.. 962-6-774-257</p>
<p>KAMEROON<br />
Osmany c/o Alhaj Md, P.O. Box 19, Marwah.237-291-5..</p>
<p>CANADA<br />
Medina Masjid, 1015 Danforth Ave., Toronto. (Ismail Patel / Anjum Mohammad)1-416-465-7833.</p>
<p>KAZAKHASTAN<br />
Baba Khanov, Muslim Religious Board of Central Asia, Alma Ata.</p>
<p>KENYA<br />
A. Shakoor, Londi Mosque, sebelah balai polis Kamakunsi, Nairobi. 254-2-764-224, 254-2-340-965</p>
<p>KIBRIS<br />
Ahmet Cetkin, Harika Camii, Palamud Sok No. 11, Asa Marao.</p>
<p>SOUTH KOREA<br />
Imam Qamaruddin, Masjid Annur, GPO Box 10896, Seoul. 82-2-556-…</p>
<p>COSTA RICA<br />
Mostafa Md Imam, Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose. 506-272-878</p>
<p>KUWAIT<br />
A Rashid Haroon, Subhan Markaz, Al Mantiga Sinaere, Kuwait.</p>
<p>LAOS<br />
Maulana Qamaruddin Noori, Masjid India, P.O Box 617, Vientianne. 3776..</p>
<p>LIBERIA<br />
S M Azmat Subzwari, Randall Street Mosque, Monrovia. 231-225-0..</p>
<p>LIBYA<br />
Mustafa Kuraitty, Jame al Badri, Bab bib Ghasher, Tripoli. 218-61-72138..</p>
<p>LEBNON<br />
A Hasib Sar Hal, Imam Ali ut Tariq Jadidah, dekat Madrasah Farooq, Beirut.</p>
<p>LUXEMBURG<br />
Islamic Centre, Route Darlon 2, Mamar. (S. B. Khan Afridi) 352-311-695..</p>
<p>MADAGASKAR<br />
Yakub Patel, P.O.Box 101, Tamatave. 261-5-33202</p>
<p>MOROCCO<br />
Alhaj Ali, Masjid en Noor, Hayya Araha 61, Darul Baida, Casablanca. 212-366-483..</p>
<p>MALAWI<br />
Ebrahim Makda, Juma Masjid, Kamuza Proc. Road, Lilongwe. 265-720216</p>
<p>MALAYSIA<br />
Masjid Jamek Sri Petaling, Bandar Baru Sri Petaling, Kuala Lumpur. 60-3-9580515. 60-3-7595063 (Madrasah Miftahul Ulum). 60-3-7586134 (faks: Hj Khalid)<br />
Abdul Wahid, Kota Kinabalu. 088-232994 ®, 088-225081 (o).</p>
<p>MALDIVE<br />
Ibrahim Hassan, G. Aabin, Male Island.</p>
<p>MALI<br />
Ismail, Markaz Haidara, P.O. Box 1551, Bamako. 223-22-22..</p>
<p>Malta<br />
Md El Sadi, Islamic Centre, Corradino Road, P.O. Box 11, Paola, Malta. 356-772-163..</p>
<p>MAURITIANA<br />
Daud Ahmad, Masjid Shurfa, P.O. Box 14, Nouakchott.</p>
<p>MAURITIUS<br />
Masjid Nur, Gora Issac St., Port Louis. 230-2424904<br />
Mir AM Soorma, Shaukat Islam Mosque, P.O.Box 328, Port Louis. 230-26..</p>
<p>MEXICO<br />
Mir Y Ali, Norte 40A, No. 3612A, Col 7 de Noviembre, Mexico DF.. 537-1138</p>
<p>EGYPT<br />
Masjid Anas bin Malik, Madinatul Muhaddithin, Share Iraqu Giza, Cairo. 20-2-702-804, 20-2-348-6185</p>
<p>MOZAMBIQUE<br />
Md Rafiq Ahmad, Av Dazambia 305, I C Flat 4, Maputo. 258-2378..</p>
<p>MYANMAR<br />
B. A. Ground Mosque, dekat stesen keretapi Rangoon. 95-1-74436, 3100 (Bhay)</p>
<p>NEW ZEALAND<br />
Abdul Samad Bhikoo, Auckland Mosque, 17 Vermont Street, Ponsonby, Auckland. 64-9-3764437<br />
Masjid AnNur, Christchurch. 64-3-3483930<br />
Ishan Othman, Dunedin. 64-3-4767121</p>
<p>NIGER<br />
Yahya Sa’ati, Sooq al Kabir, dekat Mohatta Sayarat, Niamey.</p>
<p>NIGERIA<br />
Hamza Oshodi, Central Mosque, 37 Church Road, Saban Gari, Kano. 47-2-9883..</p>
<p>NORWAY<br />
K. M. Riaz, Bilal Masjid, Tordenskjolds Gt. 86, 3044 Drammen. 47-2-9883-..<br />
Islamic Centre, Nosdahlbruns Gt. 22, Oslo 1.</p>
<p>OMAN<br />
Masud Harthi, Jame Khalid ibni Walid, Assib, Muscat. 92-21-415..</p>
<p>PAKISTAN<br />
AlHaj A. Wahab, Madrassa Arabia, Raiwind, Lahore. 92-21-415.., 92-21-216..(faks)<br />
Makki Masjid, Garden Road, Karachi.</p>
<p>PANAMA<br />
A F Bhikoo, Jama Masjid, 3rd Street &amp; Mexico Avenue, Panama City. 517-256-44..</p>
<p>PANTAI GADING<br />
Md Amin (Jallo), Masjid Ahlesunnah, P.O. Box 110, Danane. -(225)-635-320 (Boike town)</p>
<p>ILLIONIS<br />
Sh. Yunus Tlili, Masjid Rahman, Ave. Paul Vaillent Couturier 52, 93200 St Denis. 33-1-48.23.78.89, 48.26.78.78<br />
Markaz Marseille, Rue Malaval 24, 13002 Marseille. 91908047</p>
<p>PERU<br />
Naguib Atala, Casilla 3134, Lima. 51-14-294-620</p>
<p>POLAND<br />
Yakub, ul. Piastowska 77, Bialistok.<br />
Masjid, ul. Abrama 17A, Gdansk.<br />
Boguslaw Zagorski, ul. Rozlogi 6 Apt. 51, Warszawa (Warsaw).</p>
<p>PUERTO RICA<br />
Arab Cultural Club, Km 5, KMO 65th Inf Ave, Rio Piepras, PR0092.</p>
<p>QATAR<br />
Abdullah Ahmad, Masjid Mantaya Sanaiya, P.O.Box 40621, Doha.</p>
<p>REUNION<br />
Yusuf Lockati, Masjid Nurul Islam, 97400 St Denis. 262-200..</p>
<p>ROMANIA<br />
Masjid, Ovidiu Square, Constanta.</p>
<p>RUSSIA<br />
Masjid, Prospect Mira (dekat Olympic Station), Moscow. 281-4904<br />
Sayyid Akhtar, Moscow. sar_bob@hotmail.com</p>
<p>RWANDA<br />
A Majid Suleman, Medina Masjid, Kegali. 250-7536</p>
<p>SENEGAL<br />
Sk Ahmad, Masjid Al Noor, P.O. Box 1955, Colobane, Dakar. 221-223-262</p>
<p>SIERRA LONNE<br />
Hassan Taravaly, 4 Rush Street, Circular Road, Freetown.</p>
<p>SINGAPORE<br />
Masjid Angulia, Serangoon Road. 02-2971624<br />
Hj Jufri, Block 210 #07-91, Tapines Street 23. 02-7832358<br />
Hj Hassan 02-4442312<br />
Najmuddin 02-2914742<br />
Abdul Karim 02-4439294</p>
<p>SOMALIA<br />
S Sheraff, Masjid e Dawat, Magaiscia. 252-1-81963</p>
<p>SPAIN<br />
Musa Taha, Mezquita Ataqua, Calle Correo Viejo - 4, Albaicine, Granada. 34-58-255-611</p>
<p>SRILANKA<br />
Tablighi Markaz, 150 Lukmanjee Sq, Grandpass Rd, Colombo. (Md Lebbe Master) 94-1-25910</p>
<p>SUDAN<br />
Dr D H Khalili, Masjid Hamddab, Ash Shaharah, Khartoum. 249-11-222428</p>
<p>SURINAM<br />
Mufti B Piprawala, Masjid Taedul Islam, Mutton Shop 10B, Paramaribo. 597-81394</p>
<p>SWAZILAND<br />
Md Hassan, P.O. Box 201, Maikerns. 83327</p>
<p>SWEDEN<br />
Markaz, Tarsgatan 91, Stockholm. 46-8-334-490 (A Raof), 46-8-750-8511 (S Zaidi)<br />
Dr M Piar Ali, Tarsgatan 45B, Stockholm<br />
Tonsbergsgatan 4, 3TR, 16434 Kista. 46-8-719-3215 (P Ali)<br />
Masjid, Gamlagatan, Uppsala. 46-18-21998281</p>
<p>SWITZERLAND<br />
Hussain Osmani, Muslim Association, 2-A Linderain str Post F 1650, 30012 Berne. 41-31-228-396, 556-321<br />
Masjid, Chemin Colladon 34, Petit Saconnex, Geneva. (Tram no. 12) 7987311<br />
Islamic Center, Narstr. 19, Zurich.<br />
Masjid, Tingkat 3, Ausstellungstr. 21, Zurich.</p>
<p>SYRIA<br />
A M M Hosni, Razaqul-Jin-Sary, Zaid b Sabit, Merchant Modaiya, Damascus.</p>
<p>SHARJAH<br />
Ali Bhai Patel, Al Futiaim Motors, P.O. Box 5819. 971-6-548-629</p>
<p>TAZAKISTAN<br />
A Rahim Mostafa, Masjid Shah Mansoor, ul. Wasfe, Dushanbe.</p>
<p>TAIWAN<br />
Chinese Muslim Association, 62 H’sin Shen South Rd, Sec 2, Taipeh. 886-2-522-4473<br />
Nurrdin Hsueh Wen Ching, P.O. Box 1430, Kaohsiung. 886-7-7498749, 886-7-5215771</p>
<p>TANZANIA<br />
Sayed Mohsin, Medina Masjid, P.O. Box 5050, Dar es Salam. 255-61-26455</p>
<p>THAILANH<br />
Hanif A. Shakur, Masjid Aslam, Bangkaoli, Bangkok. 662-235-3956..<br />
Markaz, Minburi. (30 km dari pusat Bangkok)<br />
Markaz, Yala.</p>
<p>TOGO<br />
Imam Ratib, Sk Al Hassan, Grand Mosque, Zongo, Lome.</p>
<p>TRINIDAD<br />
Raziff Ghany, Monroe Road Masjid, Monroe Road, Cunupia. 809-650-1985</p>
<p>TUNISIA<br />
Mestaoui Habib, 28 Rue Ibn Khaldoun, Ben Arous, Tunis. 216-1-380-843</p>
<p>TURKEY<br />
Umar Vanlioglu, Mescidi Salam, Sultan Ciftligi, Habibler Koyu, Istanbul. 90-1-3854053, 90-1-5951773, 90-1-5054619 (faks: C. Korkut)</p>
<p>TURKEMINISTAN<br />
Uraz Murod, Uraz Md, Haji Noor, Masjid, Ashkabad.</p>
<p>UGANDA<br />
Omar Mazinga, Masjid Nur, William St., P.O. Box 2046, Kampala. 256-41-246-63..</p>
<p>UZBEKISTAN<br />
Murad, Madrassa Mir e Arab, Bukhara. 42170<br />
Imam Mustafa Khul, Samarkand, 353268<br />
Ziauddin, Idara Diniyat, Tashkent. 351307</p>
<p>VENEZULA<br />
Farooq A Rahman, Islamic Center, Calle-9, Urb La Paz, El Paraiso, Caracaz. 58-2-498322?</p>
<p>VIETNAM<br />
M. Zakaria, Mutawalli Mosque, 66 Tnilap Thanh, Saigon.<br />
