Belajar Menuju Ke Jalannya

IJTIMA SERPONG 09

Posted by palembangopensuse on August 9th, 2009

Assalamualaikum warahmatullah..

Bismillahirohmanirohim..

Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa yang Selalu Ingat Akan Sejarahnya & Agama yang Besar Adalah Agama yang Senantiasa Ingat Pada Perilaku & Perbuatan (Sunnah-Sunnah) Pembawanya . Insya Allah…

DSC_0004Kagum, takjub dan masih banyak lagi perasaan yang berkecamuk di hati setiap orang yang menghadiri ijtima serpong pada tanggal 18 – 20 juli 09. Ratusan ribu manusia berkumpul menjadi satu, datang dari seluruh pelosok daerah bahkan tidak sedikit yang datang dari mancanegara. Jelas sekali tampak kehebatan usaha dawah ini. Tanpa gembar-gembor media , tanpa harus memasang spanduk besar di setiap perempatan jalan, tanpa bayaran dan penggalangan dana serta tanpa pengkultusan terhadap individu. Mereka semua datang dengan iklas semata-mata karena Allah , rindu dan haus akan agama. Ratusan kilometer mereka tempuh baik dari darat udara dan laut tanpa rasa lelah, tak terhitung biaya yang mereka keluarkan agar dapat sampai di medan ijtima.

DSC_0003Tidur hanya beralaskan seadanya, ditempat terbuka bahkan terpaan hujan dimalam hari tak juga menyurutkan langkah mereka untuk tetap berada di medan ijtima selama tiga hari. Jutaan air mata dan doa tertumpah dalam ijtima, memikirkan keadaan umat yang telah jauh dari agama ,berharap agar setiap diri mau kembali kepada agama , mau kembali mengambil tanggung jawab atas kerja dakwah sebagaimana dahulu Rasulullah saw dan sahabatnya lakukan. Disini tidak membicarakan perihal dukung mendukung capres , disini pun tidak memikirkan trik-trik agar masuk dalam jajaran pemerintahan karena salah satu tujuan usaha dakwah adalah menghilangkan sikap saling menjauhkan, saling berprasangka buruk , kemunafikan, dan tidak adanya kasih sayang di kalangan umat.

DSC_0032Dalam usaha dawah dan tabligh ada hal-hal yang sangat di tekankan melebihi hal-hal lainnya. Yakni ilmu dan dzikir, agar usaha dakwah ini tidak kembali menjadi jasad tanpa ruh atau sekedar tulisan tanpa penjelasan, atau sekedar kumpulan kaidah dan cara-cara kosong sebagaimana gerakan-gerakan lain yang tumbuh kemudian menghilang. Kerja dakwah dan tabligh sangat berkaitan erat dengan hati, sebagaimana ia juga berkaitan dengan anggota badan.

DSC_0027Sesungguhnya mengorbankan perasaan, diri dan jiwa di jalan Allah adalah pengorbanan yang tidak mahal, tetapi sangat penting dalam gerakan ini. Bahkan itu adalah tujuan yang hendak di capai. Rahmat Allah swt akan turun sesuai dengan kepedihan hati menanggung kesabaran , kesulitan, dan musibah serta menahan perasaan, dan cucuran air mata dalam mengembalikan kesadaran umat Islam tentang tanggung jawab mereka terhadap penyebaran agama.

DSC_0039Setiap orang yang berusaha tidak akan berhasil, kecuali usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Keberhasilan itu tergantung pada kesungguhan dalam meraihnya dan Allah swt tidak akan memberikan kebahagian, kedekatan , dan kebaikan di akhirat selama kita belum menempatkan usaha agama di atas usaha dunia.

DSC_0015Setiap muslim sudah seharusnya mengorbankan diri dan harta mereka dalam usaha dakwah tanpa keraguan  karena sesungguhnya setiap diri akan merasakan surga dengan segala kenikmatannya sejak didunia ini jika kita menjadikan usaha dakwah ini sebagai maksud hidup dan yakin bahwa sesungguhnya Allah swt tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebajikan . Sesungguhnya dibalik kematian di jalan ini ada kehidupan yang hakiki.

DSC_0003Rasanya jutaan tulisan tak akan bisa menjelaskan tentang usaha ini tanpa kita sendiri ikut terjun langsung di dalamnya dan menjadikan dakwah sebagai maksud hidup kita.

DSC_0045Sesungguhnya semua hubungan itu mati selama tidak berada di bawah kaki Rasulullah saw,  yakni hubungan yang di jalanin bukan untuk panji-panji Islam, maka hubungan itu kosong dari ruh tidak mengandung kebaikan dan keberkahan.

DSC_0006Semoga Allah memberi kepahaman tentang masalah ini kepada kita semua sehingga Allah gunakan diri, harta, waktu dan fikir kita untuk agama-Nya, sehingga setiap apa-apa yang ada didalam diri kita menjadi asbab hidayah untuk seluruh alam.

DSC_0011Ya Allah !!! Jangan Engkau uji kami dengan ujian sebagaimana para sahabat nabi-Mu

Ya Allah !!! Hantarkan kami ke seluruh alam dengan asbab atau tanpa asbab pada kami.

Ya Allah!!! Pilihlah kami dalam kerja dakwah sehingga Engkau jadikan dakwah maksud hidup, hidup untuk dakwah, dakwah sampai mati dan mati dalam dakwah.


Ya Allah !!! Hancurkan lah orang yang menjadikan kerja dakwah ini untuk kepentingan dunianya.

Subhanallahi wabihamdika ashaduala ilaha ila anta astagfiruka waatubuhu ilaik’
Wabilahi taufiq wal hidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakathan lil alamin…

NB : Selama ijtima berlangsung dilarang keras mengambil gambar baik gambar mubayin maupun suasana ijtima, berhubung iman saya lemah dan masih belum bisa tertib saya mengambil beberapa gambar, semoga Allah swt memaafkan saya dan memberi kekuatan kepada saya untuk selalu berada di atas tertib , amien.  ( untuk Mas Kunto dan Rio potonya ambil aja di FB gw ) bis gak bisa kirim email gak ngerti )

All Teks From Blog Mas Landy Akbar : http://harapandiri.wordpress.com/

Posted in Info Usaha Dawah | 2 Comments »

AKBP Drs. Waris Agono, Msi dan Usaha Dakwah

Posted by palembangopensuse on March 22nd, 2009

NAMA Kepala Satuan Brimobda Lampung AKBP Drs Waris Agono Msi mungkin agak terkesan unik…

Jarang orang bernama Waris, kebanyak adalah Aris. Demikian dengan Agono, kebanyakan Wagono. Namun, rupanya dalam nama ini terkandung arti tersendiri. “Kata orangtua saya artinya anak sederhana,” ungkap lelaki kelahiran Boyolali 28 April 1968 ini.
Selain nama yang unik, Kasat Brimob Lampung ini termasuk sedikit dari pejabat di kalangan Polri yang fasih berbicara masalah agama. Bahkan bila kita berbincang dengannya terasa ada nuansa agamis yang membuka cakrawala kita bahwa urusan manusia bukanlah masalah dunia, pangkat dan jabatan belaka.

Dan, nuansa agamis pula yang dikembangkannya dalam membina kesatuan, terutama anggota Brimob. “Tak kalah pentingnya adalah kita memberikan makanan ruhani kepada anggota, karena kalau makanan jasmani saja maka akan timbul ketidakstabilan,” ujar Waris.

Disadari akar dari tindakan penyimpangan negatif manusia adalah timbul karena per-soalan moral dan ethika. Makanya, pendidikan moral dan ethika menjadi sangat urgen sekarang ini.

Waris menjadi polisi sudah meru-pakan keinginan sejak masih duduk dibangku SD. Terpikat melihat penampilan pamannya yang gagah dengan uniform Akabri, tertanam dalam diri Waris ingin pula menjadi polisi. Makanya ketika orangtuanya menyuruh dirinya masuk SPG atau SMEA, dirinya bersikukuh masuk SMA. “Lulusan SPG dan SMEA kan nggak bisa masuk Akpol,” bathinnya.

Setamat SMA dia masuk Akpol dan langsung lulus. “Saya memang telah menyiapkan diri.Pagi-pagi disuruh lari sama bapak kos saya itu. Dibangunkan diajak lari-lari, saya pun ikut lari terus kemudian diajari kalau tes jasmani, seperti ini, pisikologi begini-begini diajari sama beliau. Terus kemudian saya mengikuti tes pada saat tes itu saya yakin sajalah.”

Dan Waris benar-benar lulus tanpa didampingi sama sekali. Dia mengaku orangtuanya orang kampung, waktu disodori surat pernyataan kesanggupan mengembalikan biaya apabila meninggalkan pendidikan, ayahnya tak mau tanda tangan. Karena takut dari mana harus mencarikan uangnya nanti. Akhirnya waris mengadu ke ibunya dan akhrinya ibunya yang tanda tangan setelah diubah di formulir.

Sejak lulus Akpol 1990 sampai sekarang Waris melulu tugas di kesatuan Brimob. Mula-mula Danton di Satbrimob Pus sampai menjadi Komandan Kompi di sana, walau sempat diselang-selingi pendidikan PTIK dan KIK UI. Setamat KIK UI, Waris menjadi Dan Yon Sat Brimobda Polda Jawa timur berkedudukan di Malang. Tahun 2005 mengikuti Sespim, setamat Sespim menjadi Kaden A Brimob Polri dan sejak 2007 menjadi Kasat Brimobda Lampung. Sebagaimana galhibnya Brimob, Waris pun kerap mengikuti penugasan operasi. Mula-mula Tahun 1994 Dalam Operasi Pulau Galang pemulangan pengungsi Vietnam di Riau, Tahun1998 Komandan Kontingen ABRI Masuk Desa antar Pulau di Aceh Barat, Tahun 1999 Operasi PPRM di Aceh, 1009 juga Operasi Sadar Renjong Aceh, 2003 Operasi Tegak Rencong, Tahun 2003 Operasi Darmil, 2006 Operasi Mutiara di Maluku, lalu Operasi Perdamaian Poso. Berikut wawancara dengan Waris. Petikannya:

Ada pengalaman yang menarik sewaktu mengikuti operasi?

Banyak. Setiap penugasan punya kesan sendiri-sendiri. Namun yang berkesan sekali sewaktu Operasi Mutiara tahun 2006 di Maluku. Di situ saya bertemu dengan ustad-ustad, kepada saya disampaikan bahwa setiap manusia mempunyai kewajiban untuk berdakwah. Karena itu dulu para nabi diutus berdakwah untuk mengagungkan asma Allah namun karena nabi sudah tidak ada lagi siapa yang akan meneruskan usaha dakwah,yah umat manusia akhir jaman ini.Dakwah dapat dilakukan dengan bermacam-macam.Ustad menawarkan untuk ikut dalam usaha dakwah tersebut.

Apabila usaha dakwah berjalan maka tugas polisi enak, karena tugas ini diemban oleh setiap orang. Bukan ulama saja. Jika setiap orang tidak akan lagi mengenal agama, azab terjadi dimana-mana, bila ada kerusakan maka ini bukan salah siapa-siapa karena manusia tidak punya iman lagi.

Karena ini ada hubungan dengan tugas kepolisian lalu saya bertanya bagaimana tehnik dakwahnya, dijelaskan sama seperti Rasul SAW. Rasul berdakwah tidak minta bayaran tapi mendatangi umat, seperti polisi. Polisi yang mendatangi masyarakat bukan masyarakat didatangi polisi.

Mulaiilah saya tertarik. Apalagi di dakwah ada batasan-batasan yang sama dengan batasan di kepolisian, misalnya tidak bicara politik, tidak bicara aib masyarkat, tidak boleh bicara khilafiyah, lalu mendekati ulama, ahli tasauf dsb.

Berapa lama proses sampai Anda mengikutinya ?

Dua bulan. Sebenarnya saat di Kelapa Dua (Mako Pus Brimob, red) saya melihat jamaah selesai salat membaca hadis tentang keutamaan salat, dakwah baca Al Quran. Menurut saya itu bagus, kemudian di Ternate mulailah saya berjaulah dengan ustad. Saya ikut berpakaian sunnah (gamis, red), orang tidak tahu bahwa saya adalah Kaden Satbrimob. Ternyata bermanfaat untuk tugas kepolisian. Dari sini saya tahu bagaimana citra polisi di lapangan. Informasi yang saya dapat ini saya sampaikan ke bapak Kapolda

Adakah perubahan prilaku dan kebijakan dalam diri Anda kemudian?

Ya. Kita kan belajar, bahwa dalam hadis disebutkan bahwa orang yang kuat adalah orang mampu mengendalikan amarahnya. Saya sempat terkejut dengan bunyi hadis ini. Sebab selama ini kalau lihat anggota yang bersalah langsung saya hantam saja. Nah dengan dakwah ini saya dapat memberikan peringatan dengan lemah lembut. Kalau dulu saya keras kini saya sering ajak anggota salat berjamaah. Yang tidak salat saya tanya masak kita dipanggil komandan cepat, apalagi Allah yang memanggil. Nah dengan cara ini ternyata anggota mendidiknya lebih mudah.

Dan keuntungan lain?

Ada perubahan yang besar dalam diri saya menyangkut keimanan. Saat operasi di Aceh kalau tidak ada keyakinan kepada Allah yang menolong mungkin saya sudah meninggal, karena kita disana sering disanggong, dan saya tidak pakai pakaian anti peluru.

Apakah dakwah ini sejalan dengan tugas ?

Justru ini saya sangat tertarik dengan dakwah ini. Saat saya di Malang mendirikan Polmas kami sendiri yang mendatangi warga dari rumah ke rumah untuk melatih anjing milik warga dengan anjing pelacak herder. Nah tehnik mendatangi warga dari rumah ke rumah adalah tehnik dakwah yang saya ikuti artinya sejalan.

Memimpin Brimobda Lampung ini, apa saja yang Anda lakukan?

Sebenarnya saat saya ditugaskan Mabes di sini, saya bertanya dengan diri saya apakah saya mampu untuk melaksanakannya. Saya salat dan percaya bahwa Allah menolong saya. Saya lalu melakukan audit kesehatan organisasi, terutama kondisi seputar manusianya bagaimana, kemampuannya, disiplinnya, kondisi fisik terutama rohaninya. Saya melihat dalam masalah pembinaan rohani telah berjalan namun hanya membaca yasin kemudian mendengarkan ceramah. Ini lalu kita tingkatkan setiap Jumat anggota kita sebarkan untuk salat berjamaah dengan masyarakat, sehingga tidak ada lagi kesan ekslusif.

Jika satuan itu eksklusif atau tidak mengenal masyarakat ia akan cenderung arogan, merasa paling hebat. Tapi dengan mengenal masyarakat polisi mempunyai akan menjalankan sifat pelindung dan pengayoman. Ternyata tanggapan masyarakat terhadap program ini positif. Dan sebelum di Lampung, program ini sudah dijalankan di Ternate dan juga di Kelapa Dua tanggapan masyarakat pun baik. Jadi yang kita jalankan di sini meneruskannya saja.

Ada umpan balik setelah mereka berbaur dengan masyarakat, misalnya laporan atau sebagainya?

Sebenarnya mereka diberi satu kewajiban untuk mengenal satu orang saat mereka berbaur dengan masyarakat. Dan untuk diingat kegiatan pendekatan diri ke masyarakat juga berlaku juga bagi non muslim, sebagai contoh umat Kristen setelah saat mereka ke Gereja pun harus kenal dengan satu orang itu. Nah, kalau satu tahun berapa banyak dia kenal orang. Sudah mengenal 365 teman. Itu satu detasmen. Jadi tiada hari tanpa kawan baru, itu untuk bidang rohani.

Untuk peningkatan fisik?

Untuk pembinaan fisik dengan bela diri. Saya buktikan di Malang dan Kelapa Dua. Sebab bila setiap anggota memiliki kemampuan bela diri rata-rata sama maka dia mampu untuk ditugaskan kemana saja. Kalau di sini kita memilih olah raga bela diri Tarung Derajat karena ternyata sebelumnya di sini sudah ada, namun belum maksimal pembinaannya. Hanya beberapa personal saja. Maka kita masalkan. Seluruh anggota Brimob ikut. Dan olah raga Tarung Derajat ternyata filosofinya sangat tinggi. Misalnya di sana ditanamkan menghormati orang, walau kita mempunyai kemampuan tapi kita harus bersikap ramah. Aku ramah bukan berarti takut, aku tunduk bukan berarti takhluk.