Masjid Annur, 12 Hang Luoc street, Hang Ma ward, Hoan Kian precinct, Hanoi.<br />
Ustaz Muhsin, Madrasah Arabiah, 25A Lang Ha street, Hanoi.</p>
<p>YEMEN<br />
Hamood Faki, Masjid As-Sawad, Al Habbah Annagal St, Al Harabi, Sana’a. 967-2-227-246</p>
<p>YUGOSLAVIA<br />
Jusufspabic Md., Jevremova 11, 11000 Belgrade. 38-11-642-043, 622-654</p>
<p>GREECE<br />
Greece Markazi Masjid Rassos, 9 Galaxia Strape (dekat Kosmos), 117/45 Athens.<br />
Munir Mahmud, G. Papandreau 87, Goudi, Athens. 30-1-775-8155, 30-531-24863 (Hussein Mostafa)</p>
<p>ZAIRE<br />
A. M. Patel, 39 Mama Yemo, P.O. Box 155, Likasi. 243-12-28272</p>
<p>ZAMBIA<br />
Ahmad Nomani, P.O. Box 510191, Chipata. 260-62-21161<br />
Ahmad Karodia, Md Ravat, P.O. Box 30324, Lusaka. 260-1-212-023</p>
<p>ZIMBABWE<br />
Y. Hussain, Ridgeview Masjid, Boeing Road, Ridgeview. 263-4-292..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/22/markaz-da%e2%80%99wah-tabligh-seluruh-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>9 Target Da&#8217;i Selalu Jadi Target Spam</title>
		<link>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/03/9-target-dai-jadi-selalu-jadi-target-spam/</link>
		<comments>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/03/9-target-dai-jadi-selalu-jadi-target-spam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 12:51:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palembangopensuse</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Usaha Dawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/03/9-target-dai-jadi-selalu-jadi-target-spam/</guid>
		<description><![CDATA[Palembang, 3 Maret 2009. Malam ini coba buka blog ada 3 koment dan anehnya ada 1 koment yang merupakan spam dan yang mendapatkan spam itu postingan saya disini http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/01/04/9-target-dai/  , saya juga merasa heran sudah sangat sering sekali postingan ini selalu dibanjiri spam. Saya pikir pelakunya orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan benci kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Palembang, 3 Maret 2009. Malam ini coba buka blog ada 3 koment dan anehnya ada 1 koment yang merupakan spam dan yang mendapatkan spam itu postingan saya disini <a href="http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/01/04/9-target-dai/">http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/01/04/9-target-dai/</a>  , saya juga merasa heran sudah sangat sering sekali postingan ini selalu dibanjiri spam. Saya pikir pelakunya orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan benci kepada Allah SWT dan orang itu saja yang melakukannya. Saya doakan semoga anda sang pengirim spam mendapatkan hidaya dari Allah SWT dan bisa aktif dalam usaha dakwah ini dan dia bisa korbankan harta diri dan waktunya untuk agama Allah SWT. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/03/03/9-target-dai-jadi-selalu-jadi-target-spam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Download Bayan Masyech dan Maulana pada Ijtima Tongi 2009</title>
		<link>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/download-bayan-masyech-dan-maulana-pada-ijtima-tongi-2009/</link>
		<comments>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/download-bayan-masyech-dan-maulana-pada-ijtima-tongi-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 01:43:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palembangopensuse</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Usaha Dawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/download-bayan-masyech-dan-maulana-pada-ijtima-tongi-2009/</guid>
		<description><![CDATA[http://www.banglakitab.com/ijtima.htm
http://miahbai.multiply.com/journal/item/9/BANGLA_WAAZ_ISLAMIC_BOOKS
Artikel lain di    http://www.network54.com/Forum/167338/thread/1013232550/last-1013232550/Ijtimak+Tabligh+ke-37
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>http://www.banglakitab.com/ijtima.htm</p>
<p>http://miahbai.multiply.com/journal/item/9/BANGLA_WAAZ_ISLAMIC_BOOKS</p>
<p>Artikel lain di    http://www.network54.com/Forum/167338/thread/1013232550/last-1013232550/Ijtimak+Tabligh+ke-37</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/download-bayan-masyech-dan-maulana-pada-ijtima-tongi-2009/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Keeping Busy On the Path of Allah The Self-Organisation (Intizam) of the Tablighi Jama&#8217;at</title>
		<link>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/keeping-busy-on-the-path-of-allah-the-self-organisation-intizam-of-the-tablighi-jamaat/</link>
		<comments>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/keeping-busy-on-the-path-of-allah-the-self-organisation-intizam-of-the-tablighi-jamaat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 01:36:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palembangopensuse</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Usaha Dawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/keeping-busy-on-the-path-of-allah-the-self-organisation-intizam-of-the-tablighi-jamaat/</guid>
		<description><![CDATA[In recent years the Islamic missionary movement of the Tablighi Jama’at has attracted increasing attention, not only in South Asia, but around the globe. This is partly to do with the huge number of followers assembling at its annual congregations in India, Bangladesh or Pakistan, often counting between one and two millions. This attention is [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>In recent years the Islamic missionary movement of the Tablighi Jama’at has attracted increasing attention, not only in South Asia, but around the globe. This is partly to do with the huge number of followers assembling at its annual congregations in India, Bangladesh or Pakistan, often counting between one and two millions. This attention is also generated by the fact that traditional Islam did not know an organised proselytising movement until the Tablighi Jama’at was formed. The by now global network of its activities is another instance where Southasian Islam has contributed to the evolution of global Islamic activism.</p>
<p>While their congregations - <em>ijtima</em> - create much publicity and the groups of their travelling preachers are widely known and recognised among Muslims, little is known outside the movement about the way it operates on a daily basis, how it organises its activities on a mass scale. This self-organisation in daily parlance is called <em>intizam</em> (administration). But in writing it is rarely admitted to exist. The current paper is based on interviews with informants in Aligarh, Bhopal and Delhi in December 2001 - January 2002, unless mentioned otherwise. It seeks to highlight the practical dimensions of the Tabligh work which is rarely documented in academic publications. So far mostly the hagiographic and propagandist literature of the movement has served as the basis for analysis (Anwarul Haq 1972; Masud 2000). The movement has often successfully deflected investigative attempts by non-Muslim scholars. However, lately the number of case studies has increased. They concentrate on the movement’s transnational activities in countries such as Bangladesh, Britain, and Morocco (Yoginder Sikand 2002; Faust 2001); or on local branches such as in the Indian state of Orissa (Zainuddin 2001). The internal workings of the Tablighi Jama’at still await definitive treatment.</p>
<p>The philosophy of the movement has been discussed in the academic literature extensively. It is summarised in the famous six points, demanding to focus attention on (1) the confession of faith by reciting the <em>kalima</em>; (2) praying regularly and correctly (<em>salat</em>); (3) acquiring religious knowledge and remembering God (<em>ilm</em>, <em>zikr</em>); (4) respecting fellow-Muslims (<em>ikram</em>); (5) reforming one’s inner self through pure intentions (<em>niyyat</em>) and (6) going out in the way of God (<em>nafr</em>) (Faridi 1997: 114-116).</p>
<p>The movement’s self-declared objective is the so-called internal mission, to make Muslims better Muslims, as the Tablighis say. It strongly denies any political ambitions. Yet its efforts to ‘re-islamize’ large numbers of Muslims cannot but have political consequences if only by providing a fertile ground for the activities of Islamic political parties and radical or militant groupings. The movement is pre-dominantly male-oriented, although it does organise women’s activities on a limited scale in ways strictly conforming to prescriptions of dress and modesty by Islamic law. Women’s activity may partly be regarded as emancipatory, if compared with traditional gender roles in South Asia or in other Islamist movements (See Barbara Metcalf in: Jeffery, Basu et al. 1999; Masud 2000).</p>
<h2>The travelling preachers</h2>
<p>The Tablighi movement came into being in 1926 when Muhammad Ilyas (1885-1944) started preaching correct religious practices and observance of rituals to Muslim tribes in the region of Mewat around Delhi (Cf. Mayaram 1997). In this Ilyas joined other Muslim activists and groups who opposed the Arya Samaj preachers since the early 1920s. The area had become a battle ground for the souls of the local tribal population whose ancestors had converted from Hinduism to Islam. Since then the tribesmen had retained a number of earlier non-Islamic customs. The reformist Hindu movement of the Arya Samaj aimed at reclaiming these tribes for the Hindu faith into which they would be readmitted after ritual &#8220;purification&#8221; - <em>Shuddhi</em> - the name by which the campaign became known. Contacting local elders, Ilyas aimed at reorganising the religious and social life of the tribals creating new facilities for religious education and improving social communication through regular council meetings in villages. His main innovation, however, pertained to the introduction of travelling lay preachers who were being dispatched to other Muslim regions in India. Their objective was twofold: the participants should reform themselves on these tours and they should carry the faith to other fellow-Muslims who so far had remained passive or disinterested in the observance of religious practices. Those preaching tours became the hallmark of the Tablighi movement. Today Tablighi lay preachers practically cover the whole Islamic world and all western countries where Muslims live.</p>
<p>The groups are formed at the local Tablighi centre which is usually attached to a Deobandi mosque or madrasa. Starting with Ilyas’ personal association with the Dar al-Ulum of Deoband, the movement has been supported by religious scholars, <em>ulama</em>, propagating the purist teachings of this seminary located in the north Indian state of Uttar Pradesh (U.P.) (Metcalf 1982). The Tablighi movement also kept close contact with the Nadwa seminary from Lucknow, the capital of U.P. (Malik 1997). Lists of volunteers are being kept at the Tablighi centres where destinations and routes of preaching groups are decided and reports are submitted afterwards.</p>
<p>The groups are expected to take care of their own travel expenses. This condition puts a ceiling on the travelling ambitions of some members as groups may travel to other countries and even continents. Yet there has always been some speculation that part of the travelling expenses, as well as of the cost of running the organisation, is borne by unnamed benefactors who may be private citizens from the business community, but also from sympathetic countries such as the Gulf States.</p>
<p>The association of followers with the movement is mostly a temporary one, lasting for the duration of the particular preaching tour. Those counted among the regulars would spend three days or more per month on Tabligh activities. Regulars would make up between 10 and 25 % of Tablighi followers. Some give up their worldly pursuits entirely to spend their life in the service of the movement, either at its administrative and religious centre, the &#8220;Bungalow Mosque&#8221; in the Nizamuddin area of Delhi or at some local centre. They would lead a pious and ascetic life not dissimilar to the Hindu holy men, living on donations by family members or fellow Tablighis. This may occasionally create problems for the families of these lifetime Tablighis who lose their bread-winner. It is therefore officially discouraged but occasionally condoned.</p>
<p>The travelling groups would usually arrive at a local, mostly Deobandi mosque. There they would stay for two to three days and sleep inside the mosque - which is a practice not fully accepted by all <em>ulama</em>. They always are self-sufficient with their bedding and cooking utensils which they carry with them. After prayer they go out and tour the local Muslim community. They knock on doors of most houses to invite people to come for the next prayer to the mosque. While responses vary, between 2 and 10 % of those approached may turn up at the mosque out of which some might have come anyway to say their regular prayer there. After a joint prayer they are given an inspirational religious talk (<em>bayan</em>), reciting religious principles, instances from the Quran and the Prophetic traditions (<em>hadith</em>). Usually a session of religious education follows (<em>ta’alim</em>). This consists of reading from a book written by one of its founding fathers, Maulana Muhammad Zakariya (1898-1982), &#8220;The Virtues of Good Deeds&#8221; (<em>Faza’il-A’mal</em>), which the movement has adopted as standard educational reference material (Zakariya, 1994). It presents a compilation of religious texts, mainly Prophetic traditions. Then those present are called upon to volunteer for future preaching tours (<em>tashkil</em>). People stand up and give their name and local association which is being noted down in a special register or book kept at the mosque. Later the new volunteers will be taken up on these pledges and reminded to live up to them. When the group returns to its home base it will report to the local Tabligh centre either in oral or written form (<em>karguzari</em>).</p>
<p>Derived from the travelling practice as its main form of activity, the official arrangements for the work of the movement are kept deliberately provisional and temporary. It is part of the self-image of the movement that it is wholly based on voluntary work with little or no administrative input. The movement keeps no official publications, no formalised leadership structure, no written set of rules or objectives. Yet this self-representation carefully camouflages a different reality of a highly hierarchical leadership which exerts significant moral and social pressure for compliance, a reality that comprises a wide range of unofficial publications detailing the guidelines and the rules by which the work has to proceed, a reality that includes a differentiated and well-defined administrative structure. There is an unwritten constitution of the movement that determines in great detail what issues are confronted in what way and how the work, that is organising the preaching tours, is being conducted, how new members are being attracted and how issues of leadership and guidance are being solved.</p>