Bagaimana dengan hasil program selama ini, apa bisa dilihat dari penurunan angka pelanggaran disiplin misalnya?

Saya lihat tingkat kedisiplinan meningkatlah. Fisik juga demikian, dulu waktu saya pertama kali datang bertugas di daerah ini mereka diajak lari, lima belas menit mereka sudah teriak-teriak. Sekarang nggak lagi. Tapi pelanggaran tergantung kita melihatnya. Begini tahun 2006 lalu, banyak yang melanggar namun hukuman belum diberikan sehingga tahun ini kita berikan sanksi, jadi pelanggaran tahun ini terkesan banyak padahal pelanggaran tahun lalu. Kalau ini tidak kita berikan hukuman maka kasihan dengan anggota yang lain. Kita juga memberikan penindakan untuk memperbaiki anggota itu sendiri hukuman ini bukanlah balas dendam, tapi demi kebaikan anggota itu sendiri.

Pelaksanaan Polmas di Brimob bagaimana?

Polmasnya sama sebagaimana kami terapkan di Ternate dulu, Polmas untuk Brimob sudah ada pedoman pelaksanaan Polmas sudah diterbitkan Kakor Brimob dan itu memang berbeda dengan Polmas dengan satuan kepolisian wilayah. Brimob Polmasnya Brimob ikatan regu atau kelompok, Polmasnya wilayah kan sendirian. Makanya dengan digabungnya dengan kegiatan agama itu dia ada posko ditempat-tempat ibadah itu. Kalau poskonya di warga masyarakat kita nggak bisa ngontrol. Dengan kegiatan agama maka dia belajar silaturahmi dari ke rumah-rumah, mengenalkan diri nama. Misalnya nama saya Haris saya dari Masjid Mujahidin Brimob Rawa Laut, saya menawarkan bapak ke mesjid untuk salat berjamaah. Lalau setelah salat diajak ngobrol. Ngobrolnya agama memang awalnya cerita tentang dunia kamtibmas dan bicara agama

Anda sekarang masih menjalani kegiatan dakwah ini ?

Insyaallah masih.

Banyak nggak anggota yang tertarik?

Banyak. Tiap akhir minggu, sebanyak 14 sampai dengan 20 orang kita keluarkan jemaah untuk ikut kegiatan agama bersama santri, anggota masyarakat luar. Jadi tidak untuk anggota kita saja. Dengan demikian masyarakat kenal dengan warga. Kalau kita tanya setelah mereka iktikaf tiga hari itu anggota sudah bisa mengaji salat, pulang lebih santun dan jaringan lebih luas. Nah, bicara jaringan, empat bulan saya di sini jaringan saya sudah banyak, sebab jaringan ini diperoleh dari pendakwah-pendakwah itu, jadi informasi kita lebih banyak Dan untuk diketahui ikut dakwah ini bukan untuk ketenaran dunia. Saya ikut untuk memperbaiki diri saya dan bersilaturahmi dengan warga. Karena janji Allah bagi orang yang bersilaturahmi maka akan dipanjangkan umurnya, diampuni dosa-dosanya, diluaskan rezekinya. Bagaimana tidak panjang umurnya kalau saya saja bertemu dengan Anda bawaannya guyon-guyon, tertawa melulu, nah dengan demikian lupa dengan berbagai masalah-masalah,sebab kita berbicara iman dan amal saleh, tidak bicara kejelekan orang, bicara iman maka iman kita meningkat. Diluaskan rezekinya mana tahu kalau saya bersilaturahmi ke rumah bapak, bapak ada jeruk, apel. Kita tidak berharap demikian namun kita hanya berharap kepada Allah. Lalu diampuni dosa-dosanya, dan ini adalah janji Allah.

Lalu dari visi, misi ini Brimob mendukung?

Ya. Sebab menurut saya pembinaan rohani penting. Bukan hanya pembinaan fisik, administrasi, operasional, jasmani. Rohani paling penting karena kalau orang hanya mementingkan jasmani saja dan tidak memikirkan rohani maka orang tersebut akan bersipat hedonisme lalu materialistis. Tapi kalau kebutuhan rohani telah diberi makan maka tersebut akan pandai bersyukur, Alhamdulillah ada rezeki. Hidupnya akan lebih makmur dan bahagia. Karena bahagia bukan karena jabatan dan harta, kebahagian itu bila seseorang menjalankan agama dengan cara sempurna. Kalau Allah letakkan kebahagian hidup dalam harta maka hanya orang berharta saja yang bahagia. Kalau Allah meletakkan kebahagian dalam pangkat maka hanya orang memiliki pangkat saja yang bahagia yang tidak mempunyai pangkat maka tidak akan bahagia. Kalau rohani polisi tidak kuat maka dia akan mencari tambahan dengan cara melenceng, tapi bila rohaninya kuat maka dia akan cari tambahan dengan cara yang halal. Apalagi polisi ini banyak yang jadi ‘kontraktor’, rumah mengontrak lalu kredit motor. Brimob ditata rohaninya agar menjadi baik. Karena Brimob juga banyak yang ‘kontraktor’,rumah kontrak kredit motor. Hanya 20 persen yang memiliki rumah sementara 80 persen kontrak. Yang menjadi persoalannya, biasanya godaan, karena ada imej masak polisi miskin? Itulah dengan ilmu agama tadi anggota dapat menjelaskan kepada warga bahwa tidak setiap polisi miskin, ada yang kaya mungkin pintar berbisnis, polisi banyak temannya mungkin juga dia dapat warisan dari orang tuanya, atau disokong oleh keluarganya.Kalau ada imej bahwa polisi itu kaya dengan cara yang kurang baik maka itu harus dibuktikan dan kita suuzon lagi.

Dalam beberapa bulan ini, setelah Anda bertugas di sini apakah ada anggota yang berubah prilaku?

Insyaallah ada. Kemarin saya mengajak anggota ikut kegiatan pesantren kilat tiga hari, ada yang berubah prilakunya.Yang merubah sifat ini bukan kita tapi Allah, kita hanya berdoa ya Allah rubahlah sifat si A ini.

Ada yang menolak kegiatan?

Ada. Kita telah memperintahkan tapi dia nolak-nolak begitu. Alasannya istri sakit, padahal istrinya tidak sakit. Tapi begitu dia keluar rumah katanya kepada isterinya dia ikut program agama. Nggak tahunya dia bergaul diluar, timbul masalah, dia dugem.Uang habis nggak mau bayar akhirnya ribut. Diajak ibadah nggak mau tapi maksiat mau akhirnya ketangkap juga. Itulah hukuman yang ditunjukkan Allah, dia mendapat tarbiyah (pendidikan) sendiri.

Anda sendiri mempunyai motto dalam hidup?

Banyak. Saya menerapkan prinsip, tiada hari tanpa kawan baru. Lalu, jiwa ragaku demi kemanusiaan. Dan dalam berbuat saya punya motto, orang lain baru berfikir kami sudah berbuat. Dan, kami juga berprinsip, “Kami bukan yang terbaik, tapi kami akan lakukan yang terbaik.”(*)

Kargozari (Laporan) Karkun Mas Lilik :

http://liliekprasetyowidiyono.wordpress.com/2009/02/19/akbp-drs-waris-agono-msi-dan-usaha-dakwah/

Posted in Info Usaha Dawah | No Comments »

Rumah yang memiliki Nur

Posted by palembangopensuse on March 22nd, 2009

Ini Muzakaroh dan Nasehat Mas Landy Untuk Saya, Ma kasih Mas  :

Pada musyawarah mingguan Jakarta ( 23/02/09 ) pak Cecep Firdaus kembali menyampaikan pentingnya perkara ijtima dan harapan para masyeikh dengan diadakannya ijtima tersebut. Ijtima adalah pertemuan 2 kerja, yaitu kerja sebelum ijtima dan kerja sesudah ijtima. Harapan / target diadakannya ijtima tersebut diantaranya :

1.                    Bagaimana setiap masjid hidup amalan agama ( dakwah illallah , taklim wa taklum, dzikir ibadah , khitmad )

2.                    Bagaimana setiap rumah-rumah umat islam hidup suasana agama.

3.                    Bagaimana setiap individu-individu umat islam mengamalkan agama secara sempurna

Selengkapnya di Muzakaroh Mas Landy Akbar (Karkun Jakarta) : http://harapandiri.wordpress.com/2009/02/24/rumah-yang-memiliki-nur/

 

Posted in Umum | No Comments »

Dakwah Kapolda

Posted by palembangopensuse on March 22nd, 2009

Surabaya - Kapolda Jatim baru ternyata mempunyai instruksi unik untuk anak buahnya. Mantan Kapolda Kalimantan Selatan yang memang dikenal agamis tersebut, menginstruksikan sholat berjamaah bagi seluruh anggota polisi yang berada di wilayah Polda Jawa Timur.Dalam pidato usai pelantikan atas dirinya, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam mengatakan bahwa untuk menciptakan suasana sejuk dan damai di Jawa Timur, maka masyarakatnya harus taat beribadah, dan itu dimulai dalam tubuh kepolisian.

“Agar Jawa Timur sejuk, ibadah harus ditegakkan, bagi yang muslim, harus sholat berjamaah,” ujar Anton dalam pidatonya kepada anggota Mapolda Jatim beberapa waktu lalu.

Rupanya instruksi sholat berjamaah tersebut ditindak lanjuti secara serius oleh Anton, hal ini dibuktikan dengan ajakan sholat berjamaah melalui pengeras suara setiap kali waktu sholat di lingkungan Mapolda Jatim. Bunyi ajakan sholat tersebut kurang lebih sebagai berikut.

“Kepada setiap anggota Polda Jatim, sesuai atensi Kapolda, bagi yang beragama Islam, diharap sholat berjamaah di Masjid Nurul Huda (kompleks Polda Jatim) dan tinggalkan segala bentuk aktivitas, tertanda karo ops Mapolda Jatim”.

Ajakan tersebut ternyata sangat berpengaruh, Masjid Nurul Huda kompleks Mapolda Jatim yang biasanya sepi, dari pantauan beritajatim.com tadi siang sewaktu sholat Dzuhur, Selasa (24/02/2009), terlihat penuh hingga ke halaman depan masjid.

.gallery { margin: auto; } .gallery-item { float: left; margin-top: 10px; text-align: center; width: 33%; } .gallery img { border: 2px solid #cfcfcf; } .gallery-caption { margin-left: 0; }

Tak hanya menginstruksikan sholat saja, Anton juga memerintahkan seluruh anggotanya, baik yang beragama Islam maupun beragama lain untuk meninggalkan aktivitas pekerjaannya sepuluh menit sebelum waktu sholat untuk berbondong-bondong ke Masjid. Sedangkan bagi yang beragama lain, diharapkan untuk berkumpul di suatu tempat dan melakukan doa atau ibadah menurut ajarannya.

Selain perintah sholat, Anton juga memerintahkan seluruh anak buahnya baik yang ada di Mapolda Jatim maupun jajaran untuk melakukan baca Al Quran sebanyak 30 juz (khatam) setiap harinya sehabis sholat subuh.

Ketika hal ini dikonfirmasikan kepada Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Puji Astuti, Puji membenarkan bahwa instruksi kapolda mengenai sholat dan baca Al Quran tersebut memang sedang giat dilakukan oleh anggota polisi di seluruh jajaran Polda Jatim.

“Ya, kita memang sedang giat menjalankan kegiatan keagamaan,” ujar Puji saat ditemui di Mapolda Jatim jalan A Yani Surabaya, Selasa (24/2/2009).

Instruksi Anton untuk segera meninggalkan aktivitas ketika memasuki waktu sholat tersebut tidak hanya kepada anak buahnya saja, Anton sendiri juga melakukan hal yang sama, ini bisa dibuktikan ketika acara serah terima jabatan sebagai kapolda beberapa waktu lalu, Anton bersama Kapolda lama Irjen Pol Herman S Sumawireja meninggalkan acara sejenak, ketika sudah tiba waktu sholat Ashar dan melaksanakan sholat berjamaah di Masjid Nurul Huda kompleks Mapolda Jatim.[rif/kun] Reporter : Arif Fajar A

Kargozari from karkun : Mas Fajar

http://fajarhargunaep.wordpress.com/

Posted in Info Usaha Dawah | 4 Comments »

Markaz Da’wah Tabligh Seluruh Dunia

Posted by palembangopensuse on March 22nd, 2009

ABU DHABI
Kaleem Razal, Al-Musaffah, Abu Dhabi. 971-2-721-..

AFGHANISTAN
Haji Md Meer, Sarai Nelam Farrush, Shahbazar, Kabul. 155-23798

AFRICA SOUTH
Markaz, Bait-un-Nur, 17, 11th Avenue Mayfair, Johannesburg. 011-8392633
Kirk St Masjid, 12 Kirk St, 2001 Johannesburg. (G. M. Padia) 27-31-923-841, faks 27-11-852-4011

ALBANIA
Dr Abdul Latif Saleh, Tirana. +355-42-25440/25438
Seshi Avni Rustemi, Tirana. +355-42-23038
Dr Skender Durresi, Tirana. +355-42-32710

ALGERIA
Masjid An-Najah, Al-Mohammedia, Algeria. (Belqasim Merad 213-2-750)

AMERICA
Dearborn Mosque, 9945 West Vernor Highway, Dearborn, Detroit. +1-313-8429000
Markaz New York, 425, Montauk Avenue, Apt. 1, Brooklyn, New York.Markaz, Masjid Falah, 42-12, National St., Corona, New York. (Loqman Abdul Aleem) +1-718-4767968
Abdur Raqeeb, 130, 69th St., Guttenberg, NJ 07093. +1-201-86.. , +1-718-8587168 (faks - Faqir)
Markaz, 820 Java Street, Los Angeles. (dekat Arbor Vitae St.) +1-310-4199177 (Dr Abd Rauf)Farouq Toorawa, Los Angeles. +1-310-6755456
Masjid Al-Noor (Markaz), 1751 Mission Street, San Francisco. +1-415-5528831Vallejo Mosque, 727 Sonoma Boulevard, Vallejo, California. +1-707-6452024
Naser Sayedi, 1777 East West Road, P.O.B. 1703, Honolulu. +1-808-735..L/Cpl Chaudary, Hawaii. +1-808-2575721Islamic Centre, 1935, North Eo Place, Manoa, Honolulu.

ANGOLA
Comunidade Islamica em Angola, Caika Posta 2630, Luano.

ARAB SAUDIA
Abdul Ghaffar Noor Wali, Jeddah. 966-2-6371607
Ghassan 6823041
Dr Ahmad Ali, P.O. Box 22310, Riyadh 11495. 966-1-6023679

ARGENTINA
Ahmad Abboud, Centro Islamico, Av. San Juan 3049/53, Buenos Aires. 54-1-973577

AUSTRALIA
Markaz, 90 Cramer Street, Preston 3074, Melbourne.Sheikh Mo’taz El-Leissy, Melbourne. 61-3-94784515
Markaz, 765 Wangee Road, Lakemba, Sydney. 61-2-97593898
S. Hamid Latif, Lakemba Mosque, 63/65 Wangee Road, Lakemba 2195, Sydney. 61-2-759-3899, 61-3-470-2424
Markaz, 427 William Street, Perth.Abdul Wahab, Perth. 61-9-4596826

AUSTRIA
A. Khaleque Qureshi, Masjid Belal, Diefenbachgasse 12/12, 1150 Wien. 43-1-9387615, 43-1-7366125

AZERBAIZAN
EW S. Uzair M. Ali, Orzhenigidzebskoy, Noboy Gumarbel M3/2F (?)

BAHAMAS
Jamaat ul Islam, P.O. Box 10711, Nassau.

BAHRAIN
A Aziz Baluch, P.O. Box 335, Manama. 953-256-707

BANGLADESH
Maulana A Aziz, Kakrail Masjid, P.O. Ramna, Dhaka. 88-02-239-457

BARBADOS
Maulana Yusuf Piprawala, Kensington New Road, Bridgetown. 1-809-426-8767

NETHARLAND
Moskee Arrahman (Markaz), Van Ostade str. 393-395, 1074 Amsterdam. (Tram no. 4 dari stesen keretapi) (Al-Kabiri) 31-20-764073

BELGIUM
Masjid Noor, Rue Massaux 6, Gemeente Schaarbeek, 1030 Brussels. (Mostafa Nooni) 32-2-219-7847
Masjid Van Slambrouck, Fortuin St. 6, B8400 Oostende.