<h2>The congregations</h2>
<p>Next to the preaching tours, its congregations (<em>ijtima</em>) constitute the most well-known feature of the Tablighi movement. They are of various scope: local, regional, national or international/global. A sub-variety is constituted by student or youth <em>ijtimas</em>. On one side they take up the tradition of the weekly Friday prayer congregation at the local mosque, on the other they represent a kind of community ‘orientation’ meeting, which perhaps has grown out of the initial local community meetings in Mewat with religious scholars and tribal elders.</p>
<p>Basically their programme closely follows the itinerary of the preaching tours, consisting of joint prayers, inspirational talks, readings from the Zakariya volumes, calls for volunteers to register for future preaching tours, and in addition a concluding prayer of supplication (<em>du’a</em>).</p>
<p><em>Ijtimas</em> are being held regularly on fixed days at the local Tabligh centre, usually once a week. They are held at or around prayer times to induce the faithful of the area who come to the mosque for prayers to participate in the Tabligh meeting as well. These <em>ijtimas</em> facilitate social communication and networking among followers.</p>
<p>From these, the grand national meetings stand out in a category of their own. The annual congregations of the Tablighis in Bangladesh, India and Pakistan are remarkable for the huge numbers they attract and the amount of publicity they generate, among the local population, but also on a wider scale in national newspapers and international media. Tablighis use to stress that these meetings represent the second-largest congregation of Muslims after the Hajj. Reports assume that up to two million people participate in the Bangladesh meeting in Tongi, between one and one and a half million in India and Pakistan each. The latter usually takes place at Raiwind, the location of the Pakistani centre of the movement near Lahore. In India, major annual congregations were held at different places, although now they seem to have settled on the longstanding Bhopal <em>ijtima</em>. For about 50 years it was held at its huge mosque Taj ul-Masajid (crown of the mosques) but has shifted recently to open fields outside the city for want of space. The congregations seem to be important venues for mobilising support not only among Muslims, but also among Non-Muslims and secular elites, notably politicians. The Presidents and Prime Ministers of Bangladesh and Pakistan have repeatedly used the meetings to rub shoulders with the praying millions on occasions that are bound to attract mass media attention.[1] The former head of the Afghan Taliban regime, Mulla Omar, was also reported to have attended the Pakistan congregation. In India cooperation with state authorities is smooth and traditional, although less publicity-oriented. Tablighi leaders seem divided over the merits of such huge meetings. Muhammad Yusuf (1917-1965), second Amir of the Indian Tablighi Jama’at, had already emphasised that the regular work in propagating Islam was more important than the meetings. There are attempts made in India nowadays to scale back the national congregations in favour of the regular work.</p>
<p>At the national congregation local Tablighi organisations are represented by formal delegations squatting on the prayer ground behind signboards indicating their place of origin. Also attendance from other countries is a regular feature now as the movement has become truly global. Contrary to assertions made by members of the preparatory committees, a huge organisational effort constitutes the backbone of these congregations. Special departments are created for logistical support (food, sound system, medical services, fire services, security, transport), usually in close cooperation with state authorities for which the organisers are often not charged. Local businesses also provide their services often for free, regarding it as a moral duty and an effective form of ‘product placement’. A huge department takes charge of coordinating the routes of all participants for preaching tours as the congregation winds up with sending off all participants on their respective tours having recharged their motivation and energy.</p>
<p>The increasing social function of the movement is displayed in staging mass marriages (<em>nikkah</em>) celebrated by prominent luminaries of the movement. Also the concluding act, the prayer of supplication (<em>du’a</em>) apparently holds an enormous social importance. It is this prayer which attracts huge additional crowds from among the local population seeking benediction (<em>barakat</em>). It is they who swell the participating numbers to the millions making clear that the actual number of participating Tablighis is significantly less than generally assumed.</p>
<h2>The local mosque scheme</h2>
<p>The Tablighi activists devote growing attention to a scheme that has slowly but steadily evolved over the past decades, the formation and operation of a local ‘mosque group’ (<em>masjidwar jama’at</em>) in contrast to the travelling preaching group, the Tablighi Jama’at. It considers the local mosque as the basic unit of operation. The details of this scheme have been fixed in a rigid grid of demands that are made on its participants on a daily basis. It rests on the understanding that every potential follower of the movement is always and first member of his local mosque group. This makes the scheme somewhat akin to ideological structures of mobilisation. In particular, one comes to think of the basic units of the Communist movement. In reality, it is only the regulars who are involved in it. It requires</p>
<ul>
<li>to attend all five prayer sessions at your local mosque which are used to fulfil specific functions for the movement;</li>
<li>to form a council (<em>shura</em>) which meets daily, and to attend its sessions at one of the prayer times;</li>
<li>to spend 2 1/2 hours daily of dedicated Tabligh activities in meeting fellow-Muslims and inviting them on to the path of Allah in an individual capacity which is called ‘meetings’ (<em>mulaqat</em>);</li>
<li>to conduct two educational sessions (<em>ta’alim</em>) daily by reading from the Zakariya volumes for about 30 to 45 minutes, one at the mosque and one at home;</li>
<li>make two rounds of preaching walks (<em>gasht</em>) per week, around the immediate neighbourhood on one day &#8212; which is fixed for every local mosque</li>
<li>and around the adjacent mosque area on their fixed day.</li>
</ul>
<p>As a faithful follower of the movement you will also want to attend the <em>ijtima</em> of your locality which comprises several mosque areas (as mentioned above). Once you engage in all these activities you are certainly counted among the regulars. You will then want to consider also the other obligations which are prescribed for regulars in ascending order one in addition to the other. These in particular suggest to spend a fixed amount of time on Tabligh tours, beside the daily 2 1/2 hours and the weekly two days in your own and the adjacent locality as mentioned above, that is</p>
<ul>
<li>to three days per months on a full preaching tour to another locality in your home region;</li>
<li>40 days per year, called by the Sufi term <em>chilla</em>, generally a longer period of withdrawal or seclusion for contemplation and prayer, which could be to other states or provinces of your country, but also to other countries;</li>
<li>the ‘grand <em>chilla</em> ’, consisting of 3 consecutive <em>chillas</em>, once during your lifetime, which equals four months (120 days);</li>
<li>for the ardent there are even longer <em>chillas</em>, mostly when going abroad, for a period like 7 months, or on foot across the country for a whole year (Cf. Hasan, 1982: 772).</li>
</ul>
<p>Committing yourself to these activities puts a heavy burden on the shoulders of every regular. It is not uncommon that those doing so tend to neglect their worldly engagements. At the same time, the mobilising efforts can also have affirmative results. A survey made at Aligarh University in India was said to have shown that the academic achievements of Muslims students who were Tablighi regulars significantly surpassed those of their co-students.</p>
<p>Yet a regular can hardly pursuit his predilection for Tabligh work unless he makes it his lifetime occupation and doesn’t count the hours. This also entails social consequences with regard to Tablighi family life. Several informants suggested during interviews that those families where both partners were actively involved in Tabligh work tended to have fewer children. They would have more simple marriage ceremonies - because they shun ostentatious expenditure – and they have easier divorces - because they don’t ask for bride money, both under the influence of reformist teachings.[2] Young Tablighi activists even seek out the advice of their elders in questions of finding suitable partners tolerant of the demanding Tabligh work.</p>
<h2>The leadership question</h2>
<p>In its self-representation the movement stresses its egalitarian character. Outgoing preaching groups (<em>jama’at</em>) elect a leader (<em>amir</em>) from among themselves whose orders would be obeyed unquestioningly. Yet he could be any of them, and more important, he is expected to lead through his personal example in his devotion to preaching, praying, religious education, but also in his humble demeanour towards other members of the group, in his readiness to take over ordinary daily chores of cooking or cleaning. Beside this leader of the basic preaching group, the only other leader who is known in public is the national leader of the Tablighis in India or Pakistan (or any other country). The middle rung of leadership is hardly visible to outside observers and not even to irregular participants. Yet the movement is ruled by a clearly defined command structure at every level being both flexible and rigid in turns. It is based on the <em>shura</em> principle gleaned from the Qur’an and the <em>hadith</em>, lead by an amir or a responsible person of varying designation. It is assumed that the Prophet’s practice of consultation with his companions is the example. Council is held in open accessible by all member or interested people, at least in theory. In practice though there is a selection of those attending. And not all business of the movement is conducted in public, if only in the presence of their own followers. There definitely is a closed or secret part of business of the movement which is deliberately kept away from the public eye.</p>
<p>Taking India as an example, where the movement started and its global headquarters are located, the leadership structure comprises the following levels:</p>
<ul>
<li>The lowest level is the travelling preaching group, the Tablighi Jama&#8217;at. Leadership here is a temporary assignment for the duration of the tour. As the size of the groups rarely exceeds ten, fifteen people, there is no <em>shura</em> formed here. At this level always an <em>amir</em> is selected, or sometimes appointed.</li>
<li>Next comes the mosque group where a <em>shura</em> is formed and in operation. But its composition varies. The regulars of the locality take turns in sharing responsibilities. Its leader would be the ‘decider’ – <em>faisal</em>. While his appointment may be confirmed by higher-standing authorities in the movement, the assignment rotates, even at short intervals like after two or three months.</li>
<li>The next higher up level would be the locality where a local <em>shura</em> is in operation. In a city like Aligarh there are two Tablighi centres, one in the university area at the Sir Sayyid Hall Mosque and the other at the old town mosque. The <em>shura</em> has four to five members. Its composition and more so the function of faisal is usually confirmed by the higher up Tablighi leaders, either at the state/provincial level or even at the national level. In the case of Aligarh’s university shura due to its eminent status in the Tablighi movement as a centre of learning and the seat of the most prominent Muslim university it was confirmed by the very leaders of the Tablighi movement in India, the Nizamuddin shura at Delhi. The shura members often keep their post until they die. Age in the Tablighi understanding only adds to authority. This shura would also meet every day, but hold council on the more important affairs of the movement in the locality on the day of the <em>ijtima</em> which for the university area was Sundays.</li>
<li>There are also shuras in operation at the level of the Indian states and Pakistani provinces. Some of their leaders were formally designated amir. They conduct the affairs of the movement in their state or province fairly independently. Nowadays the new heads of the shura are preferred to be called by the less formal and presumptuous title <em>faisal</em>.</li>
<li>Then there is the central Tablighi shura at Nizamuddin. This name is applied to the current collective leadership and also to a larger ruling council. Ilyas was succeeded as <em>amir</em> first by his son Muhammad Yusuf and than by his grand-nephew In’am al-Hasan (1918-1995). After the latter’s death, a collective leadership took over as the movement could not decide on a single successor. It consisted of the Maulanas Saad al-Hasan (grandson of Yusuf and great-grandson of Ilyas), Zubair al-Hasan (son of Inam) and Izhar al-Hasan (maternal nephew of Ilyas). Inam al-Hasan himself was reported to have contributed to the &#8216;democratisation&#8217; of the movement as he moved to strengthen the role of the <em>shura</em> against the <em>amir</em> and the role of the daily work (within the mosque group) against ostentatious congregations. After Izhar died, this collective leadership or small <em>shura</em> now only consists of two persons. Among these it is Maulana Saad who has now clearly moved to the centre of the movement. He is seen as the new theoretical, spiritual, and symbolic head of the movement. He seems to be immensely popular with followers as can be judged from reactions to his appearance at the 2002 Bhopal congregation. Maulana Zubair apparently concentrates more on the internal structure and organisation of the movement.</li>
</ul>
<p>Beside the small circle of collective leadership there is a larger <em>shura</em> in operation at Nizamuddin which consists of elders (<em>buzurg</em> or <em>bare</em>) from all over India and counts approximately 15 members. While it meets daily it holds open council on Thursdays on the occasion of their version of the weekly <em>ijtima</em>. Not all its members attend all its sessions. There is a rotation and sharing of responsibilities at work guaranteeing that issues concerning the reception of incoming or preparation of outgoing preaching groups are not left undecided.</p>