BELIZE
Md Riaz, 3132 Kraal Road, Belize City.

BERMUDA
Md Mosque, Basset Bldg Court, St. Ram, Hamilton.

BIERA
Omar Osman, P.O. Box 382 (?), Biera. 23260

BOLIVIA
Biab Khalil, P.O. Box 216, La Paz. BX 5418 (teleks)

BRAZIL
A Aziz Alinani, Imam, Centro Islamica, Ax W-5 Norte, Brazil. 55-11-278-6789

BRITAIN
Markazi Mosque, South Street, Saville Town, Dewsbury. (Hafez M Patel) 44-924-460760, 44-924-46685? (faks)
East London Markazi Masjid, 9-11 Christian St, Off Commercial Road, London E1. (Zulfiqar) 44-71-4811294

BRUNEI
Hj Jamili Hj Abbas, 647 Kg Lumapas. 673-8-810480, 673-2-337488. jamil@brunet.bn
Hj Mahadi, Bandar Sri Begawan. 332148

BULGARIA
Mufti Basri Osman, Plovdiv. 359-2-233-109

CHAD
Masjid-e-Noor, Share Namer, N O’Jamina. (Adam Yusuf Amin)

CHECHEN
Dudaeb Shakmarze, Ul. Khakalskaya 90/2/42, Grozni.

CHILIE
Taufiq Rumie, Edwardo Castillo Valesco 1160, Nunoa, Santiago. 56-2-496-081, 56-2-294-182

CHINA
Hilal D. C. Guangyun, V. C., Stand Comm, East Dist. Peoples Congress, ..

DAGASTAN
Habibullah, Sk Mohuddin, village Gubdan, Lewanshowski.

DENMARK
Shehzad Ahmad, Makki Masjid, Brikegade 4 KLD, N Kobenhavn (Copenhagen). 45-43-(35)-361-513
Centre Mosque, Morbaerhaven Block 18 c/4, 2060 Albertslund. 02-454368

DUBAI
Shaikh Hamdan, Masjid al Kasis, Al Kasis No. 3, dekat Umm Kulsum Che..

IRELAND
Masjid, 7 Harringto Street, Dublin.
Dublin Islamic Centre, 163, South Circular Road, Dublin 8.
Md Shigara, 21, Wolseley Street, Dublin 3. 353-1-540-027

ETHIOPIA
M. M. Kechia, Abu Bakr Masjid, Kwas Maida, Addis Ababa. 251-1-130-208, 135-823 (Ibrahim Sufra)

FERRINGI
Abu Bakar Sulil, Masjid Odiveas, Rua Thomas de Anunciacao 30 R/C Esq, Odiveas 2675, Lisboa.

FIJI
Noor Ali, Raki Raki Jama Masjid, P.O Box 15, Raki Raki, Fiji. 679-24440, 679-94002

PHILIPPINES
Masjid Abu Bakar, Marawi City, Lanao del Sur, Mindanao.

FINLAND
Omar Nizamuddin, Puutarhankatu 18A, Helsinki. 358-21-513-572
Masjid, Fredrinkatu 33B, 00120 Helsinki 12. 358-0-643-579, 358-0-149-6395
Masjid, Abrahaminkatu

GAMBIA
Abdul Wadood, Arabic Madrassa, Serekunda.

GHANA
T. Osang, P.O. Box 170A, Rock of Islam Mosque, Labadi, Accra. 233-21-663-443, 665-060

GUINEA
Md Boye, P.O. Box 12294, Barry, Conakary.

GUINEA BISSAU
Abayu Bayo, Jamia Kabir, Bissau.

GUYANA
Azim Khan, 35, Kraig Village, East Bank, Demerara. 592-(02)-62269 (Georgetown)

HONGKONG
Masjid Ammar, 40-01 Kwon Road, Wanch.. 5-892-0720 (Md Qadeem, Zafar 852-3-5-239-975)

HUNGARY
A. Hafez, Flat 9, 84 Linen Kurt, Budapest. 36-1-833-905, 36-1-276-0482 (Babikir)
Dr Izzedin, Estergomiut 56/VII/26, 1138 Budapest.
Ibrahim, Fortuna (hotel murah), Szolgaltaro GMk, 1073 BP, Akacf..

INDIA
Banglawali Masjid, 168 W. Nizamuddin, Basti Nizamuddin, New Delhi. 91-11-494-7137 (faks: Farooq), 617-142 (..)

INDONESIA
Masjid Jamek, 83 Jalan Hayam Waruk, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. (Ahmad Zulfikar) 62-21-821-236, 639-5585, 682-378
Masjid Istiqlal, Jalan Yos Sudarso, Dumai, Sumatra Barat.

IRAN
Al Amir A Roaf, Masjid e Tauhidi, Zahedan.

IRAQ
Sk Kazim, Montaga Buhimania Al Karich, Share Mar’uf, Baghdad.

ITALY
El Amrani, 3231 Via Vanzetti No. 3, Cita di Sudi (Cascino Rosa), Milano. 39-10-952-20?, 39-6-802-258
Masjid, Via Bertoloni 22/24, Roma
Masjid,Via Berthollet 24, Torino
Masjid, Via de Groce 3 (Tingkat 4), Trieste

GIBRALTAR
Masjid Cesemate Sq., Main Street, Gibraltar. 350-73058

JAMAICA
Naeem A. Muta’ali, Muslim Community, 54 Wildman Street, Kingston. 1-809-9283516 (Akbar), 9286789 (Naeem)
Islamic Center of Jamaica, 134 1/2 King Street, Kingston.

JAPAN
Markaz Islaho Tarbiyat (Ichnowari), 1-1-6 Bingonishi, Kasukabe-Shi, Saitama-Ken, Tokyo 334.Ibrahim Ken Okubo, Room 105, Bingo Higashi 1-22-20, Kasukabe Shi, Saitama Ken, Tokyo 344. 0487-36-2767 (tel) 04-8738-0699 (faks)Syed Sohel 04-8736-2767
Masjid Darus Salam, 772, Oaza Sakai, Sakai Machi, Sawa-gun, Gunma Ken.Hafiz Afzal 030-146-1419
Masjid Shin Anjo (Nagoya), Bangunan Kamimoto, Tingkat Satu, 1-11-15, Imaike-cho, Anji-Shi, Aichi Ken. Najimuddin 030-56-32101Nufail 030-56-50432, 056-698-9408
Masjid Takwa (Chiba), Sanbu-Machi, Sanbu-Gun, Ametsubo 65-12, Chiba Ken (dekat stesen JR Hyuga).Lokman 043-444-5464, 030-067-9223Shamin 010-404-4748
Makki Mosque (Narimasu, Tokyo), stesen Narimasu (Tobu line).Asraf 010-609-2479
Markaz Hon-Atsugi (Kanagawa). 0462-27-5936
Islamic Center, 1-16-11 Ohara Setagayu ku, Tokyo 156. 03-7870916, 4606169
Islamic Center, C Hoko Mansion 4-33-10 Kitazawa, Setagaya ku, Tokyo 156.
Nerima K. K. Mati, 1-30-17 Kopsaki 205, Tokyo. 81-3-450-6820, 81-3-553-7665 (Ismail), faks 81-3-458-3967
A. Aziz Mecavale, 175 Kumitashi Cho, Tokyo. (d/a Akarim Seth)

GERMANY
Md. Nawaz, Masjid, Muenchener str. 21, Frankfurt. (06175)1673, (0221)550..
Md. Nawaz, Berliner str. 31, 6374 Steinbach. (06171) 75360
Barbaros Gamii (masjid), Kyffhavser str. 26 (dekat Barbarossa Platz), 5 Koeln 1 (Cologne). (Husseinbeg Firat 467477, Zia) 0211-213870
Masjid, Lindower str. 18-19, 1000 Berlin 65. (030) 4617026
Masjid, Landwehr str. 25, Muenchen (Munich). (dekat stesen keretapi)
Masjid, Steindamm, Hamburg. (dekat stesen keretapi)
Masjid, Haupsletter str. 715, Stuttgart. 0711-6406775

JIBOUTI
Salem Ahmad, Deeday Masjid, P.O. Box 730, Djibouti. 253-762-189, 5818 FIANEA (teleks)

JORDAN
Md Mustafa Al Wafai, Masjid Madeenat al Hujjaj, Mukhayam Het.. 962-6-774-257

KAMEROON
Osmany c/o Alhaj Md, P.O. Box 19, Marwah.237-291-5..

CANADA
Medina Masjid, 1015 Danforth Ave., Toronto. (Ismail Patel / Anjum Mohammad)1-416-465-7833.

KAZAKHASTAN
Baba Khanov, Muslim Religious Board of Central Asia, Alma Ata.

KENYA
A. Shakoor, Londi Mosque, sebelah balai polis Kamakunsi, Nairobi. 254-2-764-224, 254-2-340-965

KIBRIS
Ahmet Cetkin, Harika Camii, Palamud Sok No. 11, Asa Marao.

SOUTH KOREA
Imam Qamaruddin, Masjid Annur, GPO Box 10896, Seoul. 82-2-556-…

COSTA RICA
Mostafa Md Imam, Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose. 506-272-878

KUWAIT
A Rashid Haroon, Subhan Markaz, Al Mantiga Sinaere, Kuwait.

LAOS
Maulana Qamaruddin Noori, Masjid India, P.O Box 617, Vientianne. 3776..

LIBERIA
S M Azmat Subzwari, Randall Street Mosque, Monrovia. 231-225-0..

LIBYA
Mustafa Kuraitty, Jame al Badri, Bab bib Ghasher, Tripoli. 218-61-72138..

LEBNON
A Hasib Sar Hal, Imam Ali ut Tariq Jadidah, dekat Madrasah Farooq, Beirut.

LUXEMBURG
Islamic Centre, Route Darlon 2, Mamar. (S. B. Khan Afridi) 352-311-695..

MADAGASKAR
Yakub Patel, P.O.Box 101, Tamatave. 261-5-33202

MOROCCO
Alhaj Ali, Masjid en Noor, Hayya Araha 61, Darul Baida, Casablanca. 212-366-483..

MALAWI
Ebrahim Makda, Juma Masjid, Kamuza Proc. Road, Lilongwe. 265-720216

MALAYSIA
Masjid Jamek Sri Petaling, Bandar Baru Sri Petaling, Kuala Lumpur. 60-3-9580515. 60-3-7595063 (Madrasah Miftahul Ulum). 60-3-7586134 (faks: Hj Khalid)
Abdul Wahid, Kota Kinabalu. 088-232994 ®, 088-225081 (o).

MALDIVE
Ibrahim Hassan, G. Aabin, Male Island.

MALI
Ismail, Markaz Haidara, P.O. Box 1551, Bamako. 223-22-22..

Malta
Md El Sadi, Islamic Centre, Corradino Road, P.O. Box 11, Paola, Malta. 356-772-163..

MAURITIANA
Daud Ahmad, Masjid Shurfa, P.O. Box 14, Nouakchott.

MAURITIUS
Masjid Nur, Gora Issac St., Port Louis. 230-2424904
Mir AM Soorma, Shaukat Islam Mosque, P.O.Box 328, Port Louis. 230-26..

MEXICO
Mir Y Ali, Norte 40A, No. 3612A, Col 7 de Noviembre, Mexico DF.. 537-1138

EGYPT
Masjid Anas bin Malik, Madinatul Muhaddithin, Share Iraqu Giza, Cairo. 20-2-702-804, 20-2-348-6185

MOZAMBIQUE
Md Rafiq Ahmad, Av Dazambia 305, I C Flat 4, Maputo. 258-2378..

MYANMAR
B. A. Ground Mosque, dekat stesen keretapi Rangoon. 95-1-74436, 3100 (Bhay)

NEW ZEALAND
Abdul Samad Bhikoo, Auckland Mosque, 17 Vermont Street, Ponsonby, Auckland. 64-9-3764437
Masjid AnNur, Christchurch. 64-3-3483930
Ishan Othman, Dunedin. 64-3-4767121

NIGER
Yahya Sa’ati, Sooq al Kabir, dekat Mohatta Sayarat, Niamey.

NIGERIA
Hamza Oshodi, Central Mosque, 37 Church Road, Saban Gari, Kano. 47-2-9883..

NORWAY
K. M. Riaz, Bilal Masjid, Tordenskjolds Gt. 86, 3044 Drammen. 47-2-9883-..
Islamic Centre, Nosdahlbruns Gt. 22, Oslo 1.

OMAN
Masud Harthi, Jame Khalid ibni Walid, Assib, Muscat. 92-21-415..

PAKISTAN
AlHaj A. Wahab, Madrassa Arabia, Raiwind, Lahore. 92-21-415.., 92-21-216..(faks)
Makki Masjid, Garden Road, Karachi.

PANAMA
A F Bhikoo, Jama Masjid, 3rd Street & Mexico Avenue, Panama City. 517-256-44..

PANTAI GADING
Md Amin (Jallo), Masjid Ahlesunnah, P.O. Box 110, Danane. -(225)-635-320 (Boike town)

ILLIONIS
Sh. Yunus Tlili, Masjid Rahman, Ave. Paul Vaillent Couturier 52, 93200 St Denis. 33-1-48.23.78.89, 48.26.78.78
Markaz Marseille, Rue Malaval 24, 13002 Marseille. 91908047

PERU
Naguib Atala, Casilla 3134, Lima. 51-14-294-620

POLAND
Yakub, ul. Piastowska 77, Bialistok.
Masjid, ul. Abrama 17A, Gdansk.
Boguslaw Zagorski, ul. Rozlogi 6 Apt. 51, Warszawa (Warsaw).

PUERTO RICA
Arab Cultural Club, Km 5, KMO 65th Inf Ave, Rio Piepras, PR0092.

QATAR
Abdullah Ahmad, Masjid Mantaya Sanaiya, P.O.Box 40621, Doha.

REUNION
Yusuf Lockati, Masjid Nurul Islam, 97400 St Denis. 262-200..

ROMANIA
Masjid, Ovidiu Square, Constanta.

RUSSIA
Masjid, Prospect Mira (dekat Olympic Station), Moscow. 281-4904
Sayyid Akhtar, Moscow. sar_bob@hotmail.com

RWANDA
A Majid Suleman, Medina Masjid, Kegali. 250-7536

SENEGAL
Sk Ahmad, Masjid Al Noor, P.O. Box 1955, Colobane, Dakar. 221-223-262

SIERRA LONNE
Hassan Taravaly, 4 Rush Street, Circular Road, Freetown.

SINGAPORE
Masjid Angulia, Serangoon Road. 02-2971624
Hj Jufri, Block 210 #07-91, Tapines Street 23. 02-7832358
Hj Hassan 02-4442312
Najmuddin 02-2914742
Abdul Karim 02-4439294

SOMALIA
S Sheraff, Masjid e Dawat, Magaiscia. 252-1-81963

SPAIN
Musa Taha, Mezquita Ataqua, Calle Correo Viejo - 4, Albaicine, Granada. 34-58-255-611

SRILANKA
Tablighi Markaz, 150 Lukmanjee Sq, Grandpass Rd, Colombo. (Md Lebbe Master) 94-1-25910

SUDAN
Dr D H Khalili, Masjid Hamddab, Ash Shaharah, Khartoum. 249-11-222428

SURINAM
Mufti B Piprawala, Masjid Taedul Islam, Mutton Shop 10B, Paramaribo. 597-81394

SWAZILAND
Md Hassan, P.O. Box 201, Maikerns. 83327

SWEDEN
Markaz, Tarsgatan 91, Stockholm. 46-8-334-490 (A Raof), 46-8-750-8511 (S Zaidi)
Dr M Piar Ali, Tarsgatan 45B, Stockholm
Tonsbergsgatan 4, 3TR, 16434 Kista. 46-8-719-3215 (P Ali)
Masjid, Gamlagatan, Uppsala. 46-18-21998281

SWITZERLAND
Hussain Osmani, Muslim Association, 2-A Linderain str Post F 1650, 30012 Berne. 41-31-228-396, 556-321
Masjid, Chemin Colladon 34, Petit Saconnex, Geneva. (Tram no. 12) 7987311
Islamic Center, Narstr. 19, Zurich.
Masjid, Tingkat 3, Ausstellungstr. 21, Zurich.

SYRIA
A M M Hosni, Razaqul-Jin-Sary, Zaid b Sabit, Merchant Modaiya, Damascus.

SHARJAH
Ali Bhai Patel, Al Futiaim Motors, P.O. Box 5819. 971-6-548-629

TAZAKISTAN
A Rahim Mostafa, Masjid Shah Mansoor, ul. Wasfe, Dushanbe.

TAIWAN
Chinese Muslim Association, 62 H’sin Shen South Rd, Sec 2, Taipeh. 886-2-522-4473
Nurrdin Hsueh Wen Ching, P.O. Box 1430, Kaohsiung. 886-7-7498749, 886-7-5215771

TANZANIA
Sayed Mohsin, Medina Masjid, P.O. Box 5050, Dar es Salam. 255-61-26455

THAILANH
Hanif A. Shakur, Masjid Aslam, Bangkaoli, Bangkok. 662-235-3956..
Markaz, Minburi. (30 km dari pusat Bangkok)
Markaz, Yala.

TOGO
Imam Ratib, Sk Al Hassan, Grand Mosque, Zongo, Lome.

TRINIDAD
Raziff Ghany, Monroe Road Masjid, Monroe Road, Cunupia. 809-650-1985

TUNISIA
Mestaoui Habib, 28 Rue Ibn Khaldoun, Ben Arous, Tunis. 216-1-380-843

TURKEY
Umar Vanlioglu, Mescidi Salam, Sultan Ciftligi, Habibler Koyu, Istanbul. 90-1-3854053, 90-1-5951773, 90-1-5054619 (faks: C. Korkut)

TURKEMINISTAN
Uraz Murod, Uraz Md, Haji Noor, Masjid, Ashkabad.

UGANDA
Omar Mazinga, Masjid Nur, William St., P.O. Box 2046, Kampala. 256-41-246-63..

UZBEKISTAN
Murad, Madrassa Mir e Arab, Bukhara. 42170
Imam Mustafa Khul, Samarkand, 353268
Ziauddin, Idara Diniyat, Tashkent. 351307

VENEZULA
Farooq A Rahman, Islamic Center, Calle-9, Urb La Paz, El Paraiso, Caracaz. 58-2-498322?

VIETNAM
M. Zakaria, Mutawalli Mosque, 66 Tnilap Thanh, Saigon.
Masjid Annur, 12 Hang Luoc street, Hang Ma ward, Hoan Kian precinct, Hanoi.
Ustaz Muhsin, Madrasah Arabiah, 25A Lang Ha street, Hanoi.

YEMEN
Hamood Faki, Masjid As-Sawad, Al Habbah Annagal St, Al Harabi, Sana’a. 967-2-227-246

YUGOSLAVIA
Jusufspabic Md., Jevremova 11, 11000 Belgrade. 38-11-642-043, 622-654

GREECE
Greece Markazi Masjid Rassos, 9 Galaxia Strape (dekat Kosmos), 117/45 Athens.
Munir Mahmud, G. Papandreau 87, Goudi, Athens. 30-1-775-8155, 30-531-24863 (Hussein Mostafa)

ZAIRE
A. M. Patel, 39 Mama Yemo, P.O. Box 155, Likasi. 243-12-28272

ZAMBIA
Ahmad Nomani, P.O. Box 510191, Chipata. 260-62-21161
Ahmad Karodia, Md Ravat, P.O. Box 30324, Lusaka. 260-1-212-023

ZIMBABWE
Y. Hussain, Ridgeview Masjid, Boeing Road, Ridgeview. 263-4-292..

Posted in Info Usaha Dawah | 1 Comment »

9 Target Da’i Selalu Jadi Target Spam

Posted by palembangopensuse on March 3rd, 2009

Palembang, 3 Maret 2009. Malam ini coba buka blog ada 3 koment dan anehnya ada 1 koment yang merupakan spam dan yang mendapatkan spam itu postingan saya disini http://sukurpalembang.opensuse-id.org/2009/01/04/9-target-dai/  , saya juga merasa heran sudah sangat sering sekali postingan ini selalu dibanjiri spam. Saya pikir pelakunya orang-orang yang tidak beriman kepada Allah SWT dan benci kepada Allah SWT dan orang itu saja yang melakukannya. Saya doakan semoga anda sang pengirim spam mendapatkan hidaya dari Allah SWT dan bisa aktif dalam usaha dakwah ini dan dia bisa korbankan harta diri dan waktunya untuk agama Allah SWT. Amin.

Posted in Info Usaha Dawah | 1 Comment »

Download Bayan Masyech dan Maulana pada Ijtima Tongi 2009

Posted by palembangopensuse on February 4th, 2009

http://www.banglakitab.com/ijtima.htm

http://miahbai.multiply.com/journal/item/9/BANGLA_WAAZ_ISLAMIC_BOOKS

Artikel lain di    http://www.network54.com/Forum/167338/thread/1013232550/last-1013232550/Ijtimak+Tabligh+ke-37

Posted in Info Usaha Dawah | 4 Comments »

Keeping Busy On the Path of Allah The Self-Organisation (Intizam) of the Tablighi Jama’at

Posted by palembangopensuse on February 4th, 2009

In recent years the Islamic missionary movement of the Tablighi Jama’at has attracted increasing attention, not only in South Asia, but around the globe. This is partly to do with the huge number of followers assembling at its annual congregations in India, Bangladesh or Pakistan, often counting between one and two millions. This attention is also generated by the fact that traditional Islam did not know an organised proselytising movement until the Tablighi Jama’at was formed. The by now global network of its activities is another instance where Southasian Islam has contributed to the evolution of global Islamic activism.

While their congregations - ijtima - create much publicity and the groups of their travelling preachers are widely known and recognised among Muslims, little is known outside the movement about the way it operates on a daily basis, how it organises its activities on a mass scale. This self-organisation in daily parlance is called intizam (administration). But in writing it is rarely admitted to exist. The current paper is based on interviews with informants in Aligarh, Bhopal and Delhi in December 2001 - January 2002, unless mentioned otherwise. It seeks to highlight the practical dimensions of the Tabligh work which is rarely documented in academic publications. So far mostly the hagiographic and propagandist literature of the movement has served as the basis for analysis (Anwarul Haq 1972; Masud 2000). The movement has often successfully deflected investigative attempts by non-Muslim scholars. However, lately the number of case studies has increased. They concentrate on the movement’s transnational activities in countries such as Bangladesh, Britain, and Morocco (Yoginder Sikand 2002; Faust 2001); or on local branches such as in the Indian state of Orissa (Zainuddin 2001). The internal workings of the Tablighi Jama’at still await definitive treatment.

The philosophy of the movement has been discussed in the academic literature extensively. It is summarised in the famous six points, demanding to focus attention on (1) the confession of faith by reciting the kalima; (2) praying regularly and correctly (salat); (3) acquiring religious knowledge and remembering God (ilm, zikr); (4) respecting fellow-Muslims (ikram); (5) reforming one’s inner self through pure intentions (niyyat) and (6) going out in the way of God (nafr) (Faridi 1997: 114-116).

The movement’s self-declared objective is the so-called internal mission, to make Muslims better Muslims, as the Tablighis say. It strongly denies any political ambitions. Yet its efforts to ‘re-islamize’ large numbers of Muslims cannot but have political consequences if only by providing a fertile ground for the activities of Islamic political parties and radical or militant groupings. The movement is pre-dominantly male-oriented, although it does organise women’s activities on a limited scale in ways strictly conforming to prescriptions of dress and modesty by Islamic law. Women’s activity may partly be regarded as emancipatory, if compared with traditional gender roles in South Asia or in other Islamist movements (See Barbara Metcalf in: Jeffery, Basu et al. 1999; Masud 2000).

The travelling preachers

The Tablighi movement came into being in 1926 when Muhammad Ilyas (1885-1944) started preaching correct religious practices and observance of rituals to Muslim tribes in the region of Mewat around Delhi (Cf. Mayaram 1997). In this Ilyas joined other Muslim activists and groups who opposed the Arya Samaj preachers since the early 1920s. The area had become a battle ground for the souls of the local tribal population whose ancestors had converted from Hinduism to Islam. Since then the tribesmen had retained a number of earlier non-Islamic customs. The reformist Hindu movement of the Arya Samaj aimed at reclaiming these tribes for the Hindu faith into which they would be readmitted after ritual “purification” - Shuddhi - the name by which the campaign became known. Contacting local elders, Ilyas aimed at reorganising the religious and social life of the tribals creating new facilities for religious education and improving social communication through regular council meetings in villages. His main innovation, however, pertained to the introduction of travelling lay preachers who were being dispatched to other Muslim regions in India. Their objective was twofold: the participants should reform themselves on these tours and they should carry the faith to other fellow-Muslims who so far had remained passive or disinterested in the observance of religious practices. Those preaching tours became the hallmark of the Tablighi movement. Today Tablighi lay preachers practically cover the whole Islamic world and all western countries where Muslims live.

The groups are formed at the local Tablighi centre which is usually attached to a Deobandi mosque or madrasa. Starting with Ilyas’ personal association with the Dar al-Ulum of Deoband, the movement has been supported by religious scholars, ulama, propagating the purist teachings of this seminary located in the north Indian state of Uttar Pradesh (U.P.) (Metcalf 1982). The Tablighi movement also kept close contact with the Nadwa seminary from Lucknow, the capital of U.P. (Malik 1997). Lists of volunteers are being kept at the Tablighi centres where destinations and routes of preaching groups are decided and reports are submitted afterwards.

The groups are expected to take care of their own travel expenses. This condition puts a ceiling on the travelling ambitions of some members as groups may travel to other countries and even continents. Yet there has always been some speculation that part of the travelling expenses, as well as of the cost of running the organisation, is borne by unnamed benefactors who may be private citizens from the business community, but also from sympathetic countries such as the Gulf States.

The association of followers with the movement is mostly a temporary one, lasting for the duration of the particular preaching tour. Those counted among the regulars would spend three days or more per month on Tabligh activities. Regulars would make up between 10 and 25 % of Tablighi followers. Some give up their worldly pursuits entirely to spend their life in the service of the movement, either at its administrative and religious centre, the “Bungalow Mosque” in the Nizamuddin area of Delhi or at some local centre. They would lead a pious and ascetic life not dissimilar to the Hindu holy men, living on donations by family members or fellow Tablighis. This may occasionally create problems for the families of these lifetime Tablighis who lose their bread-winner. It is therefore officially discouraged but occasionally condoned.

The travelling groups would usually arrive at a local, mostly Deobandi mosque. There they would stay for two to three days and sleep inside the mosque - which is a practice not fully accepted by all ulama. They always are self-sufficient with their bedding and cooking utensils which they carry with them. After prayer they go out and tour the local Muslim community. They knock on doors of most houses to invite people to come for the next prayer to the mosque. While responses vary, between 2 and 10 % of those approached may turn up at the mosque out of which some might have come anyway to say their regular prayer there. After a joint prayer they are given an inspirational religious talk (bayan), reciting religious principles, instances from the Quran and the Prophetic traditions (hadith). Usually a session of religious education follows (ta’alim). This consists of reading from a book written by one of its founding fathers, Maulana Muhammad Zakariya (1898-1982), “The Virtues of Good Deeds” (Faza’il-A’mal), which the movement has adopted as standard educational reference material (Zakariya, 1994). It presents a compilation of religious texts, mainly Prophetic traditions. Then those present are called upon to volunteer for future preaching tours (tashkil). People stand up and give their name and local association which is being noted down in a special register or book kept at the mosque. Later the new volunteers will be taken up on these pledges and reminded to live up to them. When the group returns to its home base it will report to the local Tabligh centre either in oral or written form (karguzari).

Derived from the travelling practice as its main form of activity, the official arrangements for the work of the movement are kept deliberately provisional and temporary. It is part of the self-image of the movement that it is wholly based on voluntary work with little or no administrative input. The movement keeps no official publications, no formalised leadership structure, no written set of rules or objectives. Yet this self-representation carefully camouflages a different reality of a highly hierarchical leadership which exerts significant moral and social pressure for compliance, a reality that comprises a wide range of unofficial publications detailing the guidelines and the rules by which the work has to proceed, a reality that includes a differentiated and well-defined administrative structure. There is an unwritten constitution of the movement that determines in great detail what issues are confronted in what way and how the work, that is organising the preaching tours, is being conducted, how new members are being attracted and how issues of leadership and guidance are being solved.

The congregations

Next to the preaching tours, its congregations (ijtima) constitute the most well-known feature of the Tablighi movement. They are of various scope: local, regional, national or international/global. A sub-variety is constituted by student or youth ijtimas. On one side they take up the tradition of the weekly Friday prayer congregation at the local mosque, on the other they represent a kind of community ‘orientation’ meeting, which perhaps has grown out of the initial local community meetings in Mewat with religious scholars and tribal elders.

Basically their programme closely follows the itinerary of the preaching tours, consisting of joint prayers, inspirational talks, readings from the Zakariya volumes, calls for volunteers to register for future preaching tours, and in addition a concluding prayer of supplication (du’a).

Ijtimas are being held regularly on fixed days at the local Tabligh centre, usually once a week. They are held at or around prayer times to induce the faithful of the area who come to the mosque for prayers to participate in the Tabligh meeting as well. These ijtimas facilitate social communication and networking among followers.

From these, the grand national meetings stand out in a category of their own. The annual congregations of the Tablighis in Bangladesh, India and Pakistan are remarkable for the huge numbers they attract and the amount of publicity they generate, among the local population, but also on a wider scale in national newspapers and international media. Tablighis use to stress that these meetings represent the second-largest congregation of Muslims after the Hajj. Reports assume that up to two million people participate in the Bangladesh meeting in Tongi, between one and one and a half million in India and Pakistan each. The latter usually takes place at Raiwind, the location of the Pakistani centre of the movement near Lahore. In India, major annual congregations were held at different places, although now they seem to have settled on the longstanding Bhopal ijtima. For about 50 years it was held at its huge mosque Taj ul-Masajid (crown of the mosques) but has shifted recently to open fields outside the city for want of space. The congregations seem to be important venues for mobilising support not only among Muslims, but also among Non-Muslims and secular elites, notably politicians. The Presidents and Prime Ministers of Bangladesh and Pakistan have repeatedly used the meetings to rub shoulders with the praying millions on occasions that are bound to attract mass media attention.[1] The former head of the Afghan Taliban regime, Mulla Omar, was also reported to have attended the Pakistan congregation. In India cooperation with state authorities is smooth and traditional, although less publicity-oriented. Tablighi leaders seem divided over the merits of such huge meetings. Muhammad Yusuf (1917-1965), second Amir of the Indian Tablighi Jama’at, had already emphasised that the regular work in propagating Islam was more important than the meetings. There are attempts made in India nowadays to scale back the national congregations in favour of the regular work.

At the national congregation local Tablighi organisations are represented by formal delegations squatting on the prayer ground behind signboards indicating their place of origin. Also attendance from other countries is a regular feature now as the movement has become truly global. Contrary to assertions made by members of the preparatory committees, a huge organisational effort constitutes the backbone of these congregations. Special departments are created for logistical support (food, sound system, medical services, fire services, security, transport), usually in close cooperation with state authorities for which the organisers are often not charged. Local businesses also provide their services often for free, regarding it as a moral duty and an effective form of ‘product placement’. A huge department takes charge of coordinating the routes of all participants for preaching tours as the congregation winds up with sending off all participants on their respective tours having recharged their motivation and energy.

The increasing social function of the movement is displayed in staging mass marriages (nikkah) celebrated by prominent luminaries of the movement. Also the concluding act, the prayer of supplication (du’a) apparently holds an enormous social importance. It is this prayer which attracts huge additional crowds from among the local population seeking benediction (barakat). It is they who swell the participating numbers to the millions making clear that the actual number of participating Tablighis is significantly less than generally assumed.

The local mosque scheme

The Tablighi activists devote growing attention to a scheme that has slowly but steadily evolved over the past decades, the formation and operation of a local ‘mosque group’ (masjidwar jama’at) in contrast to the travelling preaching group, the Tablighi Jama’at. It considers the local mosque as the basic unit of operation. The details of this scheme have been fixed in a rigid grid of demands that are made on its participants on a daily basis. It rests on the understanding that every potential follower of the movement is always and first member of his local mosque group. This makes the scheme somewhat akin to ideological structures of mobilisation. In particular, one comes to think of the basic units of the Communist movement. In reality, it is only the regulars who are involved in it. It requires

  • to attend all five prayer sessions at your local mosque which are used to fulfil specific functions for the movement;
  • to form a council (shura) which meets daily, and to attend its sessions at one of the prayer times;
  • to spend 2 1/2 hours daily of dedicated Tabligh activities in meeting fellow-Muslims and inviting them on to the path of Allah in an individual capacity which is called ‘meetings’ (mulaqat);
  • to conduct two educational sessions (ta’alim) daily by reading from the Zakariya volumes for about 30 to 45 minutes, one at the mosque and one at home;
  • make two rounds of preaching walks (gasht) per week, around the immediate neighbourhood on one day — which is fixed for every local mosque
  • and around the adjacent mosque area on their fixed day.