<p>On questioning the impression is given by the movement&#8217;s representatives that all issues are decided impromptu. While this may often be the case, a certain amount of paper work is apparently still generated and regular offices are also in operation at the centre. Paper work mainly relates to requests (<em>taqaza</em>) from outlying mosques or madrasas for preachers to be sent to them to strengthen the propagation (<em>tabligh</em>) of Islam for whatever momentary local reason. A number of activists runs regular administrative offices at the centre dealing with incoming and outgoing groups, coordination of their travelling destinations and overseeing the work in the regions and provinces. The role of Chhote Sayyid Bhai (&#8217;the younger <em>Sayyid&#8217;</em>) may serve as an example, a &#8216;nom de guerre&#8217; by which a Maulana from Nizamuddin went who was in charge of coordinating travel routes for outgoing preaching groups. He also was a member of the preparation team for the Bhopal <em>ijtima</em> 2002, attended by the author. While he explicitly denied any role of regular administrative work in the running of the movement, he was reported to have his own permanent office at Nizamuddin where he kept a huge oversize chart of all possible destinations of preaching tours in the world, complete with the names and schedules of train and bus stations.</p>
<p>A third group of regular full-timers is indispensable for the running of the movement at the Nizamuddin centre. They occupy no formal office yet they attach themselves to certain leading elders and assist them in carrying out their functions. They are sort of religious &#8216;interns&#8217;. The author talked to some who had graduated from universities and now took time out from their civic life supporting themselves on contributions from family members or sharing meagre resources with other Tablighis to be able to devote their full time to the movement. The less sophisticated among them work as ushers there making sure every incoming or outgoing Tablighi or visitor finds his group or stays in touch with his programme. They also shield the centre’s core activities from stray visitors, particularly non-Tablighis and non-Muslims, foreigners, journalists.</p>
<p>Remarkable is the rather strict spatial separation between local/Indian or South Asian Tablighi and foreign Tablighis both at the centre and at the congregation. At the centre they are directed to different levels in the building, at the Bhopal congregation foreign Tablighis were interned in a separate tent camp on the mosque ground for ‘hygienic and security reasons’. For the foreign Tablighis there are always volunteers around who help with translations and organisation. Many foreign visitors who come on a preaching tour to South Asia not for the first time, have picked up Urdu which evolves as a global lingua franca of the Tablighi community.</p>
<p>The movement’s impact cannot be judged uniformly. While it apparently contributes to a strengthening of religious attitudes, and inculcates even bigotry in some followers, it links many aspiring lower middle class Muslims in South Asia with a moralistic version of modernity. In this it can contribute to the moral and cultural emancipation of selected Muslim strata both in a minority setting such as India or in a Muslim majority society such as Pakistan. It can also prepare the ground for groups professing Sunni radicalism or pursuing some form of militancy. Generally it promotes a quietist, value-laden outlook on life, which can be healing and invigorating for many but debilitating for some. Its most worrisome feature is perhaps its closed character, which can generate enormous pressure on participants, although in an open-society context such as India people find it still easy to withdraw from it if they want to. It is difficult to see that it can expand much further and may have reached its peak. Where it will go from here, whether moving into decline or towards a new quality, will be fascinating to watch for political analysts and religious studies experts alike.</p>
<h2>Notes</h2>
<p>[1] For the 2000 congregation, see <em>Dawn</em>, 5-7 November 2000; for Bangladesh, see AFP: &#8216;Muslims stream into Bangladesh for the 34th Biswa Ijtema&#8217;, dateline 29 January 2000.</p>
<p>[2] This refers to the Puritanism of the concept of <em>islah</em>, a movement for Quran-based reform of behaviour that emerged in Egypt at the end of the nineteenth century and spread to the whole Islamic world.</p>
<p> 						 Quelle: Dieser Artikel von Dietrich Reetz erschien bereits in: Bredi, Daniela (Hg.) (2004): Islam in South Asia. Roma (= Oriente Moderno, 84:1), S. 295-305. </p>
<p>All teks from : http://www.suedasien.info/analysen/1464</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/keeping-busy-on-the-path-of-allah-the-self-organisation-intizam-of-the-tablighi-jamaat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Markas London: Untuk Mengislamkan Eropa</title>
		<link>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/markas-london-untuk-mengislamkan-eropa/</link>
		<comments>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/markas-london-untuk-mengislamkan-eropa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 01:31:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palembangopensuse</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Usaha Dawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/markas-london-untuk-mengislamkan-eropa/</guid>
		<description><![CDATA[Pembangunan masjid terbesar di London yang akan menjadi pusat dakwah dan tabligh di Inggris dan Eropa sekarang sedang berlangsung. Ada penentangan di sana sini terutama dari komunitas non muslim namun semoga bisa berjalan lancar. Amiin. Ini akan menjadi markas islamisasi Eropa terbesar sepanjang sejarah Islam di benua biru tersebut.
Wassalam,
Abu Izza Adduri
Jamaah Tabligh, komunitas Muslim di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembangunan masjid terbesar di London yang akan menjadi pusat dakwah dan tabligh di Inggris dan Eropa sekarang sedang berlangsung. Ada penentangan di sana sini terutama dari komunitas non muslim namun semoga bisa berjalan lancar. Amiin. Ini akan menjadi markas islamisasi Eropa terbesar sepanjang sejarah Islam di benua biru tersebut.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Abu Izza Adduri</p>
<p>Jamaah Tabligh, komunitas Muslim di Inggris sedang bekerja keras meredam berbagai tudingan dan publisitas yang merugikan atas rencana mereka membangun masjid agung di Newham, London Timur tak jauh dari lokasi komplek penyelenggaraan Olimpiade yang akan digelar di Inggris tahun 2012.</p>
<p>Jamaat Tabligh menilai ketakutan publik dan informasi-informasi menyesatkan yang dipublikasikan di media-media massa tentang rencana pembangunan masjid itu, sama sekali tidak beralasan.</p>
<p>Sejumlah media massa di Inggris antara lain memberitakan bahwa pembangunan masjid tersebut belum mendapatkan izin. Namun pihak Jamaat Tabligh menyatakan akan menyerahkan pengajuan izin pembangunan paling cepat bulan September mendatang.</p>
<p>Untuk membantu meredam kampanye dan publisitas buruk terhadap rencana pembangunan masjid itu, Jamaah Tabligh bahkan sampai menyewa jasa Indigo perusahan jasa humas terkemuka di Inggris. Perusahaan ini membuat situs khusus dan membuat pernyataan yang dipublikasikan lewat situs <em>You Tube</em> dalam upaya meredam antipati publik terhadap rencana pembangunan masjid itu.</p>
<p>Salah satu media massa yang melakukan kampanye anti pembangunan masjid itu melalui email adalah tabloid Evening Standard. Sementara itu kelompok kiri British National Party dalam menggelar polling lewat internet dan mengatakan bahwa rencana pembangunan masjid itu, sejauh ini merupakan “simbol terbesar kolonisasi Islam di Inggris. “</p>