As a faithful follower of the movement you will also want to attend the ijtima of your locality which comprises several mosque areas (as mentioned above). Once you engage in all these activities you are certainly counted among the regulars. You will then want to consider also the other obligations which are prescribed for regulars in ascending order one in addition to the other. These in particular suggest to spend a fixed amount of time on Tabligh tours, beside the daily 2 1/2 hours and the weekly two days in your own and the adjacent locality as mentioned above, that is

  • to three days per months on a full preaching tour to another locality in your home region;
  • 40 days per year, called by the Sufi term chilla, generally a longer period of withdrawal or seclusion for contemplation and prayer, which could be to other states or provinces of your country, but also to other countries;
  • the ‘grand chilla ’, consisting of 3 consecutive chillas, once during your lifetime, which equals four months (120 days);
  • for the ardent there are even longer chillas, mostly when going abroad, for a period like 7 months, or on foot across the country for a whole year (Cf. Hasan, 1982: 772).

Committing yourself to these activities puts a heavy burden on the shoulders of every regular. It is not uncommon that those doing so tend to neglect their worldly engagements. At the same time, the mobilising efforts can also have affirmative results. A survey made at Aligarh University in India was said to have shown that the academic achievements of Muslims students who were Tablighi regulars significantly surpassed those of their co-students.

Yet a regular can hardly pursuit his predilection for Tabligh work unless he makes it his lifetime occupation and doesn’t count the hours. This also entails social consequences with regard to Tablighi family life. Several informants suggested during interviews that those families where both partners were actively involved in Tabligh work tended to have fewer children. They would have more simple marriage ceremonies - because they shun ostentatious expenditure – and they have easier divorces - because they don’t ask for bride money, both under the influence of reformist teachings.[2] Young Tablighi activists even seek out the advice of their elders in questions of finding suitable partners tolerant of the demanding Tabligh work.

The leadership question

In its self-representation the movement stresses its egalitarian character. Outgoing preaching groups (jama’at) elect a leader (amir) from among themselves whose orders would be obeyed unquestioningly. Yet he could be any of them, and more important, he is expected to lead through his personal example in his devotion to preaching, praying, religious education, but also in his humble demeanour towards other members of the group, in his readiness to take over ordinary daily chores of cooking or cleaning. Beside this leader of the basic preaching group, the only other leader who is known in public is the national leader of the Tablighis in India or Pakistan (or any other country). The middle rung of leadership is hardly visible to outside observers and not even to irregular participants. Yet the movement is ruled by a clearly defined command structure at every level being both flexible and rigid in turns. It is based on the shura principle gleaned from the Qur’an and the hadith, lead by an amir or a responsible person of varying designation. It is assumed that the Prophet’s practice of consultation with his companions is the example. Council is held in open accessible by all member or interested people, at least in theory. In practice though there is a selection of those attending. And not all business of the movement is conducted in public, if only in the presence of their own followers. There definitely is a closed or secret part of business of the movement which is deliberately kept away from the public eye.

Taking India as an example, where the movement started and its global headquarters are located, the leadership structure comprises the following levels:

  • The lowest level is the travelling preaching group, the Tablighi Jama’at. Leadership here is a temporary assignment for the duration of the tour. As the size of the groups rarely exceeds ten, fifteen people, there is no shura formed here. At this level always an amir is selected, or sometimes appointed.
  • Next comes the mosque group where a shura is formed and in operation. But its composition varies. The regulars of the locality take turns in sharing responsibilities. Its leader would be the ‘decider’ – faisal. While his appointment may be confirmed by higher-standing authorities in the movement, the assignment rotates, even at short intervals like after two or three months.
  • The next higher up level would be the locality where a local shura is in operation. In a city like Aligarh there are two Tablighi centres, one in the university area at the Sir Sayyid Hall Mosque and the other at the old town mosque. The shura has four to five members. Its composition and more so the function of faisal is usually confirmed by the higher up Tablighi leaders, either at the state/provincial level or even at the national level. In the case of Aligarh’s university shura due to its eminent status in the Tablighi movement as a centre of learning and the seat of the most prominent Muslim university it was confirmed by the very leaders of the Tablighi movement in India, the Nizamuddin shura at Delhi. The shura members often keep their post until they die. Age in the Tablighi understanding only adds to authority. This shura would also meet every day, but hold council on the more important affairs of the movement in the locality on the day of the ijtima which for the university area was Sundays.
  • There are also shuras in operation at the level of the Indian states and Pakistani provinces. Some of their leaders were formally designated amir. They conduct the affairs of the movement in their state or province fairly independently. Nowadays the new heads of the shura are preferred to be called by the less formal and presumptuous title faisal.
  • Then there is the central Tablighi shura at Nizamuddin. This name is applied to the current collective leadership and also to a larger ruling council. Ilyas was succeeded as amir first by his son Muhammad Yusuf and than by his grand-nephew In’am al-Hasan (1918-1995). After the latter’s death, a collective leadership took over as the movement could not decide on a single successor. It consisted of the Maulanas Saad al-Hasan (grandson of Yusuf and great-grandson of Ilyas), Zubair al-Hasan (son of Inam) and Izhar al-Hasan (maternal nephew of Ilyas). Inam al-Hasan himself was reported to have contributed to the ‘democratisation’ of the movement as he moved to strengthen the role of the shura against the amir and the role of the daily work (within the mosque group) against ostentatious congregations. After Izhar died, this collective leadership or small shura now only consists of two persons. Among these it is Maulana Saad who has now clearly moved to the centre of the movement. He is seen as the new theoretical, spiritual, and symbolic head of the movement. He seems to be immensely popular with followers as can be judged from reactions to his appearance at the 2002 Bhopal congregation. Maulana Zubair apparently concentrates more on the internal structure and organisation of the movement.

Beside the small circle of collective leadership there is a larger shura in operation at Nizamuddin which consists of elders (buzurg or bare) from all over India and counts approximately 15 members. While it meets daily it holds open council on Thursdays on the occasion of their version of the weekly ijtima. Not all its members attend all its sessions. There is a rotation and sharing of responsibilities at work guaranteeing that issues concerning the reception of incoming or preparation of outgoing preaching groups are not left undecided.

On questioning the impression is given by the movement’s representatives that all issues are decided impromptu. While this may often be the case, a certain amount of paper work is apparently still generated and regular offices are also in operation at the centre. Paper work mainly relates to requests (taqaza) from outlying mosques or madrasas for preachers to be sent to them to strengthen the propagation (tabligh) of Islam for whatever momentary local reason. A number of activists runs regular administrative offices at the centre dealing with incoming and outgoing groups, coordination of their travelling destinations and overseeing the work in the regions and provinces. The role of Chhote Sayyid Bhai (’the younger Sayyid’) may serve as an example, a ‘nom de guerre’ by which a Maulana from Nizamuddin went who was in charge of coordinating travel routes for outgoing preaching groups. He also was a member of the preparation team for the Bhopal ijtima 2002, attended by the author. While he explicitly denied any role of regular administrative work in the running of the movement, he was reported to have his own permanent office at Nizamuddin where he kept a huge oversize chart of all possible destinations of preaching tours in the world, complete with the names and schedules of train and bus stations.

A third group of regular full-timers is indispensable for the running of the movement at the Nizamuddin centre. They occupy no formal office yet they attach themselves to certain leading elders and assist them in carrying out their functions. They are sort of religious ‘interns’. The author talked to some who had graduated from universities and now took time out from their civic life supporting themselves on contributions from family members or sharing meagre resources with other Tablighis to be able to devote their full time to the movement. The less sophisticated among them work as ushers there making sure every incoming or outgoing Tablighi or visitor finds his group or stays in touch with his programme. They also shield the centre’s core activities from stray visitors, particularly non-Tablighis and non-Muslims, foreigners, journalists.

Remarkable is the rather strict spatial separation between local/Indian or South Asian Tablighi and foreign Tablighis both at the centre and at the congregation. At the centre they are directed to different levels in the building, at the Bhopal congregation foreign Tablighis were interned in a separate tent camp on the mosque ground for ‘hygienic and security reasons’. For the foreign Tablighis there are always volunteers around who help with translations and organisation. Many foreign visitors who come on a preaching tour to South Asia not for the first time, have picked up Urdu which evolves as a global lingua franca of the Tablighi community.

The movement’s impact cannot be judged uniformly. While it apparently contributes to a strengthening of religious attitudes, and inculcates even bigotry in some followers, it links many aspiring lower middle class Muslims in South Asia with a moralistic version of modernity. In this it can contribute to the moral and cultural emancipation of selected Muslim strata both in a minority setting such as India or in a Muslim majority society such as Pakistan. It can also prepare the ground for groups professing Sunni radicalism or pursuing some form of militancy. Generally it promotes a quietist, value-laden outlook on life, which can be healing and invigorating for many but debilitating for some. Its most worrisome feature is perhaps its closed character, which can generate enormous pressure on participants, although in an open-society context such as India people find it still easy to withdraw from it if they want to. It is difficult to see that it can expand much further and may have reached its peak. Where it will go from here, whether moving into decline or towards a new quality, will be fascinating to watch for political analysts and religious studies experts alike.

Notes

[1] For the 2000 congregation, see Dawn, 5-7 November 2000; for Bangladesh, see AFP: ‘Muslims stream into Bangladesh for the 34th Biswa Ijtema’, dateline 29 January 2000.

[2] This refers to the Puritanism of the concept of islah, a movement for Quran-based reform of behaviour that emerged in Egypt at the end of the nineteenth century and spread to the whole Islamic world.

Quelle: Dieser Artikel von Dietrich Reetz erschien bereits in: Bredi, Daniela (Hg.) (2004): Islam in South Asia. Roma (= Oriente Moderno, 84:1), S. 295-305.

All teks from : http://www.suedasien.info/analysen/1464

 

Posted in Info Usaha Dawah | No Comments »

Markas London: Untuk Mengislamkan Eropa

Posted by palembangopensuse on February 4th, 2009

Pembangunan masjid terbesar di London yang akan menjadi pusat dakwah dan tabligh di Inggris dan Eropa sekarang sedang berlangsung. Ada penentangan di sana sini terutama dari komunitas non muslim namun semoga bisa berjalan lancar. Amiin. Ini akan menjadi markas islamisasi Eropa terbesar sepanjang sejarah Islam di benua biru tersebut.

Wassalam,

Abu Izza Adduri

Jamaah Tabligh, komunitas Muslim di Inggris sedang bekerja keras meredam berbagai tudingan dan publisitas yang merugikan atas rencana mereka membangun masjid agung di Newham, London Timur tak jauh dari lokasi komplek penyelenggaraan Olimpiade yang akan digelar di Inggris tahun 2012.

Jamaat Tabligh menilai ketakutan publik dan informasi-informasi menyesatkan yang dipublikasikan di media-media massa tentang rencana pembangunan masjid itu, sama sekali tidak beralasan.

Sejumlah media massa di Inggris antara lain memberitakan bahwa pembangunan masjid tersebut belum mendapatkan izin. Namun pihak Jamaat Tabligh menyatakan akan menyerahkan pengajuan izin pembangunan paling cepat bulan September mendatang.

Untuk membantu meredam kampanye dan publisitas buruk terhadap rencana pembangunan masjid itu, Jamaah Tabligh bahkan sampai menyewa jasa Indigo perusahan jasa humas terkemuka di Inggris. Perusahaan ini membuat situs khusus dan membuat pernyataan yang dipublikasikan lewat situs You Tube dalam upaya meredam antipati publik terhadap rencana pembangunan masjid itu.

Salah satu media massa yang melakukan kampanye anti pembangunan masjid itu melalui email adalah tabloid Evening Standard. Sementara itu kelompok kiri British National Party dalam menggelar polling lewat internet dan mengatakan bahwa rencana pembangunan masjid itu, sejauh ini merupakan “simbol terbesar kolonisasi Islam di Inggris. “

Penasehat Dewan Kota Newham Allain Craig yang juga anggota parlemen dari Aliansi Masyarakat Kristen, juga menjadi salah seorang politisi di Inggris yang menentang pembangunan masjid agung di Newham.

Warga Muslim mengecam sikap Craig. “Craig adalah seorang pengecut dan rasis, ” kata Faisal Hammad.

Warga Newham lainnya, Graham Hyde, melontarkan kecaman yang sama. “Para politisi seperti Craig bisa tega menjual ibu-ibu mereka demi beberapa baris berita di media massa, ” tukas Hyde.

“Saya malu dengan cara orang ini menimbulkan perpecahan. Dia harus di pecat dari kantornya, ” sambungnya, seraya menyatakan bahwa keluarganya yang non-Muslim tidak keberatan dengan rencana pembangunan masjid tersebut.

Walikota Inggris Ken Livingstone juga mengecam kampanye yang menentang pembangunan masjid itu. Ia menyatakan, kampanye itu adalah upaya untuk menimbulkan kebencian antara warga Muslim dan Non Muslim. Menurutnya, rencana pembangunan masjid di Newham merupakan tanda harmonisnya hubungan antara masyarakat beragama di Inggris.

Dalam cetak biru rencana pembangunan, masjid yang akan dibangun di atas tanah seluas 18 hektar ini, akan dilengkapi dengan fasilitas sekolah, arena bermain dan taman. Masjid agung ini diperkirakan mampu menampung 12 ribu jamaah.

Kampanye Hitam Jamaah Tabligh

Bukan hanya rencana pembangunan masjid saja yang menjadi target kampanye hitam media massa. Komunitas Jamaah Tabligh sendiri juga menjadi sasaran mereka.

Dalam artikelnya tanggal 21 Mei, surat kabar The Times menyebut Jamaah Tabligh sebagai salah satu “sekte Islam yang tertutup” dan “gerakan keagamaan ultra ortodok. ” The Times mengutip informasi yang diklaim berasal dari lembaga-lembaga intelejen yang menyebut Jamaah Tabligh sebagai organisasi yang mengajarkan ekstrimisme.

Tulisan itu dibantah oleh Abbey Mills Mosque Project yang mewakili Jamaah Tabligh. Mereka menyatakan bahwa Jamaah Tabligh adalah organisasi non politik dan melaksanakan ajaran agama dengan cara damai dan terbuka.

“Untuk itu kami membantah semua tuduhan yang mengaitkan kami dengan segala bentuk terorisme, ” kata juru bicara Abbey Mills Mosque Project.

Sosiolog dari Edinburgh Gerald Hewitt mengatakan, sangat mudah bagi media massa untuk melontarkan tudingan apapun pada Jamaah Tabligh, meski jamaah ini selalu berusaha menunjukkan bahwa mereka melaksanakan ajaran agamanya dengan cara damai dan secara pribadi, tidak berupaya mempengaruhi warga non-Muslim.

“Tidak bisakah orang menghormati hal ini?” tukas Hewitt.

Dalam berbagai wawancara, sejumlah pemuka umat Islam di Inggris juga membantah bahwa Jamaah Tabligh mengajarkan kekerasan dalam dakwahnya. Menurut mereka, kampanye buruk media massa terhadap Jamaah Tabligh merupakan bagian dari Islamofobia yang kini marak di Inggris. (ln/iol)

Pemuka agama Islam di Inggris menyatakan mendukung penuh rencana Jamaah-Tabligh mendirikan sebuah masjid agung di samping Olympic Park, London Timur. Sementara sejumlah warga Muslim menolak rencana itu dengan alasan kelompok Jamaah Tabligh menyebarkan ajaran kekerasan dan ekstrimisme.

Majalah Times yang terbit Senin (27/11) menulis, sekitar 2.500 warga Muslim membuat petisi menentang rencana pembangunan masjid oleh Jamaah Tabligh dengan alasan di atas.

Pemuka Muslim di Inggris, mantan ketua Muslim Council of Britain (MCB), Sir Iqbal Sacranie menilai petisi itu hanya upaya untuk memecah belah warga Muslim Inggris yang jumlahnya hingga saat ini mencapai 1,8 juta orang.

“Masjid merupakan institusi yang penting untuk memberikan pendidikan bagi umat dan untuk melaksanakan fungsinya,” kata Sacranie.

Seorang dokter yang juga tokoh Muslim terkenal di Inggris, Dr. Abdul Majid Oatma, menyerukan warga Muslim lainnya untuk membuat petisi tandingan yang mendukung pembangunan masjid oleh Jamaah Tabligh.

“Kami akan menarik puluhan ribu pendukung pembangunan masjid. Kami menyerukan warga Muslim mempublikasikan petisi tandingan secara besaran-besaran di surat-surat kabar,” katanya seperti dikutip dari Islamonline.

Dukungan atas pembangunan masjid itu juga disampaikan mantan ketua Muslim Association of Britain (MAB), Anas Al-Tikriti. “Kalau saya punya dana dan izin untuk mendirikan masjid yang bisa menampung satu juta orang. Saya akan melakukannya,” ujar Anas.

Ia mengatakan, warga Muslim di Inggris harus berusaha keras agar pada tahun 2012 nanti bisa membangun sebuah masjid di London Olympics, yang bisa menampung warga Muslim dalam jumlah besar dari seluruh dunia.

Konstruksi bangunan masjid Jamaah Tabligh dibuat oleh sejumlah arsitek terkenal. Komplek masjid itu akan memiliki sebuah taman, sekolah dan aula sholat yang mampu menampung puluhan ribu jamaah.

Pembangunan masjid itu berdasarkan sebuah memorandum kesepakatan antara Jamaah Tablihg dan Newham Council pada tahun 2001 yang isinya antara lain “secara prinsip tidak keberatan atas pembangunan masjid baru yang berkualitas tinggi.”

Sementara itu, para pemuka Islam di Inggris juga membantah tuduhan bahwa Jamaah Tabligh menyebarkan ajaran ekstrim dan kekerasan.

Sir Sacranie mengatakan, tidak ada bukti kuat kelompok itu mendukung terorisme atau Al-Qaidah. Jamaah Tabligh, kata Sacranie, cuma gerakan keagamaan dan termasuk kelompok Muslim yang berkembang cepat di Inggris.

Tikriti menilai tuduhan itu sangat aneh. “Semua orang tahu bahwa Jamaah Tabligh adalah kelompok yang damai, anti kekerasan dan menjauhkan diri dari politik,” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa Jamaah Tabligh dikenal dengan sikapnya yang ramah, tenang dan menyebarkan syiar Islam dengan cara yang halus.

Ia menduga sikap penentangan terhadap Jamaah Tabligh, akibat pengaruh media massa, rasa takut dan meningkatnya Islamofobia di Inggris. (ln/iol)

——–

Kekhawatiran akan merusak hubungan masyarakat setempat dan mengganggu persiapan pelaksanaan Olimpiade, menjadi alasan pemerintah Inggris untuk menggagalkan pembangunan masjid di Newham, sebelah timur London.

Surat kabar terbitan Inggris The Sunday Telegraph edisi Minggu (18/2) mengutip pernyataan sejumlah sumber di kalangan pejabat pemerintahan Inggris yang mengatakan, alasan utama pemerintah menolak pembangunan masjid itu, karena lokasinya terlalu dekat dengan lokasi utama pelaksanaan olimpiade.

“Kami akan menghentikannya, agar persiapan olimpiade bisa berjalan lancar, ” kata sumber-sumber tadi.

Seorang pejabat keamanan senior Inggris pada The Sunday Telegraph mengungkapkan kekhawatirannya tentang rencana pembangunan masjid tersebut dan berharap para menteri terkait menggunakan kekuasaannya untuk menolak permohonan izinnya.

Lokasi masjid itu berjarak sekitar 500 yard dari lokasi olimpiade yang akan digelar pada 2012. Bangunan masjid itu nantinya, bisa menampung 70 ribu jamaah, dilengkapi dengan gedung sekolah, taman dan fasilitas tempat pertemuan bagi para atlet dan para supporter dari negara-negara Islam pada saat pelaksanaan olimpiade. Selain itu, masjid tersebut juga akan dijadikan sebagai pusat informasi tentang Islam.

Permohonan pembangunan masjid itu sudah diserahkan ke Departemen Kemasyarakatan dan pemerintahan kota setempat dan sudah disetujui berrasarkan kesepakatan tahun 2001 antara Dewan Newham dan organisasi Jamaah Tabligh. Jamaah Tabligh menjadi sponsor utama pembangunan masjid itu, dengan menyediakan dana sebesar 300 juta poundsterling.

Masjid itu rencananya akan dibangun dengan disain futuristik yang dibuat oleh para arsitek berprestasi yang kerap memenangkan penghargaan.

Menurut The Sunday Telegraph, pembangunan masjid itu sudah mendapat dukungan dari London Thames Gateaway Unitary Development Corporation dan London Development Agency yang memberikan laporannya pada walikota London, Ken Livingstone.

Para pemuka Islam di Inggris juga sudah menyatakan dukungannya atas pembangunan masjid tersebut, dan membantah bahwa Jamaah Tabligh adalah organisasi Islam yang terkait dengan kegiatan terorisme seperti yang kerap dituduhkan pemerintah Inggris.

Jika pembangunan masjid itu terwujud, maka masjid di Newham-yang sekitar 25 persen warganya Muslim- itu akan menjadi masjid terbesar di Inggris. (ln/iol)

Sumber:

Media-isnet

All teks from : http://dalamdakwah.wordpress.com/2009/02/03/markas-london-untuk-mengislamkan-eropa/

Posted in Info Usaha Dawah | 7 Comments »

Bayan Maulana Ismail Uspra: Dakwah ambiya Menyeru Pada Dzat dan Qudrat Alloh

Posted by palembangopensuse on February 4th, 2009

Bayan Maulana Ismail Uspra

Assalamualaikum wbt,

Allah SWT yang mencipta segala-galanya. Segala yang terlihat dan tidak terlihat dicipta oleh Allah SWT. Allah SWT mencipta makhluk adalah untuk ujian bagi manusia supaya mengenal Allah SWT. Allah SWT menjadikan semua makhluk dengan qudrat Allah SWT. Mati dan hidup semua di tangan Allah SWT. Keadaan-keadaan yang wujud di antara hidup dan mati semua Allah SWT yang mewujudkan. Apa yang berlaku dalam semua kehidupan makhluk bergantung dengan qudrat Allah SWT. Apa yang wujud semua dari Allah SWT, ikhtiar manusia juga dari qudrat Allah SWT dan bukan usaha manusia.

Terbentuk kehidupan dan kemusnahan, kebaikan, keburukan bukan bergantung pada makhluk atau asbab tetapi bergantung kepada qudrat Allah SWT. Oleh itu Allah SWT telah hantar nabi-nabi dan rasul-rasul untuk memahamkan kepada manusia supaya menjalani kehidupan ini mengikut kehendak Allah SWT. Begitulah semua 124 ribu nabi dan rasul diutus ke muka bumi ini supaya menyeru manusia kepada beriman kepada Allah SWT. Begitulah seterusnya dakwah Rasulullah SAW.

Baginda SAW menyeru bahwa semua keadaan yang wujud datang daripada qudrat Allah SWT. Apa yang berlaku dan sedang berlaku serta apa-apa yang akan berlaku semuanya datang dari Allah SWT. Inilah dakwah nabi-nabi termasuk Nabi SAW bahwa kejayaan manusia bukan bergantung kepada apa yang diusahakan oleh manusia, akan tetapi bergantung kepada apa yang ditetapkan oleh Allah SWT. Kelemahan manusia ialah yakin manusia terkesan dengan apa yang dilihat memberikan manfaat dan mudharat. Sebenarnya kesan manfaat dan mudharat pada asbab itu bukan dari makhluk tersebut, tetapi Allah SWT yang memberi kesan. Makhluk itu sebenarnya tidak dapat berbuat apa-apa. Maulana memberi contoh mengenai bola lampu dan kabel letrik, sebenarnya benda itu tidak dapat mengeluarkan cahaya tetapi arus letrik itu adalah berpunca daripada generator letrik. Begitulah semua apa yang kita lihat, kebaikan dan keburukan datang dari qudrat Allah SWT. Begitulah dakwah Anbia’ menyeru manusia kepada zat dan qudrat Allah SWT.

Hari ini apabila umat telah tinggalkan dakwah, maka yakin umat dan fikiran umat telah rosak. Semua ini berpunca daripada perbicaraan yang salah dan tidak lagi membicarakan kebesaran Allah SWT. Syaitan datang untuk membawa kita menjadi orang yang didakyahkan kepada perkara bathil. Inilah perbicaraan rata-rata orang Islam di seluruh dunia dimana mereka tidak lagi berbicara tentang kebesaraan Allah SWT, sebaliknya membicarakan kehebatan dunia. Dengan ini manusia yakin pada benda atau asbab yang dibicarakan dan tidak lagi terkesan dengan kekuasaan dan qudrat Allah SWT. Oleh itu kesesatan telah merata di seluruh dunia.

Sesungguhnya kehidupan manusia bukan tebentuk dari harta benda, tetapi kehidupan manusia terbina dengan iman dan amal. Untuk keselamatan dan keamanan usaha atas iman perlu diadakan, dimana manusia akan benar-benar yakin terhadap zat dan qudrat Allah SWT. Allah SWT yang memelihara rezeki seluruh makhluk termasuk diri kita. Dalam pembinaan iman, jangan campur-adukkan kebesaran Allah dengan ghairullah (selain dari Allah).

Melalui usaha dakwah Allah SWT akan kembangkan hidayah ke seluruh alam. Melalui dakwah manusia kepada kebesaran Allah SWT, maka Allah SWT akan memasukan iman dalam diri orang yang membicarakan kebesaran Allah SWT. Begitu juga jika kita dakwahkan kehidupan suci murni Nabi SAW, orang itu yang akan dapat taufik hidayat untuk mengamalkan sunnah-sunnah Nabi SAW, dan kehidupan sunnah akan tersebar. Oleh itu kita perlu membentuk iman supaya wujud suasana iman bukan saja di marhalah kita tetapi di seluruh alam.

Apabila kita tinggalkan dunia ini dalam jazbah orang yang hidupkan usaha Nabi SAW, maka kita akan dibangunkan di hari akhirat bersama Nabi SAW. Oleh itu asas kerja kita perlu usahakan kerja Nabi. Kerja Nabi tidak perlukan harta dan benda tetapi keinginan dalam hati. Jadikan kerisauan dan fikir kita seperti fikir risau Nabi SAW. Apabila pembicaraan mengenai kebesaran Allah SWT telah umum, maka Allah SWT akan wujudkan isti’dat kcpada seluruh umat untuk mengamalkan keseluruhan agama. Allah SWT sendiri akan wujudkan agama di seluruh alam. Oleh itu, kita perlu bergerak membuat kerja Nabi SAW diseluruh alam. Kita perlu bertaubat bersungguh-sunggun kerana tidak menjadikan fikir Nabi SAW sebagai fikir kita dan tidak menjadikan maksud hidup Nabi SAW sebagai maksud hidup kita.

Kita perlu yakin dengan janji Allah SWT. Allah SWT berfirman yang maksudnya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika kami membantu agama Allah, Allah akan membantu kamu”. Allah akan bertindak mengikut sangkaan manusia. Kita perlu berhajat kepada Allah SWT, kita perlu selalu menuju kepada Allah SWT. Kita perlu senantiasa mendengar pembicaraan iman, perlu memberi keputusan untuk menghidupkan kerja Nabi ke seluruh alam hingga akhir hayat kita.

(Dipetik daripada Bayan subuh Maulana Ismail Uspra, Ijtima’ Tongi 2002.)

All teks from : http://dalamdakwah.wordpress.com/2009/02/02/bayan-maulana-ismail-uspra-dakwah-ambiya-menyeru-pada-dzat-dan-qudrat-alloh/

Posted in Info Usaha Dawah | 4 Comments »

All set for Biswa Ijtema from Saturday

Posted by palembangopensuse on February 4th, 2009

All set for Biswa Ijtema from Saturday
City Correspondent

Preparations are almost complete for the 38th Biswa Ijtema, the biggest congregation of Muslims next to Hajj, at Tongi from Saturday.Devotees from around the world will start arriving in a couple of days for the three-day Ijtema that takes place on an area of 160 acres of land on the eastern bank of the river Turag.

Every year, about two million people from home and abroad join the grand meet, organised by the Tablig Jamaat. Devotees from Indonesia, Malaysia, Pakistan, Afghanistan and Middle Eastern countries pray for the divine blessings, unity and prosperity of the Muslim Ummah.

Volunteers have already set up pandals and makeshift camps. Hundreds of devotees from the Kakrail Grand Mosque, other mosques, students from madrassahs and different religious institutions carried bamboo poles, gunny and other necessary things to the spot from as early as October.

The north-western side of the area has been selected for foreign devotees. Separate camps have been set up for different countries with separate arrangements for food, ablution etc. Strong security measures have also been taken.

The Ijtema Committee at a meeting presided by Agriculture Minister MK Anwar last week took 22 decisions to make the annual meet a success without any trouble.

The decisions include smooth supply of water and electricity, arrangement for gas for foreign guests, increasing telephones facilities, round-the-clock medical and fire services, special trains from Dhaka etc.

Meanwhile, the jawans from Bangladesh Army and Navy are working to flatten out land and fill up low-lying areas to make them suitable for use by the devotees. They are also setting up four pontoon bridges over the Turag.

On the other hand, although there are two permanent overhead water tanks, two deep tube-wells and around 50 reserve tanks have been set up. Over 100 pucca and thousands of make-shift toilets are being erected.

Police, army and local administration will have their control rooms to ensure law and order and meet emergency.

Generators for uninterrupted electric supply have been set up while the control rooms will provide telephone facilities.

Tongi Government Hospital will have 30 extra beds for treatment of the devotees. It has opened temporary burn, asthma and diarrhoea units. Six ambulances will be there to bring emergency patients to Dhaka. Besides, fifty doctors will be on duty at four other temporary medical camps.

The first Ijtema was held at Kakrail Grand Mosque in 1946. The second at Chittagong Hajj Camp in 1948. In 1958, it took place at Siddhirganj in Narayanganj. The 20th grand meet was held at a village at Tongi.

Sources said, Tongi became the permanent venue for Biswa Ijtema when the then Pakistan government allowed the organisers in 1967 to use the land by the river Turag. Later Bangladesh government allotted 160 acres for the purpose.

All teks from : http://www.thedailystar.net/2003/12/22/d312222504111.htm

Posted in Info Usaha Dawah | No Comments »

Three million Muslims join mass prayer in Bangladesh seeking peace

Posted by palembangopensuse on February 4th, 2009

TONGI, Bangladesh: Some 3 million Muslim devotees raised their hands in prayer on the sandy banks of a Bangladeshi river on Sunday, seeking global peace and harmony, at one of the world’s biggest religious gatherings, police and organizers said.

The final prayer capped a three-day Islamic gathering near the River Turag in Tongi just north of the capital Dhaka.

“We estimate at least 3 million people are at the prayer. There were about 2.5 million devotees at the final prayer last year,” local police official Kaium Biswas told The Associated Press.

Pilgrims overflowed from the designated riverside venue — a 767-hectare (190 acre) open space — and crowded onto boats, nearby rooftops and streets to watch the proceedings.

President Iajuddin Ahmed, the country’s interim leader Fakhruddin Ahmed and two former prime ministers and longtime rivals — Khaleda Zia and Sheikh Hasina — joined the prayer on the final day of the gathering.

The leaders sat far from each other and had no opportunity to exchange greetings.

Many devotees from the capital left work early Sunday — a normal working day in this mostly Muslim country — to join the prayer.

“It’s a great feeling. I feel proud that I’m among millions of people seeking divine blessings for peace in the world,” said Abdul Malek, who closed his convenience store in Dhaka to join the festival.

Female devotees are not usually allowed to attend, but hundreds of women gathered in nearby villages to take part in the event.

Pilgrims returning home packed trains, buses and ferries, many of them perched on the vehicles’ rooftops. Organizers promised Saturday to provide extra buses and trains to ferry devotees to and from the festival site. Nevertheless, many had to walk for miles (kilometers) because of lack of public transportation.

About 20,000 security officials, including troops, have been deployed to the area to prevent any unrest, said police official Biswas, following months of often violent protests to push for electoral reform.

Abdur Rahim, a spokesman for Tablig Jamaat, an organization of Islamic preachers that sponsored the event, has said several thousands of the worshippers were from outside Bangladesh.

The annual World Congregation of Muslims, or “Bishwa Ijtema,” has been held each year since 1966 on the banks of the River Turag.