<p>Penasehat Dewan Kota Newham Allain Craig yang juga anggota parlemen dari Aliansi Masyarakat Kristen, juga menjadi salah seorang politisi di Inggris yang menentang pembangunan masjid agung di Newham.</p>
<p>Warga Muslim mengecam sikap Craig. “Craig adalah seorang pengecut dan rasis, ” kata Faisal Hammad.</p>
<p>Warga Newham lainnya, Graham Hyde, melontarkan kecaman yang sama. “Para politisi seperti Craig bisa tega menjual ibu-ibu mereka demi beberapa baris berita di media massa, ” tukas Hyde.</p>
<p>“Saya malu dengan cara orang ini menimbulkan perpecahan. Dia harus di pecat dari kantornya, ” sambungnya, seraya menyatakan bahwa keluarganya yang non-Muslim tidak keberatan dengan rencana pembangunan masjid tersebut.</p>
<p>Walikota Inggris Ken Livingstone juga mengecam kampanye yang menentang pembangunan masjid itu. Ia menyatakan, kampanye itu adalah upaya untuk menimbulkan kebencian antara warga Muslim dan Non Muslim. Menurutnya, rencana pembangunan masjid di Newham merupakan tanda harmonisnya hubungan antara masyarakat beragama di Inggris.</p>
<p>Dalam cetak biru rencana pembangunan, masjid yang akan dibangun di atas tanah seluas 18 hektar ini, akan dilengkapi dengan fasilitas sekolah, arena bermain dan taman. Masjid agung ini diperkirakan mampu menampung 12 ribu jamaah.</p>
<p><strong>Kampanye Hitam Jamaah Tabligh </strong></p>
<p>Bukan hanya rencana pembangunan masjid saja yang menjadi target kampanye hitam media massa. Komunitas Jamaah Tabligh sendiri juga menjadi sasaran mereka.</p>
<p>Dalam artikelnya tanggal 21 Mei, surat kabar<em> The Times </em>menyebut Jamaah Tabligh sebagai salah satu “sekte Islam yang tertutup” dan “gerakan keagamaan ultra ortodok. ” <em>The Times</em> mengutip informasi yang diklaim berasal dari lembaga-lembaga intelejen yang menyebut Jamaah Tabligh sebagai organisasi yang mengajarkan ekstrimisme.</p>
<p>Tulisan itu dibantah oleh Abbey Mills Mosque Project yang mewakili Jamaah Tabligh. Mereka menyatakan bahwa Jamaah Tabligh adalah organisasi non politik dan melaksanakan ajaran agama dengan cara damai dan terbuka.</p>
<p>“Untuk itu kami membantah semua tuduhan yang mengaitkan kami dengan segala bentuk terorisme, ” kata juru bicara Abbey Mills Mosque Project.</p>
<p>Sosiolog dari Edinburgh Gerald Hewitt mengatakan, sangat mudah bagi media massa untuk melontarkan tudingan apapun pada Jamaah Tabligh, meski jamaah ini selalu berusaha menunjukkan bahwa mereka melaksanakan ajaran agamanya dengan cara damai dan secara pribadi, tidak berupaya mempengaruhi warga non-Muslim.</p>
<p>“Tidak bisakah orang menghormati hal ini?” tukas Hewitt.</p>
<p>Dalam berbagai wawancara, sejumlah pemuka umat Islam di Inggris juga membantah bahwa Jamaah Tabligh mengajarkan kekerasan dalam dakwahnya. Menurut mereka, kampanye buruk media massa terhadap Jamaah Tabligh merupakan bagian dari Islamofobia yang kini marak di Inggris. (ln/iol)</p>
<p>—</p>
<p>Pemuka agama Islam di Inggris menyatakan mendukung penuh rencana Jamaah-Tabligh mendirikan sebuah masjid agung di samping Olympic Park, London Timur. Sementara sejumlah warga Muslim menolak rencana itu dengan alasan kelompok Jamaah Tabligh menyebarkan ajaran kekerasan dan ekstrimisme.</p>
<p>Majalah <em>Times</em> yang terbit Senin (27/11) menulis, sekitar 2.500 warga Muslim membuat petisi menentang rencana pembangunan masjid oleh Jamaah Tabligh dengan alasan di atas.</p>
<p>Pemuka Muslim di Inggris, mantan ketua Muslim Council of Britain (MCB), Sir Iqbal Sacranie menilai petisi itu hanya upaya untuk memecah belah warga Muslim Inggris yang jumlahnya hingga saat ini mencapai 1,8 juta orang.</p>
<p>“Masjid merupakan institusi yang penting untuk memberikan pendidikan bagi umat dan untuk melaksanakan fungsinya,” kata Sacranie.</p>
<p>Seorang dokter yang juga tokoh Muslim terkenal di Inggris, Dr. Abdul Majid Oatma, menyerukan warga Muslim lainnya untuk membuat petisi tandingan yang mendukung pembangunan masjid oleh Jamaah Tabligh.</p>
<p>“Kami akan menarik puluhan ribu pendukung pembangunan masjid. Kami menyerukan warga Muslim mempublikasikan petisi tandingan secara besaran-besaran di surat-surat kabar,” katanya seperti dikutip dari <em>Islamonline.<br />
</em><br />
Dukungan atas pembangunan masjid itu juga disampaikan mantan ketua Muslim Association of Britain (MAB), Anas Al-Tikriti. “Kalau saya punya dana dan izin untuk mendirikan masjid yang bisa menampung satu juta orang. Saya akan melakukannya,” ujar Anas.</p>
<p>Ia mengatakan, warga Muslim di Inggris harus berusaha keras agar pada tahun 2012 nanti bisa membangun sebuah masjid di London Olympics, yang bisa menampung warga Muslim dalam jumlah besar dari seluruh dunia.</p>
<p>Konstruksi bangunan masjid Jamaah Tabligh dibuat oleh sejumlah arsitek terkenal. Komplek masjid itu akan memiliki sebuah taman, sekolah dan aula sholat yang mampu menampung puluhan ribu jamaah.</p>
<p>Pembangunan masjid itu berdasarkan sebuah memorandum kesepakatan antara Jamaah Tablihg dan Newham Council pada tahun 2001 yang isinya antara lain “secara prinsip tidak keberatan atas pembangunan masjid baru yang berkualitas tinggi.”</p>
<p>Sementara itu, para pemuka Islam di Inggris juga membantah tuduhan bahwa Jamaah Tabligh menyebarkan ajaran ekstrim dan kekerasan.</p>
<p>Sir Sacranie mengatakan, tidak ada bukti kuat kelompok itu mendukung terorisme atau Al-Qaidah. Jamaah Tabligh, kata Sacranie, cuma gerakan keagamaan dan termasuk kelompok Muslim yang berkembang cepat di Inggris.</p>
<p>Tikriti menilai tuduhan itu sangat aneh. “Semua orang tahu bahwa Jamaah Tabligh adalah kelompok yang damai, anti kekerasan dan menjauhkan diri dari politik,” katanya.</p>
<p>Ia juga mengatakan bahwa Jamaah Tabligh dikenal dengan sikapnya yang ramah, tenang dan menyebarkan syiar Islam dengan cara yang halus.</p>
<p>Ia menduga sikap penentangan terhadap Jamaah Tabligh, akibat pengaruh media massa, rasa takut dan meningkatnya Islamofobia di Inggris. (ln/iol)</p>
<p>——–</p>
<p>Kekhawatiran akan merusak hubungan masyarakat setempat dan mengganggu persiapan pelaksanaan Olimpiade, menjadi alasan pemerintah Inggris untuk menggagalkan pembangunan masjid di Newham, sebelah timur London.</p>
<p>Surat kabar terbitan Inggris <em>The Sunday Telegraph</em> edisi Minggu (18/2) mengutip pernyataan sejumlah sumber di kalangan pejabat pemerintahan Inggris yang mengatakan, alasan utama pemerintah menolak pembangunan masjid itu, karena lokasinya terlalu dekat dengan lokasi utama pelaksanaan olimpiade.</p>
<p>“Kami akan menghentikannya, agar persiapan olimpiade bisa berjalan lancar, ” kata sumber-sumber tadi.</p>
<p>Seorang pejabat keamanan senior Inggris pada<em> The Sunday Telegraph</em> mengungkapkan kekhawatirannya tentang rencana pembangunan masjid tersebut dan berharap para menteri terkait menggunakan kekuasaannya untuk menolak permohonan izinnya.</p>
<p>Lokasi masjid itu berjarak sekitar 500 yard dari lokasi olimpiade yang akan digelar pada 2012. Bangunan masjid itu nantinya, bisa menampung 70 ribu jamaah, dilengkapi dengan gedung sekolah, taman dan fasilitas tempat pertemuan bagi para atlet dan para supporter dari negara-negara Islam pada saat pelaksanaan olimpiade. Selain itu, masjid tersebut juga akan dijadikan sebagai pusat informasi tentang Islam.</p>
<p>Permohonan pembangunan masjid itu sudah diserahkan ke Departemen Kemasyarakatan dan pemerintahan kota setempat dan sudah disetujui berrasarkan kesepakatan tahun 2001 antara Dewan Newham dan organisasi Jamaah Tabligh. Jamaah Tabligh menjadi sponsor utama pembangunan masjid itu, dengan menyediakan dana sebesar 300 juta poundsterling.</p>