Volunteers set up tents and troops installed seven temporary bridges over the river. Security officials watched entry points from watchtowers, and used metal detectors to search for weapons. More than 50 security cameras were installed. Makeshift police camps were set up along the main road toward the Ijtema venue from Dhaka.

The gathering shuns politics and focuses on reviving the tenets of Islam and promoting peace and harmony. Participants discuss the Quran, Islam’s holy book, pray, and listen to sermons by Islamic scholars from around the world.

Bangladesh has a history of bombings by a banned Islamic group, the Jumatul Mujahedeen Bangladesh, comprising extremists who want strict Islamic rule in the Muslim-majority country which is governed by secular laws.

About 87 percent of Bangladesh’s 144 million people are Muslims

All teks from : http://www.iht.com/articles/ap/2007/02/04/asia/AS-REL-Bangladesh-Islamic-Assembly.php

Posted in Info Usaha Dawah | No Comments »

Bishwa Ijtema

Posted by palembangopensuse on February 4th, 2009

The Bishwa Ijtema, (Bangla: বিশ্ব এজতেমা) or (World Congregation) is an annual Tablighi Jamaat Islamic movement congregation held at Tongi, Bangladesh by the river Turag. The event focuses on prayers and meditation and does not allow political discussion.

The first meeting was reportedly held in 1946 (although various sources indicate other dates for this) and continues to be organized by the Bangladesh Tablighi Jamaat. It lasts three days and is attended by over two million Muslims, making it the second largest congregation after the Hajj to Mecca but Hajj is farz(must) on the other hand Ijtema is not Farz. The local police estimated the number of attendees of 2007 ijtema to be 3 million. The program concludes with the Akheri Munajat, or final prayer. The tradition of Ijtema was initiated by an Indian savant named Maulana Ilyas and began as a small group of religious-minded individuals gathering at a local mosque. For forty-one years Tongi has been the chosen location, although similar programs are held on a lesser scale in other countries. The Ijtema is non-political, and therefore perhaps it draws people of all persuasion. Prayer is held for the spiritual adulation, exaltation and welfare of the Muslims community. This immensely popular program gives the people of Bangladesh an opportunity to interact with Muslims from other countries and is commonly attended by prominent political figures.

The congregation takes place at an area comprising 160 acres (0.65 km2) of land (0.25 square mile). Devotees from approximately 80 countries, including the host country, Bangladesh, attend the three-day Ijtema seeking divine blessings from Allah. In recent years, over seven thousands foreign delegates attend the congregatation each year. Special rates are provided by Bangladesh Biman’s world wonder fund.

Despite the large number of devotees living within a confined space, generally there is very few problems of sanitation, cooking, and internal movements. It is believed to be possible because of the minimalist approach adopted by the devotees. Devotees have reduced their own requirements and developed a respect for others’ requirements.

Muhammad Ilyas revived the Tabligh movement in 1927 at Saharanpur of Uttar Pradesh, India and at the same time organized regional congregation or Ijtema. In course of time, Ijtema movement spread throughout the subcontinent and also influenced other regions. After the partition of Bengal in 1947, three Ijtema centres developed in three parts of the subcontinent - India, West Pakistan and East Pakistan. Biswa Ijtema at Tongi is the annual Tabligh congregation of the current Bangladesh (East Pakistan before 1971). In addition to Tongi, Ijtemas are now held in Raiwind, Pakistan and Bhopal, India. However, in terms of popular attendance, the Tongi Ijtema is the largest of all these congregations.

In 2008, the event had to be cut short to only one day due to rain and cold weather which left three attendees dead.

All teks from : http://en.wikipedia.org/wiki/Bishwa_Ijtema

Posted in Info Usaha Dawah | No Comments »

Bishwa Ijtima largest da`wah meeting

Posted by palembangopensuse on February 4th, 2009

DHAKA — Just like every year, Abu Taher joined millions of Muslims from Bangladesh and abroad in three days of worship and Islamic knowledge in the largest gathering of Muslims after hajj. “I have been attending the Tablig-e-Jamaat meeting for the past 40 years,” Abu Taher, 59, told IslamOnline.net on Sunday, February 1.

 

Millions gathered on the banks of the river Turag at Tongi township on the outskirts of the capital Dhaka to attend the Bishwa Ijtima, or the World Muslim Congregation.

The three-day gathering is organized annually by Tablig-e-Jamaat, a Bangladeshi non-political Islamic group.

 Dhaka was deserted on Sunday, a normal working day in Bangladesh, as many residents left their jobs and headed to the venue to attend the final prayers, which make the climax of the event.

Organizers said more than 10,000 foreigners from 108 countries attended this year’s event but that most of the worshippers were rural Bangladeshis.

Taher, who has been a member of the Tablig-e-Jamaat for decades, travels to Ijtima from the town of Bogora, some 250 km away from Tongi.

He recalls how 40 years ago, the meeting was attended by only few thousands.

The first Bishwa Ijtima was held in 1946 and began as a small group of people gathering at a local mosque in Tongi.

It has been held annually since then.

In recent years Bishwa Ijtima drew millions of devotees from Bangladesh, the world’s third-largest Muslim-majority nation, and abroad.

“It has become a very big congregation of Muslims. So we feel proud to attend Ijtima,” one devotee told IOL.

  • Da`wah 

The gathering shuns politics and focuses solely on reviving the tenets of Islam and promoting peace and harmony.

For three days, participants pray, discuss the Noble Qur’an, attend lectures given by scholars from around the world and share notes on ways to spread Islam’s message.

“Preaching Islam in the world is the main target of this three-day Bishwa Ijtima,” Abul Bashar Khan, an engineer who attends the annual gathering, told IOL.   

He added that participants learn during the meeting about new programs for da`wah works.

Mohammad Saiful Islam, mathematics student at the Jahangir Nagar University in Dhaka, comes to listen to speeches by prominent scholars on da`wah.

“I have joined this Tablig-e-Jamaat to develop my faith as a Muslim through da`wah works.”

Mohammad joined in November a four-month da`wah tour with Tablig-e-Jamaat that took him to several religions across the Asian Muslim country.

Mohammad Anisuzzaman, another devotee, is yet to join one of the Tablig-e-Jamaat’s da`wah convoys.

The trip is expected to take him all the way to Russia.

Mohammad Maruf Bin A. Jabber comes to Bishwa Ijtima to gain more knowledge on how to inform people of Islam’s peaceful message.

The businessman believes that joining da`wah is an obligation for every Muslim.

“We are responsible to preach Islam in today’s world.”

All teks from :

http://www.islamonline.com/news/articles/2/Bishwa_Ijtima_largest_dawah_meeting.html

http://www.siasat.com/english/index.php?option=content&task=view&id=324388&Itemid=&cattitle=World

Posted in Info Usaha Dawah | 3 Comments »

Muslims in BD seek global peace

Posted by palembangopensuse on February 4th, 2009

DHAKA, Feb 4: Some three million Muslim devotees raised their hands in prayer seeking global peace and harmony at one of the world’s biggest mass religious congregations, police and organisers said on Sunday.

The final prayer capped a three-day Islamic gathering on the sandy banks of the River Turag outside Bangladesh’s capital, Dhaka.

”We estimate at least three million people are at the prayer. There were about 2.5 million devotees at the final prayer last year,” local police official Kaium Biswas told The Associated Press.

Many of the pilgrims were on boats or on the rooftops of nearby buildings as the crowd overflowed the designated venue.

President Iajuddin Ahmed, the country’s interim leader Fakhruddin Ahmed and two former Prime Ministers — Khaleda Zia and Sheikh Hasina — joined the prayer on the final day of the gathering.

Female devotees are not usually allowed to attend, but hundreds of women gathered in nearby villages to take part in the event.

Volunteers set up tents and troops installed seven temporary bridges over the river. Security officials watched entry points from watchtowers, and used metal detectors to search for weapons.

More than 50 security cameras were installed.—AFP

All teks from : http://dawn.com/2007/02/05/top19.htm

Posted in Info Usaha Dawah | No Comments »

Ijtima Tongi 2009

Posted by palembangopensuse on February 4th, 2009

Doa penutup, akhir munajat, yang dipanjatkan oleh Maulana Zubairul Hasan selama 15 menit mengakhiri pelaksanaan tiga hari (30 Jan – 01 Februari 2009) Ijtima tahunan yang diselenggarakan di atas lahan seluas 77 hektar di tepi sungai Turag, di kawasan Tongi dekat ibukota Bangladesh, Dhaka.

Sebelumnya, Maulana Muhammad Saad Kandahlawi berkenan menyampaikan bayan penutup, akhir bayan. Di Markaz Nizamuddin India, hal seperti ini juga sering terjadi, Maulana Saad yang memberikan bayan, Maulana Zubair yang menutup dengan doa.

tongi11

Tahun ini, ijtima dunia yang lebih dikenal dengan nama “Ijtima Bishwa” ini merupakan ijtima yang ke-46, pertama kali ijtima ini diselenggarakan pada tahun 1966.

Jumlah jamaah yang hadir pada tahun ini diperkirakan lebih dari 3 juta orang, beberapa media bahkan menyebutkan dihadiri lebih dari 5 juta orang. Pertemuan ini sering disebut sebagai pertemuan terbesar kaum muslimin sedunia setelah ibadah haji di Mekkah. Panjang satu shaf rakaat shalatnya saja bias lebih dari 1,5 km. Keramaian orang yang hadir pada ijtima ini dapat kita lihat dari gambar-gambar yang diambil oleh berbagai media di bawah ini.

BANGLADESH-RELIGION-IJTEMA

Lebih dari 10.500 orang jamaah luar negeri dari 152 negara di dunia ini hadir dalam ijtima ini. Para syura dan penanggung jawab Tabligh dari berbagai negara, termasuk Indonesia, hadir dalam ijtima ini. Mereka bermuzakarah & bermusyawarah untuk terus memajukan usaha dakwah ini, termasuk di dalamnya juga membahas berbagai permasalahan yang muncul di masing-masing negara.

Dari dalam negeri sendiri, hampir semua tokoh-tokoh penting negara tersebut selalu menyempatkan diri untuk hadir dalam ijtima ini, termasuk di antaranya, Presiden Bangladesh, Iajuddin Ahmed, lalu perdana menteri, Sheikh Hasina dan tak mau kalah pula pemimpin oposisi, Khaleda Zia. Mereka semua hadir hanya sebagai peserta biasa sebagaimana para peserta lainnya.

Untuk membantu mengantur kelancaran jalannya ijtima, pemerintah Bangladesh mengerahkan tenaga keamanan sekitar 11.000 personil, di samping menjaga keamanan dan kelancaran acara, mereka juga ikut khusyu’ mengikuti acara ini.

BANGLADESH-RELIGION-IJTEMA

Sebagaimana ijtima-ijtima yang diselenggarakan di berbagai belahan dunia lainnya, setiap ijtima adalah bertujuan untuk mengeluarkan sebanyak-banyaknya jamaah yang siap dikirim ke seluruh penjuru alam.

Kita yang pada tahun ini tidak bisa hadir, mudah-mudahan diberi kesempatan untuk bisa hadir di lain waktu. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana kita bisa selalu menjadi bagian dari jamaah-jamaah yang terus bergerak, siang dan malam, infirodi (individu) maupun ijtimai (berjamaah), ketika kita maqami (di kampung kita) maupun intiqali (sedang keluar).

Mudah-mudahan kita juga mendapat bagian dari doa-doa orang-orang yang selalu bermujahadah di jalan Allah yang hadir dalam pertemuan ini. Insyaallah

All teks from : http://aldjo.wordpress.com/2009/02/03/ijtima-tongi-2009/

Posted in Info Usaha Dawah | 1 Comment »

Masjidku yang mulai mendapatkan ruhnya Agama

Posted by palembangopensuse on January 29th, 2009

Palembang, 29/01/2009. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan dan menunjukkan saya jalan untuk selalu dalam agamanya dan Nabi Muhammad SAW yang memberikan contoh-contoh untuk menjadi manusia yang mulia dimuka bumi ini serta sukses dunia dan akherat. Alhamdulilah juga dengan asbab pikir, risau, dan doa-doa hidayah yang dipanjatkan oleh hamba-hambanya Allah SWT diseluruh dunia, masjid (maqomi saya) sekarang ini sudah terbentuk 1 jemaah (8 orang) yang siap menghidupkan amalan 5 amal maqomi dan intiqoli. Kalau dilihat kebelakang beberapa tahun sebelumnya, masya allah berat sekali untuk mencapai kesuksesan seperti sekarang ini. Namun Allah menyayangi dan mencintai kampung kami ini. Allah SWT telah pilih hamba-hambanya untuk memakmurkan masjidnya yang selama ini hanya seperti sebuah gedung yang mewah tetapi kosong dari amalan agama. Sampai sekarang cobaan-cobaan tersebut masih sangat terasa dan masih terjadi. Dimana seperti yang sering dibayankan oleh para karkun dengan istilah Abu jahal, Abu lahab, Abu tholib, dan sebagainya. Fitnah-fitnah masih sering terdengar dan sikap-sikap yang membuat hati ini seperti remuk berkeping-keping dan telinga ini panas terasa  manahan semua itu. Mungkin inilah sedikit dari pengalaman para nabi-nabi dan sahabat serta tabiin dalam melanggengkan agama ini. Dengan taklim kisah-kisah para nabi serta sahabat membuat hati ini menjadi sabar dan tenang dimana belum seberapa dari cobaan yang telah para nabi dan sahabat dapatkan.  Ya Allah istiqomahkanlah hambamu ini dan saudara-saudaraku yang lain di seluruh alam dalam usaha ini, kekalkanlah hidayahmu kepada kami, dan turunkanlah hidayahmu untuk keluarga kami, masyarakat kampung kami, dan seluruh alam. Buatlah masjid ditempat kami hidup amal-amal agama 24 jam sehari semalam, bantulah kami dalam memuliakan dan memakmurkan rumahmu ini ya Allah, kirimkanlah dai-daimu ke masjid kami ini untuk membantu kami dalam usaha agamamu ini ya Allah, Ya Allah berilah kekuatan para karkun2 holaqoh kami ini ya Alllah dalam merealisasikan Agamamu ini dan menyebarkannya sehingga bukan hanya teori tapi juga prakteknya ya Allah, Ya Allah hancurkanlah kemaksiatan dan tempat-tempat maksiat yang banyak berada di holaqoh kami ya Allah.Kerja kami sangat berat sekali ya Allah dimana kemaksiatan dikota ini terbanyak di lahan holaqoh kami ini ya Allah. Buatlah para bos-bos  diskotik, karoeke , panti pijat, lokalisasi, cafe remang-remang ini serta para pekerja baik laki maupun wanitanya semuanya diberikan hidayahmu ya Allah.  Sehingga dengan sendirinya dan kesadarannya sendiri untuk menutup tempat maksiat ini ya Allah, dan merka bisa juga ambil bagian dalam usaha agama mu ini ya Allah, Ya Allah kabulkanlah doa hambamu yang dhoif  serta hati yang penuh kekotoran ini ya Allah, amin ya robbal alamin.