<p>Masjid itu rencananya akan dibangun dengan disain futuristik yang dibuat oleh para arsitek berprestasi yang kerap memenangkan penghargaan.</p>
<p>Menurut <em>The Sunday Telegraph, </em>pembangunan masjid itu sudah mendapat dukungan dari London Thames Gateaway Unitary Development Corporation dan London Development Agency yang memberikan laporannya pada walikota London, Ken Livingstone.</p>
<p>Para pemuka Islam di Inggris juga sudah menyatakan dukungannya atas pembangunan masjid tersebut, dan membantah bahwa Jamaah Tabligh adalah organisasi Islam yang terkait dengan kegiatan terorisme seperti yang kerap dituduhkan pemerintah Inggris.</p>
<p>Jika pembangunan masjid itu terwujud, maka masjid di Newham-yang sekitar 25 persen warganya Muslim- itu akan menjadi masjid terbesar di Inggris. (ln/iol)</p>
<p>Sumber:</p>
<p>Media-isnet</p>
<p>All teks from : http://dalamdakwah.wordpress.com/2009/02/03/markas-london-untuk-mengislamkan-eropa/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/markas-london-untuk-mengislamkan-eropa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bayan Maulana Ismail Uspra: Dakwah ambiya Menyeru Pada Dzat dan Qudrat Alloh</title>
		<link>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/bayan-maulana-ismail-uspra-dakwah-ambiya-menyeru-pada-dzat-dan-qudrat-alloh/</link>
		<comments>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/bayan-maulana-ismail-uspra-dakwah-ambiya-menyeru-pada-dzat-dan-qudrat-alloh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Feb 2009 01:27:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>palembangopensuse</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Info Usaha Dawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/bayan-maulana-ismail-uspra-dakwah-ambiya-menyeru-pada-dzat-dan-qudrat-alloh/</guid>
		<description><![CDATA[Bayan Maulana Ismail Uspra
Assalamualaikum wbt,
Allah SWT yang mencipta segala-galanya. Segala yang terlihat dan tidak terlihat dicipta oleh Allah SWT. Allah SWT mencipta makhluk adalah untuk ujian bagi manusia supaya mengenal Allah SWT. Allah SWT menjadikan semua makhluk dengan qudrat Allah SWT. Mati dan hidup semua di tangan Allah SWT. Keadaan-keadaan yang wujud di antara hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><a href="http://malaykarkun.blogspot.com/2008/02/bayan-maulana-ismail-uspra.html">Bayan Maulana Ismail Uspra</a></h3>
<p>Assalamualaikum wbt,</p>
<p>Allah SWT yang mencipta segala-galanya. Segala yang terlihat dan tidak terlihat dicipta oleh Allah SWT. Allah SWT mencipta makhluk adalah untuk ujian bagi manusia supaya mengenal Allah SWT. Allah SWT menjadikan semua makhluk dengan qudrat Allah SWT. Mati dan hidup semua di tangan Allah SWT. Keadaan-keadaan yang wujud di antara hidup dan mati semua Allah SWT yang mewujudkan. Apa yang berlaku dalam semua kehidupan makhluk bergantung dengan qudrat Allah SWT. Apa yang wujud semua dari Allah SWT, ikhtiar manusia juga dari qudrat Allah SWT dan bukan usaha manusia.</p>
<p>Terbentuk kehidupan dan kemusnahan, kebaikan, keburukan bukan bergantung pada makhluk atau asbab tetapi bergantung kepada qudrat Allah SWT. Oleh itu Allah SWT telah hantar nabi-nabi dan rasul-rasul untuk memahamkan kepada manusia supaya menjalani kehidupan ini mengikut kehendak Allah SWT. Begitulah semua 124 ribu nabi dan rasul diutus ke muka bumi ini supaya menyeru manusia kepada beriman kepada Allah SWT. Begitulah seterusnya dakwah Rasulullah SAW.</p>
<p>Baginda SAW menyeru bahwa semua keadaan yang wujud datang daripada qudrat Allah SWT. Apa yang berlaku dan sedang berlaku serta apa-apa yang akan berlaku semuanya datang dari Allah SWT. Inilah dakwah nabi-nabi termasuk Nabi SAW bahwa kejayaan manusia bukan bergantung kepada apa yang diusahakan oleh manusia, akan tetapi bergantung kepada apa yang ditetapkan oleh Allah SWT. Kelemahan manusia ialah yakin manusia terkesan dengan apa yang dilihat memberikan manfaat dan mudharat. Sebenarnya kesan manfaat dan mudharat pada asbab itu bukan dari makhluk tersebut, tetapi Allah SWT yang memberi kesan. Makhluk itu sebenarnya tidak dapat berbuat apa-apa. Maulana memberi contoh mengenai bola lampu dan kabel letrik, sebenarnya benda itu tidak dapat mengeluarkan cahaya tetapi arus letrik itu adalah berpunca daripada generator letrik. Begitulah semua apa yang kita lihat, kebaikan dan keburukan datang dari qudrat Allah SWT. Begitulah dakwah Anbiaâ€™ menyeru manusia kepada zat dan qudrat Allah SWT.</p>
<p>Hari ini apabila umat telah tinggalkan dakwah, maka yakin umat dan fikiran umat telah rosak. Semua ini berpunca daripada perbicaraan yang salah dan tidak lagi membicarakan kebesaran Allah SWT. Syaitan datang untuk membawa kita menjadi orang yang didakyahkan kepada perkara bathil. Inilah perbicaraan rata-rata orang Islam di seluruh dunia dimana mereka tidak lagi berbicara tentang kebesaraan Allah SWT, sebaliknya membicarakan kehebatan dunia. Dengan ini manusia yakin pada benda atau asbab yang dibicarakan dan tidak lagi terkesan dengan kekuasaan dan qudrat Allah SWT. Oleh itu kesesatan telah merata di seluruh dunia.</p>
<p>Sesungguhnya kehidupan manusia bukan tebentuk dari harta benda, tetapi kehidupan manusia terbina dengan iman dan amal. Untuk keselamatan dan keamanan usaha atas iman perlu diadakan, dimana manusia akan benar-benar yakin terhadap zat dan qudrat Allah SWT. Allah SWT yang memelihara rezeki seluruh makhluk termasuk diri kita. Dalam pembinaan iman, jangan campur-adukkan kebesaran Allah dengan ghairullah (selain dari Allah).</p>
<p>Melalui usaha dakwah Allah SWT akan kembangkan hidayah ke seluruh alam. Melalui dakwah manusia kepada kebesaran Allah SWT, maka Allah SWT akan memasukan iman dalam diri orang yang membicarakan kebesaran Allah SWT. Begitu juga jika kita dakwahkan kehidupan suci murni Nabi SAW, orang itu yang akan dapat taufik hidayat untuk mengamalkan sunnah-sunnah Nabi SAW, dan kehidupan sunnah akan tersebar. Oleh itu kita perlu membentuk iman supaya wujud suasana iman bukan saja di marhalah kita tetapi di seluruh alam.</p>
<p>Apabila kita tinggalkan dunia ini dalam jazbah orang yang hidupkan usaha Nabi SAW, maka kita akan dibangunkan di hari akhirat bersama Nabi SAW. Oleh itu asas kerja kita perlu usahakan kerja Nabi. Kerja Nabi tidak perlukan harta dan benda tetapi keinginan dalam hati. Jadikan kerisauan dan fikir kita seperti fikir risau Nabi SAW. Apabila pembicaraan mengenai kebesaran Allah SWT telah umum, maka Allah SWT akan wujudkan isti’dat kcpada seluruh umat untuk mengamalkan keseluruhan agama. Allah SWT sendiri akan wujudkan agama di seluruh alam. Oleh itu, kita perlu bergerak membuat kerja Nabi SAW diseluruh alam. Kita perlu bertaubat bersungguh-sunggun kerana tidak menjadikan fikir Nabi SAW sebagai fikir kita dan tidak menjadikan maksud hidup Nabi SAW sebagai maksud hidup kita.</p>
<p>Kita perlu yakin dengan janji Allah SWT. Allah SWT berfirman yang maksudnya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika kami membantu agama Allah, Allah akan membantu kamu”. Allah akan bertindak mengikut sangkaan manusia. Kita perlu berhajat kepada Allah SWT, kita perlu selalu menuju kepada Allah SWT. Kita perlu senantiasa mendengar pembicaraan iman, perlu memberi keputusan untuk menghidupkan kerja Nabi ke seluruh alam hingga akhir hayat kita.</p>
<p>(Dipetik daripada Bayan subuh Maulana Ismail Uspra, Ijtima’ Tongi 2002.)</p>
<p>All teks from : http://dalamdakwah.wordpress.com/2009/02/02/bayan-maulana-ismail-uspra-dakwah-ambiya-menyeru-pada-dzat-dan-qudrat-alloh/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/02/04/bayan-maulana-ismail-uspra-dakwah-ambiya-menyeru-pada-dzat-dan-qudrat-alloh/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