Posted in Info Usaha Dawah | No Comments »

3 days in Nurul Yaqin mosque

Posted by palembangopensuse on January 19th, 2009

Palembang, 19/01/2009. Selesai sholat jumat kemarin jemaah maqomi saya keluar untuk nisab 3 hari ke masjid Nurul Yakin di Simpang Kades KM.11 Palembang. Namun saya disini tidak keluar full dimana hanya malam saja saya i’tikap dan sehabis sholat isroq sudah keluar urusan dunia lagi. Namun pada hari ke-3 sewaktu sholat asyar di masjid Allah ditempat laen ketemu sama karkun disini dimana katanya sudah lama dia tidak keluar dan tidak ikut musyawarah dan ke markas tapi disini dia berusaha masih terpaut dengan masjid sholatnya dan masih memakai pakaian sunnah kalau ke masjid ini, program maqomi juga tidak jalan. Buku talkim malah ada dirumah untuk taklim infirodinya sedangkan dimasjid tidak ada. Oleh karena itu saya mencoba untuk mengajaknya ikut i’tikap bersama jemaah dan saya akan menjemput dia setelah mengantarkan teman kerja urdu saya dulu dan sebelum magrib supaya kami bisa sudah ada di masjid tempat jemaah keluar. Pas sekali waktu tiba di sini jemaah sudah mau melakukan adab-adab jaulah untuk sehabis magrib nanti dimana takrir akan dilakukan. setelah selesai berwudu’ dan sholat tahiyatul masjid kita bergabung dan membentuk lingkaran dan disini sewaktu Amir shaf menanyakan siapa yang siap menjadi mutakalim saya menawarkan diri (karena ingat kata Mas Landi di YM bahwa dengan mutakalim akan membantu kita dalam menguatkan iman dan mendakwakan kalimat toyyiba kepada umat muslim). Setelah melakukan adab jaulah kita semua mempersiapkan diri untuk sholat magrib, dan setelah sholat dan takrir dimulai saya dan temen-temen laen yang bertugas jaulah keluar mempersiapkan diri dengan memulai doa hidayah dan lain sebagainya yang dipimpin oleh Amir. Jaulah berjalan lancar namun  ada sedikit gangguan sedikit. Dimana sewaktu kita mau memasuki kira-kira 4 rumah dari masjid dan dimana tuan rumah mempersilahkan saya dan dalil masuk dan sayapun langsung melakukan tugas saya sebagai mutakalim. Hampir selesai bicara dengan tuan rumah tiba jemaah diluar dikagetkan dengan adanya seekor ular hitam 9bukan kobra, diameternya +-10 cm dan panjangnya +-2 m) yang tiba-tiba muncul dibelakang Amir dan melingkarkan tubuhnya dan kepala agak berdiri sedikit dan tepat leher dan  kepala serta tujuannya seperti mengikuti arah jalan kami waktu masuk kerumah itu. Ular tersebut diam saja tidak bergerak dan kita disini membiarkan saja ular tersebut disitu. dan kita melewati jalan lain dan langsung menuju rumah saudara muslim lainnya. Alhamdulillah sewaktu takrir sehabis magrib jemaah tempatan bisa ikut duduk mendengarkan dimana hasil musyawarah Pak Dokter Joni melakukan zihin sebelum doa tapi tidak bisa namun setelah doa Pak dokter dengan cekatan berusaha memanfaatkan waktu. Alhamdulilah jemaah tempatan bisa didudukkan dalam majelis yang mulia ini. Dan alhamdulliah juga dari doa, risau, pikir, dan kerja yang dilakukan oleh jemaah insya allah ada 3 saudara muslim disini yang ingin ikut belajar mengorbankan harta,diri, dan waktu dijalan Allah SWT. Mereka nanti akan diikutkan dengan jemaah yang nisab  setelah kami dari maqomi tetangga. Mudah-mudahan dengan asbab pikir risau dan doa mereka nanti masjid mereka ini bisa juga hidup 5 amal maqomi dan intiqoli. Amin.

Posted in Intiqoli | No Comments »

Jamaah Tabligh Tidak Memiliki Kartu Keanggotaan

Posted by palembangopensuse on January 11th, 2009

Jika seseorang diajak mereka untuk keluar dijalan Allah SWT yang disebut Tasykil dalam istilah mereka, maka cukup mendaftarkan dirinya dengan mencatat nama di Tim Tasykil yang mereka tunjuk. Kemudian orang itu akan dimasukkan ke jamaah yang sudah dibentuk sekitar 10 orang atau lebih (jamaah minimal berjumlah 3-4 orang). Didalam jamaah ada orang yang sudah lama aktif dalam Tabligh, ada orang baru, ada ustadz, bahkan terkadang ada Hapidz Al Qur’an. Tidak ad kartu anggota yang diberikan kepada jamaah, sehingga tidak seperti organisasi yang memiliki kartu keanggotaan. Pernah ada seorang yang ikut dengan mereka namun disebabkan kekecewaan oknum didalam Tabligh (mungkin soal muamalah, atau muasyaroh) maka orang itu katakan “saya akan keluar dari Jamaah Tabligh” . Maka mereka katakan “Bagaimana anda akan keluar dari tabligh sedangkan anda tak pernah masuk tabligh, sebab di tabligh tak ada keanggotaan”.  Mereka beranggapan bahwa tabligh bukanlah sebuah nama jamaah tetapi tabligh adalah sebuah kerja yang harus dibuat oleh seluruh orang Islam tanpa terkecuali. Bahkan diantaranya berkata “kami di tabligh bukan disuruh untuk masuk tetapi kami disuruh keluar, yakni keluar dijalan Allah SWT.

Posted in Buku, Melepas Kedok Jamaah Tabligh Oleh Abu Muhammad Fahim | 1 Comment »

Asal Usul Nama Jamaah Tabligh

Posted by palembangopensuse on January 9th, 2009

Nama Jamaah Tabligh sendiri sampai sekarang tak ada yang tahu dari mana asalnya. Karena orang tak akan temukan plang-plang nama didepan masjid yang menjadi markaz mereka sebagaimana layaknya organisasi atau kelompok seperti secretariat ….. (maaf saya sensor ya karena ada nama2 organisasi islam laen), tak ada kop surat yang bersimpul “Tabligh”,kaos, spanduk, selebaran, yang memprogandakan kelompok misalnya bentuk partai. Dan yang menarik mereka tak menarik dana dari manapun, tak ada rekening bank yang mewakili mereka untuk di transfer sebagai dana perjuangan seperti harokah lain. Kenyataan yang aneh mereka bias pergi melanglang buana ke seluruh dunia tanpa terkecuali, orang kaya, orang miskin, petani, pejabat, tukang somay, dan lain-lain. Seorang yang awam dari mereka jika ditanya tentang dari mana ia dapatkan dana? Mereka selalu katakana dari Allah SWT…..! sumber dana mereka berasal dari kantong-kantong mereka sendiri karena mereka membuat tertib “berjuang dijalan Allah SWT dengan harta dan diri sendiri”. Sedangkan nama Jamaah dinamakan oleh orang-orang yang tak simpati kepada gerakan mereka, ada yang menamakan JT (di Jakarta) tetapi kalau di Palu namanya “Musafir”, di India dan Pakistan orang cukup katakan “Jamaah” langsung paham kalau itu mereka. Ada juga yang katakana Jamaah Jenggot, Jamaah Sarung, Jamaah Kompor, Jamaah Sendalan, bahkan yang ekstrim mereka katakana Jamaah pengangguran karena selalu berada di Masjid. Tetapi orang-orang yang menjadi penanggung jawab jika ditanya tentang jamaah mereka, mereka akan cerita tentang Syaikh besar mereka yakni Syaikh Maulana Ilyas ra. Yang pernah mengatakan : “Jika saya disuruh namakan Jamaah yang saya buat ini akan saya namakan Jamaah Pergerakan Iman, tetapi kita tak boleh menambah nama dalam Islam dengan nama. Salah seorang ulama mereka Syaikh Maulana Jamil didalam ceramahnya mengatakan : “Jangan mengatakan kita orang Tabligh karena perkataan itu memecah belah umat islam”.

Posted in Buku, Melepas Kedok Jamaah Tabligh Oleh Abu Muhammad Fahim | No Comments »

Misteri Jamaah Tabligh

Posted by palembangopensuse on January 9th, 2009

Tiba-tiba saja dunia heboh ketika menyaksikan dijalan-jalan, dikantor-kantor, tempat perbelanjaan, dipasar terlihat laki-laki berjenggot dan memakai gamis, celana diatas mata kaki berjalan dengan bebasnya, tak terkesan suasana dan keadaan.

Adat memakai kopiah bagi laki-laki dan bercadar bagi wanita mulai hidup ditengah-tengah masyarakat dan terasa tak tabu lagi. Ada apa gerangan?….Pemandangan kontras terjadi disekitar Masjid Jami’ Kebon Jeruk yang menjadi pusat kegiatan seluruh Indonesia. Bagi satu jemaah yang dinamakan oleh kebanyakan orang yakni Jamaah Tabligh.

Ditengah hingar bingarnya kota Jakarta dengan kehidupan malam yang berbau sex, dan kriminal (obat-obatan, minuman, dan lain-lain), ada kumpulan orang yang terlihat bergamis sopan, selalu tundukkan pandangan bahkan tak memandang sedikitpun kepada wanita-wanita yang lalu lalang dengan pakaian seronok.

Pemuda-pemuda yag biasa menghabiskan masanya dengan hura-hura terlihat begitu antusias dalam mengamalkan agama, orang kaya dengan mobil mewah terlihat tawadu’ tak menampakkan kekayaannya, padahal konon menurut mereka terkadang yang hadir dalam pertemuan mereka dimalam jum’at  ada pejabat pemerintah yang biasanya gila hormat, keluarga pejabat, dan sebagainya ( ada mantan menteri, keluarga menteri, tentara, polisi, artis, dan lain-lain)  namun tak terlihat perbedaan diantara mereka. Masya Allah !…..

Posted in Buku, Melepas Kedok Jamaah Tabligh Oleh Abu Muhammad Fahim | No Comments »

Kata Pengantar

Posted by palembangopensuse on January 9th, 2009

Sebagai seorang pengamat harokah di Indonesia, saya tertarik dengan ucapan pimpinan Jamaah Tabligh (Istilah yang penulis pakai buat orang yang kerja Da’wah di Masjid Jami’ Kebon Jeruk) di Indonesia, ketika seorang ustadz kritik Jamaah Tabligh. Beliau(almarhum) katakan : Jangankan kerja Tabligh, “Kentut Tabligh” saja anda tak paham.

Setelah saya amati program yang diadakan yakni Khuruj Fi Sabilillah ternyata kerja Tabligh yang mereka buat seperti khazanah lautan yang tak habis jika digali.

Orang menyangka bahwa karang adalah lautan, air adalah lautan, ada yang mengatakan juga ikan, rumput laut, pasir dan sebagainya. Padahal lautan adalah kumpulan dari itu semua secara menyeluruh.

Kebanyakan pencemooh Jamaah Tabligh hanya melihat sebagian dari kerja Jamaah, sehingga terlihat kekurangan disana sini seperti anggapan mereka tentang bodohnya ahli jamaah dalam hal Masail, hukum Islam, dan sebagainya.

Kalaulah kita mau melek sedikit, membuka hati, dan mau menerima kekurangan mereka, maka dibalik itu ada suatu kekuatan yang akan menjadi harapan bagi kejayaan umat Islam.

Mereka tampil dipermukaan, berjalan ditengah manusia dengan segala kekurangan, tetapi hati mereka tawajjuh kepada Allah SWT, sehingga Allah tampakkan bantuan-Nya keatas mereka.

Banyak negeri yang sudah didirikan Markaz Da’wah mereka, tak ada sesuatu kekuatanpun yang bisa membendung mereka laksana air bah.

Islamisasi disegala bidang tak terlihat tetapi dapat dirasakan oleh ummat. Mereka tak suka expose di media masa, hasil kerja mereka hanya untuk menyenangkan Allah SWT dan RasulNya.

Dalam buku ini saya mencoba melepas sedikit tirai/kedok mereka yang masih tersembunyi dimata orang awam, agar mereka objektif menilai kelebihan dan kekurangan Jamaah Tabligh, dan tidak mendengar dari satu pihak yang memiliki hasad terhadap hasil kerja mereka.

Walaupun saya menyadari tak dapat menjelaskan itu semua secara gamblang karena perlu keseriusan dalam hal ini juga penyertaan diri dalam program khuruj fi sabilillah bersama mereka, namun semoga saja sedikit apa yang saya ketahui ini dapat menjadi jembatan persatuan ummat agar tidak saling mencaci dan mencari-cari kesalahan saudara muslim, sehingga hari demi hari kita sibuk memikirkan bekal kita utuk berjumpa dengan Allah SWt.

Dan akhirnya sayapun akui bahwa “Kentut Tabligh” saja saya tak tahu.

Catatan : Dalam buku ini saya gunakan nama Jamaah Tabligh untuk menyebut orang-orang ahli dakwah karena hal ini sudah masyur di kalangan dakwah.

Posted in Buku, Melepas Kedok Jamaah Tabligh Oleh Abu Muhammad Fahim | 3 Comments »

Hati

Posted by palembangopensuse on January 4th, 2009

Dunia punya hati, hatinya dunia manusia, apabila hatinya baik maka dunianya baik, apabila hatinya buruk maka dunianya buruk.

Hatinya malam > Sholat Tahajud

Hatinya Qu’ran > Surat Yasin

Hatinya Kampung > Masjid

Hatinya Masjid > Sholat berjemaah.

Posted in Muzakaroh Dokumentasi Penulis Waktu 4 bln | 1 Comment »

7 tertib nusroh :

Posted by palembangopensuse on January 4th, 2009

1. Tafakud lengkap

2. Beri hadiah / targhib iman yakin

3. Bantu khidmat / mati kompor

4. Rute dengan jelas

5. Ikut i’tikaf

6. Satu hati

7. Antar ketempat tujuan berikutnya

Posted in Muzakaroh Dokumentasi Penulis Waktu 4 bln | 1 Comment »

9 target Da’i

Posted by palembangopensuse on January 4th, 2009

1. Meningkatkan amalan

2. Tahu tugas

3. Merisaukan umat

4. Pembawa rahmat

5.  Menyatukan umat

6. Membuat suasana agama baik maqomi dan intiqoli

7. Tidak cinta dunia, tidak terkesan dengan suasana dan keadaan

8. Sami’na wa attho’na

9. Mencapai target kalimat laa ilahaillallah diakhir hayatnya

Posted in Muzakaroh Dokumentasi Penulis Waktu 4 bln | No Comments »

6 cara mendapatkan nusrotullah :

Posted by palembangopensuse on January 4th, 2009

1. Jaga satu hati

2. Jaga amalan istima’i dan infirodi

3. Satu pikir

4. Khidmat melayani dengan ikhlas

5. Mengikuti tata tertib 20 usul da’wah

6. Mengamalkan sunnah 1 x 24 jam

Posted in Muzakaroh Dokumentasi Penulis Waktu 4 bln | No Comments »

15 Cara meredam emosi :

Posted by palembangopensuse on January 4th, 2009

1. Tidak suka tidur

2. Tidak suka makan yang enak-enak.

3. Selalu menyalahkan diri sendiri

4. Selalu mengucapkan salam

5. Tidak berteman dengan orang kaya

6. Menghormati orang berilmu

7. Menutupi kesalahan saudaranya

8. Tidak mencintai hobbi dunia

9.  Selalu berteman dengan orang miskin

10. Suka memberi makan orang miskin

11. Mencintai sunnah nabi, meninggalkan cinta dunia

12. Sabar menerima apa adanya

13. Suka  melihat kebawah

14. Harus bijaksana dan hati-hati.

15. Sering puasa sunnah.

Posted in Muzakaroh Dokumentasi Penulis Waktu 4 bln | No Comments »

13 Sifat untuk satu hati :

Posted by palembangopensuse on January 4th, 2009

1. Mahabah / kasih sayang.

2. Sebarkan salam.

3. Saling ikrom.

4. Saling menghormati.

5. Hindarkan perbedaan pendapat.

6. Jangan menyakiti hati orang lain.

7. Jangan sombong

8. Melihat kebaikan orang lain.

9. Utamakan ijtima’iyat

10. Hindarkan senda gurau

11. Jaga taat pada Amir

12. Jaga akhlak

13. Saling do’a mendo’akan.

Posted in Muzakaroh Dokumentasi Penulis Waktu 4 bln | No Comments »

13 cara untuk menjaga satu hati :

Posted by palembangopensuse on January 4th, 2009

1. Niat islah diri.

2. Taat pada putusan musyawarah.

3. Jaga amalan ijtima’i.

4. Rela berkorban.

5. Tingkatkan ikrom pada orang lain.

6. Lihat kebaikan orang lain dan sebaliknya lihat keburukan kita.

7. Ambil takaza yang berat.

8. Tertibkan diri sendiri.

9. Beri kelonggaran pada orang lain.

10. Ikhlas dan istikhlas.

11. Hargai pengorbanan orang lain.

12. Bandingkan korban kita dengan korban sahabat.

13. Ini kerja saya orang lain hanya membantu.

Posted in Muzakaroh Dokumentasi Penulis Waktu 4 bln | No Comments »

10 Ikrom Isteri :

Posted by palembangopensuse on January 4th, 2009

1. Hak rumah tangga dipenuhi dan dicukupi.

2. Ikrom anak didepan isteri.

3. Bawa jalan-jalan silaturahmi.

4. Masakannya dipuji.

5. Puji bila tampak kebaikannya.

6. Beri hadiah.

7. Cerita dimalam hari.

8. Jaga akhlak.

9. Hias diri.

10. Doa’kan.

Posted in Muzakaroh Dokumentasi Penulis Waktu 4 bln | 1 Comment »